Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergey Shoigu, melontarkan peringatan serius mengenai potensi penyebaran senjata nuklir Amerika Serikat di kawasan Pasifik. Ia menyebut Australia sebagai salah satu negara yang berpeluang besar menjadi markas persenjataan nuklir tersebut di masa depan.
Pernyataan ini disampaikan Shoigu dalam forum pertemuan Rusia-ASEAN yang berlangsung pada Rabu lalu. Selain Australia, Rusia juga menengarai bahwa Washington tengah membidik Jepang dan Korea Selatan sebagai lokasi penempatan senjata pemusnah massal mereka.
Potensi Penempatan Rudal Typhon di Asia-Pasifik
Kekhawatiran Rusia ini didasarkan pada rencana pergerakan militer Amerika Serikat yang semakin intensif di wilayah Asia. Militer AS dikabarkan segera mengerahkan sistem rudal Typhon ke wilayah Jepang bagian barat daya untuk mendukung latihan gabungan Valiant Shield dan Orient Shield.
Sistem rudal Typhon memiliki kapabilitas khusus yang menjadi perhatian dunia internasional karena dirancang untuk meluncurkan rudal Tomahawk. Rudal jenis ini dikenal luas memiliki kemampuan untuk mengangkut hulu ledak nuklir ke sasaran yang ditentukan.
Pihak Kedutaan Besar Jepang di Moskow sendiri telah memberikan tanggapan mengenai keberadaan alutsista canggih tersebut. Mereka menyatakan bahwa sistem Typhon hanya akan disimpan di pangkalan militer AS di Jepang setelah rangkaian latihan selesai dilaksanakan.
Jepang juga menegaskan bahwa langkah penyimpanan ini tidak bisa dikategorikan sebagai penempatan senjata secara permanen di wilayah mereka. Namun, Shoigu tetap bersikeras bahwa persiapan untuk menampung senjata nuklir Amerika sedang dilakukan oleh Tokyo dan Seoul.
Dampak Aliansi Strategis AUKUS bagi Australia
Dalam forum tersebut, Shoigu menyoroti posisi Australia yang semakin erat dengan kepentingan militer Amerika Serikat. Ia memprediksi bahwa senjata nuklir AS sangat mungkin berakhir di wilayah Australia akibat keterlibatan negara tersebut dalam pakta AUKUS.
Sebagai informasi, Australia telah resmi bergabung dalam kemitraan keamanan AUKUS bersama Inggris dan Amerika Serikat sejak tahun 2021. Kerja sama strategis ini menjadi pilar utama perubahan kekuatan militer di kawasan tetangga Indonesia tersebut.
Berikut adalah poin-poin utama terkait kesepakatan dalam kemitraan AUKUS:- Penyediaan teknologi nuklir tingkat tinggi dari Amerika Serikat untuk memperkuat armada laut Australia.
- Produksi dan operasional kapal selam bertenaga nuklir kelas Virginia oleh Angkatan Laut Australia.
- Peningkatan integrasi teknologi pertahanan dan intelijen di antara ketiga negara anggota.
- Penguatan kehadiran militer sekutu di wilayah perairan Indo-Pasifik untuk mengimbangi pengaruh negara lain.
Melalui kesepakatan ini, Australia akan memiliki kemampuan operasional laut yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Hal inilah yang memicu kekhawatiran Rusia akan adanya eskalasi militer yang melibatkan senjata nuklir di kawasan tersebut.
Hingga saat ini, ketegangan antara negara-negara besar di kawasan Asia-Pasifik terus menjadi sorotan global. Langkah Amerika Serikat dan sekutunya dipandang Rusia sebagai ancaman stabilitas yang dapat memicu perlombaan senjata baru di masa mendatang.