Presiden Rusia, Vladimir Putin, memberikan pernyataan mengejutkan pada hari Sabtu dengan memprediksi bahwa konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina akan segera menemui titik akhir. Pemimpin Rusia tersebut juga mengisyaratkan adanya peluang untuk mengadakan pertemuan langsung dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, sebuah langkah yang sebelumnya selalu ia tolak dengan tegas.
Perubahan sikap ini menjadi sorotan besar mengingat Putin selama ini menganggap Zelensky sebagai pemimpin yang tidak sah secara konstitusional di negaranya sendiri. Padahal, invasi yang dimulai oleh Rusia sejak tahun 2022 telah memicu ketegangan diplomatik paling hebat antara Kremlin dan pihak Barat sejak peristiwa Krisis Rudal Kuba pada tahun 1962 silam.
Pada masa itu, dunia sempat dilingkupi kekhawatiran mendalam akan pecahnya perang nuklir global yang menghancurkan akibat perselisihan antara blok Timur dan Barat. Saat ini, situasi di Kyiv kembali memanas setelah Rusia mendesak seluruh diplomat serta warga negara asing untuk segera meninggalkan ibu kota Ukraina tersebut sebagai isyarat serangan besar.
Putin menyampaikan optimismenya mengenai akhir dari peperangan ini saat menanggapi pertanyaan awak media di sela-sela peringatan Hari Kemenangan yang jatuh pada tanggal 9 Mei. Ia meyakini bahwa segala persoalan terkait konflik tersebut akan segera selesai dalam waktu dekat tanpa harus memperpanjang ketegangan lebih lama lagi.
Menurut penjelasan Putin, agenda pertemuan dengan Zelensky di lokasi negara ketiga mungkin saja dilakukan setelah kesepakatan akhir mengenai penyelesaian konflik berhasil dicapai. Sementara itu, laporan dari Financial Times menyebutkan bahwa para pemimpin Uni Eropa saat ini tengah melakukan persiapan intensif untuk menjajaki potensi pembicaraan damai tersebut.
Ketika dimintai keterangan mengenai kesediaannya untuk berdialog dengan pihak Eropa, Putin menyebutkan nama mantan Kanselir Jerman, Gerhard Schroeder, sebagai sosok pilihan yang ideal. Pihak Kremlin menegaskan bahwa inisiatif awal untuk memulihkan hubungan diplomatik sepenuhnya berada di tangan pemerintah negara-negara Eropa yang telah memutus kontak dengan Moskow.
Keputusan pemutusan hubungan tersebut terjadi secara serentak pada tahun 2022 tepat setelah Rusia meluncurkan operasi militer atau perang melawan Ukraina. Meski menunjukkan sinyal perdamaian, Putin sebelumnya tetap bersumpah akan meraih kemenangan penuh di Ukraina dan terus mewaspadai pergerakan kekuatan militer dari organisasi NATO.