Pemerintah Rusia memberikan kritik tajam terhadap eksistensi NATO yang dianggap selalu membutuhkan konflik demi mempertahankan relevansinya. Moskow menilai bahwa blok militer tersebut sengaja menetapkan Rusia sebagai ancaman utama di kawasan Eropa untuk membenarkan keberadaan organisasi mereka.
Pernyataan ini dilontarkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Alexander Grushko, di tengah situasi keamanan yang kian memanas. Ia menyebutkan bahwa strategi NATO saat ini memang dirancang untuk selalu berada dalam kondisi konfrontasi.
NATO dan Ketergantungan pada Konflik
Menurut Alexander Grushko, NATO tidak akan bisa bertahan tanpa adanya musuh atau situasi perang yang mengancam. Ia mengibaratkan organisasi pertahanan pimpinan Amerika Serikat tersebut seperti makhluk hidup yang kehilangan habitat aslinya jika dunia berada dalam kedamaian.
"NATO tidak dapat eksis dalam kondisi damai—seperti ikan yang keluar dari air," ujar Grushko dalam keterangannya.
Grushko menambahkan bahwa peran sebagai musuh besar di Eropa diberikan secara sepihak kepada Rusia demi kepentingan kolektif blok tersebut. Tanpa adanya sosok lawan yang signifikan, fungsi pertahanan kolektif yang menjadi fondasi NATO akan kehilangan urgensinya di mata dunia.
Perubahan Paradigma Sejak Dekade Lalu
Dalam sebuah wawancara dengan media Russia Today pada Kamis lalu, Grushko menjelaskan bahwa perubahan sikap NATO dan Uni Eropa terhadap Rusia mulai terlihat signifikan pada periode 2010 hingga 2012. Pada masa itu, blok militer tersebut mulai mengalihkan fokus operasional mereka.
Setelah mengakhiri misi panjang dan berbiaya besar di Afghanistan, NATO kembali ke visi awal mereka sebagaimana saat era Perang Dingin. Fokus utamanya adalah memperkuat pertahanan kolektif untuk menghadapi kekuatan besar di benua Eropa.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai pergeseran strategi NATO menurut pandangan Rusia:
- NATO membutuhkan narasi musuh besar untuk membenarkan anggaran militer dan eksistensi organisasi mereka di kancah global.
- Berakhirnya misi di Afghanistan memicu pencarian target baru guna memfokuskan kembali kekuatan militer ke wilayah Eropa.
- Rusia dipilih sebagai target utama untuk mengisi kekosongan peran musuh dalam skema pertahanan kolektif negara-negara Barat.
Penjelasan tersebut merujuk pada analisis Moskow mengenai pola kebijakan luar negeri negara-negara Barat yang dianggap sengaja menciptakan polarisasi keamanan. Rusia menilai NATO gagal beradaptasi dengan tatanan dunia yang tidak berbasis pada persaingan militer antarkekuatan besar.
Ketegangan di Wilayah Perbatasan
Isu mengenai eksistensi NATO ini muncul di tengah meningkatnya serangan pesawat nirawak (drone) oleh Ukraina yang menyasar jauh ke dalam wilayah kedaulatan Rusia. Dalam beberapa insiden terbaru, puing-puing drone tersebut dilaporkan jatuh di wilayah negara anggota NATO yang bertetangga langsung dengan Rusia.
Kondisi ini semakin memperkeruh suasana diplomatik antara Rusia dengan negara-negara di kawasan Baltik. Moskow melayangkan tuduhan serius bahwa Ukraina menggunakan wilayah negara-negara tersebut sebagai pangkalan atau jalur peluncuran serangan ke Rusia.
Daftar negara Baltik yang disebut dalam ketegangan perbatasan ini adalah sebagai berikut:
| Negara Anggota NATO | Respons terhadap Tuduhan Rusia |
|---|---|
| Latvia | Membantah keras keterlibatan dalam serangan drone Ukraina. |
| Estonia | Menolak klaim bahwa wilayahnya digunakan untuk menyerang Rusia. |
| Lithuania | Menyatakan tuduhan tersebut tidak berdasar dan merupakan provokasi. |
Meskipun Rusia bersikeras pada tuduhan tersebut, ketiga negara Baltik itu secara konsisten membantah telah mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk operasi militer Ukraina. Situasi di perbatasan tetap dipantau ketat seiring dengan desakan dari berbagai pihak, termasuk Presiden Ceko, agar NATO bersikap lebih tegas terhadap manuver Rusia.