Review The Boys Season 5: Kelebihan, Kekurangan, dan Akhir yang Mengejutkan di 2026

Review The Boys Season 5: Kelebihan, Kekurangan, dan Akhir yang Mengejutkan di 2026
Foto: Review The Boys Season 5: Kelebihan, Kekurangan, dan Akhir yang Mengejutkan di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Serial The Boys yang dikenal dengan nuansa pahlawan super yang kelam dan brutal merupakan salah satu tayangan unggulan di layanan Prime Video. Musim kelimanya yang menjadi babak penutup baru saja merampungkan seluruh episodenya pada Rabu, 20 Mei 2026 kemarin.

Musim terakhir ini menjadi titik akhir dari konflik panjang antara Billy Butcher (Karl Urban) melawan Homelander (Antony Starr) yang sudah memanas sejak 2019. Meski telah dinantikan, The Boys Season 5 ternyata menerima respons yang cukup beragam dari para penggemarnya.

Beberapa penonton merasa puas dengan cara serial ini diakhiri, namun banyak pula yang melontarkan kritik karena eksekusinya dianggap kurang maksimal. Mari kita ulas lebih dalam mengenai apa saja keunggulan dan titik lemah dari penutup kisah para Supe ini.

Alur Cerita yang Kurang Terfokus

Sebagai sebuah musim penutup, alur cerita The Boys Season 5 dinilai cukup berantakan karena terlalu banyak menyisipkan konten promosi untuk serial spin-off. Banyak adegan yang terasa seperti jembatan menuju judul baru bertajuk Vought Rising.

Billy Butcher dan timnya masih melanjutkan rencana besar mereka untuk melenyapkan Homelander dengan virus khusus yang telah diciptakan. Namun, bagi Anda yang mengharapkan momentum klimaks yang terus memuncak, musim ini mungkin akan terasa sedikit mengecewakan.

Penyebab utama dari alur yang terasa kurang fokus dalam musim ini adalah:

  • Subplot Berlebihan: Munculnya banyak cerita sampingan yang tidak terlalu penting sehingga mengaburkan alur utama pembunuhan Homelander.
  • Durasi Terbuang: Plot pencarian serum V1 menghabiskan waktu hingga tiga episode, yang sebenarnya bisa diringkas lebih padat.
  • Karakter Baru Tidak Signifikan: Kehadiran tokoh baru seperti Oh Father (Daveed Diggs) dan Bombsight (Mason Dye) justru membuat struktur cerita menjadi semakin rumit tanpa memberikan dampak besar.

Banyaknya elemen baru ini justru menghambat pembangunan ketegangan yang seharusnya menjadi fokus utama menjelang akhir cerita. Akibatnya, esensi sebagai penutup saga yang epik menjadi sedikit terabaikan.

Perkembangan Karakter yang Tetap Solid

Di balik kekurangannya dalam hal plot, musim kelima ini tetap patut diacungi jempol karena berhasil memberikan perkembangan karakter yang sangat kuat. Setiap tokoh utama diberikan ruang untuk menyelesaikan konflik personal mereka dengan cara yang memuaskan.

Beberapa episode sengaja didedikasikan untuk menyoroti motivasi dan peran penting dari karakter pendukung. Hal ini membuat penonton tetap merasa terikat secara emosional dengan perjalanan masing-masing individu di dalam tim.

Berikut adalah ringkasan perkembangan beberapa karakter kunci di musim terakhir:

Karakter Perkembangan dan Peran di Season 5
Frenchie Berperan sebagai penengah tim saat terjadi ketegangan internal, selain menjadi ahli kimia.
Starlight Berhasil berdamai dengan masa lalu dan keluarganya, serta memantapkan kekuatannya melawan Homelander.
Homelander Ditampilkan lebih rapuh dengan gangguan mental yang mendalam, tidak lagi hanya sekadar sombong.
Bombsight Meskipun karakter baru, ia diberikan latar belakang cerita yang cukup solid dalam musim ini.

Penggambaran sisi manusiawi dan kerapuhan Homelander melalui God Complex-nya memberikan dimensi baru bagi sang antagonis. Hal ini menunjukkan bahwa serial ini masih sangat unggul dalam menciptakan kedalaman karakter.

