Resmi, Skrining Kanker Kolorektal Masuk Program Cek Kesehatan Gratis 2026

Resmi, Skrining Kanker Kolorektal Masuk Program Cek Kesehatan Gratis 2026
Foto: Resmi, Skrining Kanker Kolorektal Masuk Program Cek Kesehatan Gratis 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kementerian Kesehatan RI membawa kabar gembira terkait peningkatan layanan pencegahan penyakit bagi publik. Pemerintah kini resmi memasukkan skrining kanker kolorektal atau kanker usus besar ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) nasional.

Langkah ini diambil untuk memperkuat perlindungan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang telah menginjak usia 45 tahun ke atas. Kelompok usia tersebut dinilai memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap serangan kanker usus besar.

Urgensi Deteksi Dini Kanker Usus di Indonesia

Kanker kolorektal saat ini menjadi perhatian serius di dunia medis, baik di kancah internasional maupun domestik. Secara global, penyakit ini menduduki posisi ketiga sebagai jenis kanker yang paling sering ditemukan dengan jutaan kasus baru tiap tahunnya.

Di Indonesia sendiri, kanker usus besar menempati urutan keempat dalam daftar kasus terbanyak. Kondisi ini kian memprihatinkan karena menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi kelima di tanah air.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyoroti bahwa masalah utama kanker ini adalah keterlambatan dalam penanganan medis. Banyak pasien baru memeriksakan diri ketika penyakit sudah mencapai fase yang parah.

Beliau menjelaskan bahwa dari 100 pasien yang datang ke fasilitas kesehatan, lebih dari 70 orang di antaranya sudah berada di stadium lanjut. Hal ini terjadi karena kurangnya deteksi sejak dini, bukan semata-mata karena penyakitnya tidak bisa diobati.

Mekanisme Skrining dalam Program Cek Kesehatan Gratis

Pemerintah telah menyusun metode pemeriksaan yang sistematis untuk memastikan potensi kanker dapat dideteksi sebelum gejalanya semakin parah. Skrining ini dilakukan melalui beberapa tahapan pemeriksaan yang saling berkaitan.

Berikut adalah tahapan skrining kanker kolorektal yang tersedia dalam program ini:

  • Pengisian kuesioner awal untuk menilai riwayat kesehatan dan risiko kanker kolorektal.
  • Pemeriksaan fisik berupa prosedur colok dubur digital oleh tenaga medis profesional.
  • Tes darah samar tinja atau Fecal Occult Blood Test (FOBT) bagi mereka yang tergolong berisiko tinggi.

Rangkaian tes tersebut dirancang sebagai upaya penyaringan berlapis agar setiap indikasi sekecil apa pun dapat segera ditindaklanjuti. Dengan deteksi yang lebih cepat, peluang kesembuhan pasien diharapkan akan meningkat secara signifikan.

Cakupan Pembiayaan BPJS Kesehatan untuk Pasien Kanker

Terkait urusan biaya, Siti Nadia Tarmizi selaku Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes memberikan penjelasan mengenai tanggungan negara. Pada dasarnya, BPJS Kesehatan mencakup sebagian besar layanan pengobatan kanker secara umum bagi peserta.

Namun, masyarakat perlu memahami bahwa terdapat batasan untuk jenis terapi tertentu yang bersifat sangat mutakhir. Beberapa jenis pengobatan khusus yang memerlukan biaya tinggi belum sepenuhnya masuk dalam skema penjaminan.

Informasi mengenai batasan tanggungan pengobatan kanker dapat dilihat pada tabel berikut:

Jenis Layanan Status Penjaminan BPJS
Skrining Awal (Program CKG) Gratis / Ditanggung Negara
Pengobatan Kanker Umum Ditanggung BPJS Kesehatan
Targeted Therapy (Terapi Target) Terbatas / Belum Sepenuhnya Masuk
Obat Kanker Metastasis Mahal Belum Sepenuhnya Masuk

Targeted therapy biasanya digunakan untuk kasus kanker yang sudah menyebar atau metastasis ke organ tubuh lain. Mengingat harga obat-obatan tersebut sangat mahal, tidak semua jenisnya dapat diakomodasi oleh sistem jaminan kesehatan saat ini.

Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong masyarakat untuk beralih ke gaya hidup sehat sebagai langkah preventif paling efektif. Mengonsumsi buah dan sayur secara rutin serta memanfaatkan program cek kesehatan gratis adalah kunci perlindungan diri sejak dini.

Artikel terkait

Rekomendasi