Pengakuan Guide Gunung Dukono: Ingin Sujud Minta Maaf ke Orang Tua Korban

Pengakuan Guide Gunung Dukono: Ingin Sujud Minta Maaf ke Orang Tua Korban
Foto: Ilustrasi Pengakuan Guide Gunung Dukono: Ingin Sujud Minta Maaf ke Orang Tua Korban.
Ukuran teks

Reza Selang, pemandu wisata yang mendampingi rombongan pendaki dalam peristiwa tragis di Gunung Dukono, akhirnya memberikan pernyataan resmi. Ia menyatakan keinginan mendalam untuk bersujud dan memohon maaf secara langsung kepada keluarga para korban.

Insiden erupsi yang terjadi pada Jumat (8/5) lalu tersebut merenggut nyawa dua pendaki asal Singapura dan seorang pendaki asal Indonesia. Empat hari pascakejadian, Reza mengaku masih mengalami trauma berat akibat peristiwa yang terjadi di Halmahera Utara, Maluku Utara tersebut.

Sebagai koordinator lapangan, Reza memimpin 20 orang pendaki, termasuk tiga korban jiwa, menuju puncak Gunung Dukono. Meski berhasil menyelamatkan diri, ia menyaksikan secara langsung bagaimana material vulkanik menghantam rekan-rekan pendakiannya.

"Hingga saat ini, perasaan saya masih sangat terpukul dan terbebani," ungkap Reza saat diwawancarai melalui sambungan telepon pada Senin (11/5) pagi. Ia menceritakan kronologi sebelum letusan besar itu terjadi di depan matanya.

Kronologi Sebelum Erupsi Gunung Dukono

Berdasarkan keterangan pria berusia 35 tahun tersebut, rombongan mulai tiba di Desa Mamuya pada Kamis (7/5) sekitar tengah hari. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke titik awal pendakian dan mereka mencapai lokasi peristirahatan (shelter) setelah lima jam berjalan kaki.

Reza menjelaskan bahwa pada malam sebelum kejadian, kondisi gunung tampak sangat normal tanpa adanya aktivitas vulkanik yang mencurigakan. Pada keesokan harinya, tepat pukul 05.30 WIT, rombongan mulai bergerak menuju puncak dan tiba di lokasi sekitar pukul 07.20 WIT.

Situasi kawah sebelum terjadi letusan besar :

  • Hasil pantauan drone menunjukkan tidak ada aktivitas berbahaya di area kawah.
  • Kondisi asap kawah nihil dan suasana di sekitar puncak sangat tenang.
  • Hanya sembilan warga negara asing, dua kru tim, dan tiga tamu lokal yang diizinkan mendekat ke puncak.
  • Pemandu memberikan instruksi ketat agar pendaki tidak berlama-lama di area kawah.

Reza menegaskan bahwa dirinya tetap memantau dari jarak aman menggunakan pesawat tanpa awak atau drone saat para pendaki berada di puncak. "Sekitar pukul 07.40 saya masih memantau lewat drone, namun satu menit kemudian gunung meletus tiba-tiba," tuturnya.

Letusan tersebut terjadi sebanyak dua kali dalam rentang waktu yang sangat singkat, bahkan kurang dari satu menit. Letusan pertama mengeluarkan kepulan asap tebal, yang kemudian disusul semburan material vulkanik pada letusan kedua.

Upaya Penyelamatan di Tengah Hujan Batu

Saat erupsi terjadi, para pendaki segera berlari menyelamatkan diri ke arah bawah untuk menghindari material panas. Lewat layar drone, Reza memantau pergerakan rombongan untuk memastikan tidak ada peserta yang tertinggal di area bahaya.

Namun, ia melihat satu orang tergeletak tidak berdaya di dekat puncak yang kemudian diidentifikasi sebagai Shahin Muhrez bin Abdul Hamid, warga Singapura. Seorang pendaki Singapura lainnya, Timothy Heng, sebenarnya sudah berada di posisi aman namun memutuskan kembali ke atas untuk menolong Shahin.

