Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, memberikan kritik terhadap frekuensi kunjungan kerja luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebutkan bahwa Presiden Prabowo adalah salah satu kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan internasional sejak dilantik.
Dalam pernyataannya, Dino menilai bahwa presiden sebaiknya mengurangi frekuensi perjalanannya ke luar negeri. Ia juga menekankan pentingnya mendengarkan suara publik terkait isu tersebut. "Sebagai sahabat lama, saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia, mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri," ujar Dino.
Menurut Dino, perjalanan presiden ke luar negeri melibatkan banyak biaya. Ini termasuk biaya bagi rombongan tim, transportasi, akomodasi, hingga pengamanan. Untuk itu, ia memberikan lima saran untuk mengurangi perjalanan luar negeri:
- Mengandalkan komunikasi melalui video call atau Zoom.
- Memanfaatkan kunjungan ke forum internasional untuk bertemu dengan kepala negara lainnya.
- Mengatur kunjungan internasional dengan lebih profesional dan terencana.
- Lebih banyak menerima tamu negara dibanding pergi ke luar negeri.
- Memanfaatkan keterlibatan Menteri Luar Negeri Sugiono untuk misi diplomatik taktis.
Kritik tersebut mendapat tanggapan dari Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya. Dalam tanggapannya, Teddy mengapresiasi masukan dari Dino dan mengakui pengalaman dan pencapaiannya sebagai diplomat unggul. Menurut Teddy, biaya yang melebihi anggaran negara ditanggung sendiri oleh Presiden Prabowo.
Teddy menjelaskan bahwa jumlah rombongan perjalanan presiden ke luar negeri telah berkurang drastis dibandingkan periode sebelumnya. "Dulu, jumlahnya bisa lebih dari 120 orang untuk satu kunjungan. Sekarang, dibatasi antara 50 hingga 60 orang," kata Teddy.
Profil Dino Patti Djalal dan Pendidikannya
Dino Patti Djalal lahir di Belgrade, Yugoslavia, pada 10 September 1965, dan dikenal sebagai anak dari diplomat Hasjim Djalal yang terkenal dalam bidang hukum laut internasional. Ia terbiasa dengan dunia diplomasi sejak kecil, menghabiskan waktu di berbagai negara seperti Kanada dan Singapura. Berikut perjalanan pendidikannya:
- SD Muhammadiyah, Indonesia
- SMP AL Azhar Jakarta, Indonesia
- McLean High School, Virginia, AS
- S1 Ilmu Politik, Carleton University, Kanada
- S2 Ilmu Politik, Simon Fraser University, Kanada
- PhD Hubungan Internasional, London School of Economics and Political Science, Inggris
Dino dikenal sebagai pendiri Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia (FPCI). Ia juga memainkan peran penting dalam Kongres Dunia Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles pada 2012.
Karier dan Prestasi
Dino telah menjadikan dirinya sebagai sosok penting dalam diplomasi Indonesia sejak bergabung dengan Departemen Luar Negeri pada 1987. Perannya meliputi juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga menjadi Duta Besar untuk AS. Berikut rincian kariernya:
- Bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Indonesia, 1987
- Bertugas di London, Dili, dan Washington DC
- Juru bicara Pemilu Timor Timur, 1999
- Direktur Urusan Amerika Utara, 2002
- Juru bicara Presiden SBY, 2004-2010
- Duta Besar RI untuk AS, 2010-2013
- Menerima Bintang Jasa Utama, 2010
- Marketeer of the Year, 2013
- Bintang Mahaputra Adipradana, 2014
- Wakil Menteri Luar Negeri, Juni-Oktober 2014
- Anggota Dewan Gubernur Institut Perdamaian dan Demokrasi
- Mendirikan FPCI, 2015
- Anggota Komite Eksekutif Forum Perdamaian Paris
- Menulis 11 buku tentang kepemimpinan