Minimnya Adegan Aksi yang Megah

Satu hal yang cukup mengejutkan adalah penurunan intensitas adegan aksi yang biasanya menjadi ciri khas serial ini. Sebagai musim final, ekspektasi penonton akan pertempuran besar yang destruktif ternyata tidak terpenuhi sepenuhnya.

Pertarungan puncak antara Billy Butcher dan Homelander justru terjadi di lokasi tertutup dengan skala kerusakan yang tergolong minim. Padahal, konfrontasi tersebut melibatkan individu-individu dengan kekuatan luar biasa yang seharusnya bisa memicu adegan yang lebih kolosal.

Adegan aksi yang paling mengesankan justru terjadi di awal musim saat pengejaran antara A-Train dan Homelander. Setelah momen tersebut, sisa musim lebih banyak didominasi oleh dialog dan pertarungan skala kecil yang kurang memanfaatkan teknologi CGI secara maksimal.

Bahkan, elemen kebrutalan (gore) yang biasanya sangat eksplisit terasa berkurang drastis pada musim ini. Hal ini cukup disayangkan bagi para penggemar yang menyukai estetika aksi khas The Boys sejak musim pertama.

Kualitas Audio dan Musik yang Imersif

Meskipun dari sisi visual aksi terasa berkurang, aspek tata suara pada musim kelima ini tetap dieksekusi dengan standar yang sangat tinggi. Desain audio berhasil membangun atmosfer yang tepat dalam setiap adegan yang ditampilkan.

Musik pengiring atau scoring yang digunakan mampu meningkatkan rasa tegang, terutama saat momen-momen yang memperlihatkan ketidakstabilan mental Homelander. Penggunaan musik yang terkesan liar dan berantakan sukses membuat penonton merasa tidak nyaman di saat yang tepat.

Selain itu, efek suara latar juga terdengar sangat nyata dan memberikan bobot pada setiap gerakan karakter. Suara saat Homelander terbang atau mendarat digambarkan dengan efek menggelegar layaknya pesawat jet yang sangat kuat.

Detail pada suara pertarungan fisik juga tidak kalah menarik, di mana setiap pukulan terasa memiliki beban yang nyata. Kualitas audio ini menjadi salah satu elemen yang membantu menjaga kualitas produksi tetap terasa premium.

Penutup yang Terasa Antiklimaks

Secara garis besar, Eric Kripke sebagai kreator seolah mengabaikan fondasi cerita yang sudah dibangun selama empat musim sebelumnya. Ritme cerita yang tidak konsisten membuat pengalaman menonton menjadi kurang seimbang antara awal dan akhir musim.

Episode awal hingga menjelang akhir terasa berjalan sangat lambat dengan banyak adegan yang tidak terlalu krusial bagi plot utama. Namun, saat memasuki episode terakhir, penyelesaian masalah justru terkesan sangat terburu-buru dan dipaksakan selesai begitu saja.

Hubungan dengan seri spin-off seperti Gen V juga dirasa tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap jalannya cerita. Banyaknya elemen promosi terselubung untuk serial masa depan membuat fokus cerita utama The Boys menjadi terdistraksi.

Beberapa poin yang membuat akhir cerita ini terasa kurang membekas adalah:

  • Kurangnya Dampak Emosional: Segala konflik berakhir terlalu lancar sehingga tidak ada ledakan emosi yang benar-benar kuat bagi penonton.
  • Promosi Spin-off: Kehadiran Soldier Boy dan karakter lainnya terasa hanya sekadar alat untuk memancing minat pada judul baru.
  • Eksekusi Terburu-buru: Dua plot besar yang seharusnya bisa dicicil sejak awal justru dipadatkan dalam satu episode final.

Meski memiliki banyak catatan kritis, Eric Kripke setidaknya memberikan sebuah penutup yang memberikan rasa tenang bagi para anggotanya. Tim The Boys akhirnya mendapatkan akhir yang bahagia dan kesempatan untuk memulai kehidupan baru yang jauh lebih damai setelah sekian lama berada dalam bayang-bayang Vought.

Artikel terkait

Rekomendasi