Keindahan Pantai Kelingking dan Broken Beach di Nusa Penida memang selalu berhasil memikat wisatawan mancanegara. Namun, di balik pesonanya yang mendunia, kedua destinasi andalan ini ternyata masih menghadapi masalah klasik, yakni belum tersedianya aliran air bersih.
Kondisi ini cukup memprihatinkan mengingat kedua lokasi tersebut merupakan penyumbang pendapatan besar bagi sektor pariwisata daerah. Fasilitas dasar bagi para pelancong dan pengelola setempat hingga kini belum terpenuhi secara maksimal.
Kendala Distribusi Air di Lokasi Wisata
Kepala Desa Bunga Mekar, I Wayan Yasa, mengungkapkan bahwa layanan dari PDAM Tirta Mahottama Klungkung sebenarnya sudah masuk ke wilayah desanya. Meskipun sambungan ke rumah-rumah warga sudah berjalan lancar, jalur air tersebut belum menjangkau kawasan pesisir.
Yasa menegaskan bahwa Pantai Kelingking dan Broken Beach masih menjadi titik yang belum terpasang jaringan air bersih sama sekali. Hal ini menyebabkan operasional di sekitar objek wisata masih terkendala ketersediaan air yang memadai.
Menanggapi hal tersebut, PDAM Klungkung baru berencana mengalokasikan investasi sekitar Rp700 juta untuk membangun infrastruktur di sana. Proyek ini diharapkan bisa menuntaskan krisis air bersih yang selama ini dialami kedua destinasi ikonik tersebut.
Direktur PDAM Klungkung, Nyoman Renin Suyasa, menyatakan bahwa pihaknya baru akan merealisasikan investasi di Pantai Kelingking pada tahun ini. Rencana ini muncul setelah tim internal melakukan kajian mendalam mengenai potensi ekonomi di wilayah tersebut.
Beberapa faktor pertimbangan PDAM Klungkung dalam pembangunan jaringan air bersih ini antara lain:
- Perhitungan kelayakan bisnis karena besarnya biaya pembangunan jaringan pipa baru.
- Estimasi potensi pendapatan yang akan diperoleh dari kawasan wisata tersebut.
- Keberadaan hotel-hotel lama maupun akomodasi baru yang tengah dalam proses pembangunan.
- Hasil penelitian dan pengembangan (Litbang) yang menyatakan proyek ini layak secara finansial.
Sebagai perusahaan daerah, PDAM harus menyeimbangkan misi pelayanan publik dengan profitabilitas perusahaan. Investasi besar memerlukan kepastian bahwa sarana yang dibangun akan memberikan imbal balik yang sebanding bagi daerah.
Masalah Lahan di Broken Beach
Berbeda dengan Pantai Kelingking, rencana penyaluran air ke kawasan Broken Beach masih menemui jalan buntu. Persoalan utama bukan terletak pada anggaran, melainkan pada kejelasan status lahan atau akses jalan.
Suyasa menjelaskan bahwa pihaknya belum menerima dokumen pasti mengenai kepemilikan jalan yang sudah dihibahkan ke daerah. Kekhawatiran muncul jika jaringan pipa dipasang di atas lahan yang status hukumnya masih belum terang.
Pihak PDAM tidak ingin mengambil risiko hukum di masa depan apabila terjadi sengketa jalan di kawasan Broken Beach. Oleh karena itu, pembangunan jaringan air bersih di lokasi tersebut masih menunggu kepastian administratif.
Target Cakupan Layanan Air di Nusa Penida
Secara umum, Suyasa mengeklaim hampir seluruh desa di Nusa Penida sebenarnya sudah mendapatkan akses air bersih. Pasokan air tersebut bersumber dari dua mata air utama di pulau tersebut serta sistem penyulingan air laut di Pulau Ceningan.
Berikut adalah rincian ketersediaan sumber air dan target layanan PDAM di wilayah tersebut:
| Sumber Air / Target | Keterangan |
|---|---|
| Sumber Utama | Dua mata air lokal dan mesin SWRO Pulau Ceningan. |
| Status Layanan | Hampir semua desa di Nusa Penida sudah teraliri air bersih. |
| Desa Belum Terlayani | Hanya menyisakan Desa Pejukutan yang belum tersambung. |
| Target 100 Persen | Penyambungan pipa ke Desa Pejukutan ditargetkan selesai tahun ini. |
Data tersebut menunjukkan bahwa meski cakupan desa hampir sempurna, titik spesifik di kawasan pantai masih tertinggal. Pemerintah daerah berharap integrasi jaringan ini dapat segera diselesaikan guna mendukung kenyamanan wisatawan.
Penyelesaian masalah air bersih ini dianggap krusial demi menjaga citra pariwisata Bali di mata internasional. Tanpa dukungan infrastruktur yang mumpuni, daya tarik alam yang luar biasa dikhawatirkan tidak akan berkelanjutan bagi pertumbuhan ekonomi warga lokal.