Ogah Pakai AI, Animasi Garuda di Dadaku Libatkan 500 Animator Lokal Selama 3 Tahun

Ogah Pakai AI, Animasi Garuda di Dadaku Libatkan 500 Animator Lokal Selama 3 Tahun
Foto: Ogah Pakai AI, Animasi Garuda di Dadaku Libatkan 500 Animator Lokal Selama 3 Tahun. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Sutradara Ronny Gani memilih jalan berbeda dalam menggarap film animasi terbarunya yang berjudul Garuda di Dadaku. Di tengah maraknya penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau AI, ia justru berkomitmen penuh mengandalkan kemampuan tangan manusia.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan yang kuat bagi tim produksi. Ronny bersama produser Shanty Harmayn ingin fokus memperkuat ekosistem industri animasi dalam negeri agar semakin berkualitas dan mandiri.

Dedikasi Tinggi Tanpa Bantuan Teknologi AI

Ronny Gani menegaskan bahwa proyek layar lebar ini sepenuhnya merupakan hasil kerja keras para talenta lokal. Ia meyakini bahwa sentuhan tangan manusia memberikan nyawa yang lebih kuat pada sebuah karya seni.

“Kami masih sangat memercayai kemampuan serta keahlian manual dari para kreator lokal kita,” ujar Ronny saat ditemui di Jakarta Selatan. Menurutnya, karya yang dibuat oleh manusia akan lebih mudah menyentuh hati para penonton.

Keputusan untuk tidak menggunakan jalan pintas lewat teknologi AI membawa konsekuensi pada skala produksi yang sangat besar. Ronny mengungkapkan bahwa proyek ambisius ini melibatkan setidaknya 550 orang kru secara keseluruhan.

Hampir 500 orang di antaranya bertugas sebagai animator yang mengerjakan detail setiap adegan. Proses pengerjaannya pun memakan waktu yang sangat lama, yakni mencapai tiga tahun secara kumulatif.

Berikut adalah rincian fakta produksi film animasi Garuda di Dadaku:

  • Total Kru Terlibat: Sebanyak 550 tenaga profesional dikerahkan dalam proyek ini.
  • Jumlah Animator: Hampir 500 orang animator lokal fokus menggarap aspek visual.
  • Durasi Produksi: Proses pembuatan memakan waktu hingga tiga tahun lamanya.
  • Target Tayang: Film ini dijadwalkan menyapa penonton pada 11 Juni mendatang.
  • Teknologi: Seratus persen menggunakan pengerjaan manual tanpa bantuan AI.

Data di atas menunjukkan betapa seriusnya komitmen tim produksi untuk menghasilkan kualitas animasi lokal yang kompetitif. Shanty Harmayn selaku produser mengaku cukup terkejut dengan ritme kerja dunia animasi yang jauh berbeda dari film aksi langsung.

Tantangan Produksi dan Proses Kreatif

Selama tiga tahun masa produksi, tantangan terbesar bagi tim bukanlah sekadar urusan teknis menggambar. Fokus utama mereka justru terletak pada upaya memastikan cerita film ini dapat terhubung erat dengan perasaan audiens.

Tim produksi bahkan rutin mengadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk memantau reaksi dari calon penonton. Hasil dari diskusi tersebut terkadang mengharuskan tim animator melakukan perombakan besar pada adegan yang sudah jadi.

Ronny menjelaskan bahwa revisi besar bisa berdampak signifikan pada lini masa produksi yang bersifat linear. Mereka terkadang harus mundur dan mengulang kembali pekerjaan selama berbulan-bulan demi hasil yang sempurna.

Situasi ini pun sering kali memicu diskusi panjang antara sutradara dan produser terkait efisiensi waktu. Shanty menyebut bahwa merombak animasi jauh lebih rumit dibandingkan mengubah adegan dalam film live action konvensional.

Perbandingan proses antara animasi manual dan live action menurut produser:

Aspek Perbandingan Film Live Action Animasi Garuda di Dadaku
Proses Revisi Lebih fleksibel melalui pengambilan ulang gambar atau editing. Sangat rumit karena harus mengulang proses dari awal.
Waktu Produksi Cenderung lebih singkat dan dinamis. Membutuhkan waktu bertahun-tahun (3 tahun).
Keterlibatan Tim Kru lapangan lebih dominan. Didominasi oleh ratusan animator di depan komputer.

Tabel ini memberikan gambaran tentang betapa kompleksnya dedikasi yang diberikan oleh tim di balik layar. Meski secara bujet belum bisa menandingi studio besar Hollywood, Ronny tetap menerapkan standar penyutradaraan kelas dunia.

Garuda di Dadaku nantinya akan mengisahkan tentang perjuangan seorang anak pengidap asma. Penonton akan diajak melihat bagaimana ia berusaha keras melampaui keterbatasannya demi mewujudkan mimpi menjadi pemain bola profesional.

Artikel terkait

Rekomendasi