Reza pun menyusul naik untuk membantu Timothy mengevakuasi korban yang terluka di tengah hujan batu vulkanik yang terus berjatuhan. Mereka mencoba menyeret tubuh Shahin menuruni jalur pendakian agar bisa segera keluar dari zona merah.

"Saya memegang bagian kaki, sementara Timo memegang tangannya agar kami bisa menyeretnya turun dengan cepat," kenang Reza. Sayangnya, situasi menjadi semakin tidak terkendali ketika kawah melontarkan material yang lebih besar.

Detail peristiwa saat material vulkanik menghantam korban :

Aspek Kejadian Keterangan Detail
Ukuran Material Batu vulkanik dengan lebar sekitar dua meter.
Respon Korban Timothy Heng mencoba melindungi Shahin dengan memeluknya.
Dampak Hantaman Mengenai bagian kepala dan seluruh tubuh kedua korban.
Kondisi Pemandu Reza sempat terpaku (freeze) karena syok melihat kejadian tersebut.

Reza baru tersadar dari kondisi syok setelah mendengar suara teriakan yang memanggil namanya dari kejauhan. Ia segera berlari menuju area yang lebih aman dan langsung menghubungi rekan-rekan pecinta alam serta pihak keluarganya.

Di tengah kepanikan tersebut, diketahui satu peserta lain bernama Angel Krishela Pradita juga dinyatakan hilang dari rombongan. Jenazah pendaki lokal tersebut baru berhasil ditemukan oleh tim SAR pada Sabtu (9/5) atau sehari setelah kejadian.

Penyesalan Mendalam dan Proses Hukum

Meskipun menderita luka bakar pada bagian kaki akibat terkena material panas, Reza tetap bertahan di gunung untuk membantu tim SAR. Ia mendampingi proses evakuasi yang dilakukan oleh tim gabungan dari Basarnas, TNI, dan juga Polri.

Proses evakuasi sendiri berjalan sangat dramatis karena Gunung Dukono masih terus mengalami erupsi susulan dengan interval waktu singkat. Sambil menahan sakit, Reza mengungkapkan rasa bersalah yang sangat besar atas tragedi yang menewaskan tamu-tamunya tersebut.

"Ini adalah musibah pertama dalam karier saya, dan saya merasa sangat berdosa kepada para korban dan keluarga mereka," ujarnya lirih. Ia bahkan menyatakan keinginannya untuk bertemu keluarga korban demi menyampaikan permohonan maaf secara langsung.

Berbagai pengandaian terus muncul di benaknya, mulai dari keinginan membatalkan pendakian hingga menyesali keputusan mengambil pekerjaan tersebut. Setelah pencarian dihentikan sementara pada Jumat malam, Reza langsung dibawa ke rumah sakit dan kemudian ke kantor polisi.

Pihak kepolisian saat ini masih melakukan penyelidikan intensif terkait dugaan kelalaian dalam pengorganisiran pendakian tersebut. Reza menegaskan bahwa dirinya siap menghadapi segala konsekuensi hukum yang mungkin akan dijatuhkan kepadanya nanti.

Kasat Reskrim Polres Halmahera Utara, Iptu Rinaldi Anwar, mengonfirmasi bahwa Reza (MRS) dan rekannya (JA) masih berstatus sebagai saksi. Keduanya diketahui terafiliasi dengan akun penyedia jasa pendakian "Anak Esa" yang mempromosikan program "Ayo Baronda".

Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, menyatakan akan mengusut tuntas kasus ini dari berbagai sisi, termasuk tanggung jawab porter dan penyelenggara. Pihak kepolisian berkomitmen untuk menindak tegas siapa pun yang terbukti lalai hingga menyebabkan hilangnya nyawa wisatawan.

Artikel terkait

Rekomendasi