Belum lama ini, tim peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI) berhasil menemukan spesies bakteri baru. Bakteri ini dinamai Thermus javaensis sp. nov, dan termasuk dalam kelompok bakteri termofilik.
Penemuan ini dipimpin oleh Prof. Dr. Wellyzar Sjamsuridzal bersama Dr. Fitria Ningsih, Dr. Mazytha K. Rachmania, dan Dhian Chitra Ayu Fitria Sari. Kolaborasi juga melibatkan para ahli dari RIKEN Jepang dan KRIBB Korea Selatan. Bakteri ini merupakan yang pertama dalam genusnya dan diambil dari Pulau Jawa.
Bakteri Thermus javaensis sp. nov ditemukan di kawasan geiser Cisolok. Mikroba tersebut hidup di suhu ekstrem dekat dengan titik didih 100°C. Ini menunjukkan kemampuan bertahan hidup yang luar biasa dari bakteri tersebut.
Keunikan Thermus javaensis:
- Mampu bertahan pada suhu 45-80°C dengan suhu optimal 60-65°C.
- Berpigmen kuning dan memiliki rotund bodies, struktur unik yang jarang ditemukan di genus Thermus.
Prof. Wellyzar menyatakan bahwa penemuan ini memperlihatkan betapa kayanya keanekaragaman mikroorganisme di ekosistem geotermal Indonesia. "Penemuan Thermus javaensis menunjukkan potensi biodiversitas yang tinggi dari kawasan tersebut," ujarnya.
Penelitian terhadap bakteri ini juga menyoroti sejarah penemuan yang rumit. Eksplorasi dimulai pada tahun 2012, sementara pengambilan sampel spesies ini dimulai pada tahun 2015.
Proses panjang tersebut melibatkan isolasi mikroba, analisis genetik, urutan genom lengkap, serta karakterisasi biokimia. Salah satu tantangan utama dalam penelitian ini adalah menjaga hidup kultur bakteri termofilik.
Hasil dari penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology. Peneliti mendapatkan temuan bahwa bakteri ini tidak hanya jenis varietas baru namun juga spesies yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya.
Kemampuan Thermus javaensis menghasilkan enzim termostabil membuka potensi besar untuk aplikasi di dunia industri dan kesehatan.
Manfaat Bakteri Thermus javaensis:
- Enzim tahan panas dapat diterapkan dalam proses industri.
- Metabolit sekunder dari kelompok terpen berpotensi dikembangkan menjadi antibakteri dan antiinflamasi.
Peluang dari temuan ini sangat besar di bidang bioteknologi, khususnya untuk mikroorganisme termofilik yang dapat menghasilkan nilai tambah industri yang tinggi, kata Prof Wellyzar.