Perubahan iklim global kini menghadirkan tantangan baru bagi ibu hamil. Cuaca yang semakin panas mungkin hanya menimbulkan rasa tidak nyaman bagi masyarakat umum. Namun, bagi ibu hamil, suhu yang meningkat dapat menjadi ancaman serius, memengaruhi kesehatan ibu dan janin. Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 4,8 juta ibu hamil di Indonesia. Di Jakarta, suhu udara yang meningkat menyajikan tantangan khusus terhadap kesehatan ibu hamil.
Mekanisme tubuh ibu hamil harus bekerja ekstra untuk menjaga suhu inti tubuh tetap normal. Mengacu pada BBC (12/5/2026) yang mengutip jurnal "Physiological Mechanisms of The Impact of Heat During Pregnancy", ketika suhu lingkungan naik, tubuh meningkatkan produksi keringat sebagai upaya pendinginan. Namun demikian, kelembapan tinggi sering kali menghalangi penguapan keringat, meningkatkan risiko dehidrasi dan serangan panas atau heatstroke.
Efek dari kondisi ini juga dirasakan oleh janin. Saat suhu tubuh ibu naik, aliran darah lebih banyak menuju permukaan kulit untuk melepaskan panas. Sayangnya, hal ini bisa mengurangi aliran darah ke plasenta sehingga janin berpotensi kekurangan oksigen dan nutrisi. Sari Kovats, ahli epidemiologi dari London School of Hygiene and Tropical Medicine, menyatakan paparan panas saat awal kehamilan berisiko memicu cacat lahir. Menurunnya aliran darah ke plasenta juga bisa memicu preeklamsia, komplikasi kehamilan yang ditandai tekanan darah tinggi. Selain itu, risiko kelahiran prematur semakin meningkat akibat paparan suhu yang berlebihan.
Penelitian Menunjukkan Dampak Panas Ekstrem:
- Sebuah penelitian berjudul "Environmental Heat Stress on Maternal Physiology and Fetal Blood Flow in Pregnant Subsistence Farmers in The Gambia, West Africa: an Observational Cohort Study" mengungkapkan bahwa kenaikan suhu 1 derajat Celsius dapat meningkatkan risiko ketegangan pada janin hingga 17 persen.
- Panas ekstrem dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah, yakni di bawah 2,5 kilogram, dan meningkatkan risiko lahir mati.
Caroline Cochrane, dokter kandungan dan ginekologi dari Atrium Health, menegaskan bahwa dehidrasi akibat panas dapat menimbulkan komplikasi pada kehamilan. Dia menambahkan, "Suhu tubuh yang tinggi dan dehidrasi terkait dengan komplikasi kehamilan. Dehidrasi dapat menyebabkan kontraksi meningkat, rendahnya cairan amnion, dan penurunan produksi ASI."
Mengingat risiko tersebut, perlindungan bagi ibu hamil harus diperkuat melalui edukasi dan penyediaan fasilitas pendingin di ruang publik dan pelayanan kesehatan.