Meskipun proses perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik berjalan sangat lambat, banyak pengamat yakin kedua negara sebenarnya tidak ingin kembali berperang. Keduanya lebih memilih untuk saling memberikan tekanan demi mengamankan posisi tawar sebagai pemenang dalam negosiasi tersebut.
Para ahli militer mencoba membedah situasi ini untuk melihat motif di balik ketegangan yang terus terjaga namun tidak sampai meledak menjadi perang terbuka. Terdapat sejumlah alasan utama mengapa konflik skala penuh sebisa mungkin dihindari oleh kedua belah pihak.
Strategi Mencapai Kelelahan Lawan
Abdulla Banndar Al-Etaibi, seorang asisten profesor urusan internasional dari Universitas Qatar, menilai bahwa Teheran maupun Washington saat ini belum bersedia memberikan konsesi besar untuk mencapai kesepakatan permanen. Namun, ia menekankan bahwa kedua negara juga sama-sama sadar akan risiko besar jika perang fisik kembali pecah secara total.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai alasan di balik ketegangan yang terkendali antara kedua negara:
- Strategi Eskalasi Terkendali: Kedua negara kemungkinan besar hanya akan melakukan serangan-serangan terbatas atau sporadis di beberapa titik tertentu untuk menekan mental lawan.
- Pembentukan Konsesi Melalui Tekanan: Tujuannya adalah membuat salah satu pihak merasa kelelahan sehingga pada akhirnya mereka bersedia duduk di meja perundingan dengan posisi yang lebih lunak.
- Peran Vital Mediator: Adanya kesenjangan kepentingan yang sangat lebar membuat peran pihak ketiga sebagai penengah menjadi sangat krusial untuk menjembatani perbedaan tersebut.
- Menghindari Kerugian Total: Baik AS maupun Iran memahami bahwa perang terbuka hanya akan menghancurkan sumber daya mereka tanpa jaminan kemenangan yang pasti.
- Diplomasi Melalui Gertakan: Saling melontarkan ancaman seringkali hanya merupakan taktik untuk melihat sejauh mana batas kesabaran dan kekuatan lawan sebelum negosiasi serius dimulai.
Al-Etaibi menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa proses untuk memaksa pihak lain menyerah pada tuntutan tertentu memang membutuhkan waktu yang lama. Hal ini seringkali melibatkan permainan psikologis yang melelahkan bagi kedua belah pihak yang bertikai.
Hambatan Komunikasi dan Jalan Buntu Diplomasi
Di sisi lain, pernyataan keras dari para pemimpin politik seringkali memperkeruh suasana dan menghambat jalur diplomasi yang sudah ada. Salah satunya adalah komentar Donald Trump yang menyebut tanggapan Iran terhadap usulan Amerika Serikat hanya sebagai tindakan yang membuang-buang waktu saja.
Analis politik Giorgio Cafiero menilai gaya komunikasi seperti itu sama sekali tidak membantu mempercepat proses perdamaian di kawasan tersebut. Menurut CEO perusahaan konsultan Gulf State Analytics ini, bahasa yang provokatif justru menciptakan tembok penghalang baru dalam komunikasi antarnegara.
Ia menyampaikan kepada Al Jazeera bahwa penggunaan retorika keras oleh presiden Amerika Serikat justru meragukan niat tulus pemerintahannya dalam memajukan perundingan. Tanpa adanya komunikasi yang lebih menghargai, jalan buntu dalam diplomasi ini diperkirakan akan bertahan lebih lama dari yang diperkirakan banyak orang.
Persaingan ini kian memanas setelah munculnya peringatan dari Aramco mengenai ancaman krisis bahan bakar dunia yang semakin parah. Sementara itu, Iran juga sempat melontarkan ancaman untuk melakukan pengayaan uranium hingga kadar 90 persen jika Amerika Serikat dan Israel nekat meluncurkan serangan baru ke wilayah mereka.