Ekspektasi tinggi terhadap lonjakan wisatawan selama Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat kini berubah menjadi kekecewaan bagi para pelaku industri perhotelan. Banyak pengusaha hotel merasa kesal karena angka pemesanan kamar justru tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan.
Kondisi ini dilaporkan langsung oleh American Hotel & Lodging Association (AHLA), organisasi yang menaungi sekitar 32 ribu properti hotel di AS. AHLA mencatat bahwa tingkat okupansi masih sangat lesu meski ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut tinggal menghitung hari.
Data Okupansi Hotel di Berbagai Kota
Laporan dari AHLA mengungkapkan bahwa hanya beberapa kota yang menunjukkan angka pemesanan yang cukup signifikan, namun tetap belum maksimal. Di Kansas City, pemesanan mencapai angka tertinggi sebesar 88 persen, yang dinilai masih jauh di bawah harapan puncak pariwisata.
Sebaliknya, kondisi di Atlanta dan Miami justru sangat memprihatinkan dengan angka pemesanan yang sangat rendah. Berikut adalah rincian data pemesanan kamar hotel di beberapa kota tuan rumah berdasarkan laporan terbaru:
Daftar persentase pemesanan hotel di kota-kota besar Amerika Serikat:
- Kansas City memimpin dengan tingkat pemesanan sebesar 88 persen dari total kapasitas.
- Miami hanya mencatatkan angka pemesanan kamar sebesar 53 persen hingga saat ini.
- Atlanta menjadi wilayah dengan performa terendah dengan tingkat hunian hanya 48 persen.
Data di atas menunjukkan adanya ketimpangan besar antara klaim potensi ekonomi dari pihak penyelenggara dengan fakta yang terjadi di lapangan. Situasi ini memicu kekhawatiran serius mengenai dampak finansial jangka panjang bagi para pemilik properti.
Kebijakan Pemesanan FIFA Picu Polemik
Pihak hotel menuding FIFA sebagai penyebab di balik tingginya harga kamar yang tidak sesuai dengan permintaan pasar sesungguhnya. FIFA disebut telah melakukan pemesanan kamar dalam jumlah besar di awal, namun kemudian melakukan pembatalan secara masif.
Tindakan ini menciptakan "permintaan buatan" yang membuat harga kamar melonjak secara artifisial sehingga membebani calon wisatawan. Akibatnya, banyak turis yang enggan berkunjung karena biaya akomodasi, transportasi, dan pajak yang dianggap terlalu mahal.
Informasi mengenai pembatalan kamar hotel oleh pihak FIFA:
| Lokasi Kota | Persentase Pembatalan Kamar |
|---|---|
| Boston | Hingga 70 persen |
| Dallas | Hingga 70 persen |
| Los Angeles | Hingga 70 persen |
| Philadelphia | Hingga 70 persen |
| Seattle | Hingga 70 persen |
Tabel tersebut merangkum lima kota besar yang mengalami pembatalan kamar dalam skala besar oleh organisasi sepak bola dunia tersebut. Dampak dari pembatalan ini sangat terasa pada manajemen tenaga kerja dan proyeksi pendapatan tahunan hotel-hotel tersebut.
Tanggapan dan Pembelaan FIFA
Menanggapi keluhan dari AHLA, FIFA memberikan bantahan terkait tudingan manipulasi harga dan pembatalan sepihak yang merugikan. Juru bicara FIFA menegaskan bahwa seluruh proses pelepasan kamar dilakukan sesuai dengan prosedur kontrak yang telah disepakati.
Menurut FIFA, praktik pelepasan blok kamar adalah hal yang wajar dalam manajemen acara internasional berskala raksasa. Mereka mengklaim telah berkomunikasi secara rutin dengan pihak hotel untuk melakukan penyesuaian tarif dan jumlah kamar yang dibutuhkan.
Meskipun FIFA berdalih sudah menjual lebih dari lima juta tiket, para pengusaha tetap merasa skeptis terhadap kesuksesan ajang ini. Tantangan politik serta biaya hidup yang tinggi di AS kini menjadi faktor tambahan yang diprediksi bisa membuat Piala Dunia 2026 gagal mencapai target kunjungan.