Kawasan Rasuna Said di Kuningan, Jakarta Selatan, menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya berbasis jalan kaki atau walking tour. Sejarawan JJ Rizal mengungkapkan bahwa wilayah ini merupakan saksi bisu dari evolusi Jakarta menjadi kota modern yang dicita-citakan oleh para pemimpin bangsa.
Kuningan bukan sekadar deretan gedung pencakar langit atau pusat aktivitas diplomatik dan bisnis yang padat. Menurut Rizal, di balik hiruk-pikuk lalu lintasnya, kawasan ini memiliki narasi sejarah yang sangat mendalam mengenai aspirasi global Presiden Sukarno dan kekayaan budaya lokal.
Jejak Diplomasi dan Visi Internasional Sukarno
Salah satu daya tarik utama yang ditawarkan kawasan ini adalah jejak langkah Presiden pertama Indonesia, Sukarno, dalam membangun identitas internasional Jakarta. Gagasan awal pengembangan Kuningan sebenarnya dirancang untuk memperkuat posisi Indonesia di mata dunia setelah suksesnya Konferensi Asia Afrika.
Rizal menjelaskan bahwa Sukarno awalnya berencana membangun stadion megah di wilayah ini sebelum akhirnya proyek besar tersebut dipindahkan ke kawasan Senayan. Pemindahan tersebut kemudian mengubah arah pengembangan Kuningan menjadi sebuah kawasan yang menampung representasi negara-negara sahabat melalui kedutaan besar.
Poin penting mengenai visi internasionalisme di kawasan Kuningan:
- Kehadiran kantor kedutaan besar dari berbagai negara merupakan implementasi nyata dari konsep politik internasionalisme yang diusung oleh Sukarno.
- Gubernur Ali Sadikin melanjutkan visi tersebut dengan menambahkan dimensi kebudayaan sebagai pelengkap dari dimensi politik yang sudah ada.
- Pendirian Pusat Perfilman Usmar Ismail dan Sinematek Indonesia menjadi bukti nyata bahwa Kuningan dirancang sebagai pusat budaya yang bergengsi.
- Sinematek Indonesia pernah mencatatkan sejarah sebagai satu-satunya pusat dokumentasi perfilman terlengkap di kawasan Asia Timur pada masanya.
Rizal juga menyebutkan peran penting tokoh perfilman Misbach Yusa Biran yang menjadi motor penggerak di balik layar dalam pendirian institusi tersebut. Usmar Ismail sendiri adalah tokoh sentral dalam sejarah film nasional yang hari pengambilan gambar pertamanya kini diperingati sebagai Hari Film Nasional.
Fasilitas Publik dan Sejarah Sosial di Masa Lalu
Kawasan Kuningan pada era Gubernur Ali Sadikin juga dikenal memiliki perhatian khusus terhadap sektor pariwisata bagi kalangan menengah ke bawah. Rizal menceritakan keberadaan penginapan atau hostel bersubsidi yang diperuntukkan bagi mahasiswa serta turis mancanegara yang memiliki anggaran terbatas.
Gedung yang kini difungsikan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan (diklat) tersebut dahulunya merupakan simbol keterbukaan Jakarta terhadap interaksi antarwarga dunia. Fasilitas ini sengaja disediakan agar kaum muda dari berbagai negara bisa berkunjung dan menetap sementara di Jakarta dengan biaya terjangkau.
Daftar tokoh dan institusi sejarah yang berada di kawasan Kuningan:
- Usmar Ismail: Tokoh pelopor perfilman Indonesia yang namanya diabadikan sebagai pusat perfilman di Kuningan.
- Misbach Yusa Biran: Kurator dan tokoh penting dalam sejarah dokumentasi perfilman nasional di Sinematek.
- Ali Sadikin: Gubernur yang mengembangkan Kuningan sebagai kawasan strategis dengan fasilitas publik yang beragam.
- HR Rasuna Said: Pahlawan nasional perempuan yang namanya diabadikan sebagai jalan protokol utama di kawasan ini.
Selain sejarah perfilman dan diplomatik, narasi mengenai peran perempuan juga sangat kuat dengan adanya keberadaan organisasi Dharma Pertiwi di sekitar jalan tersebut. Rizal berpendapat bahwa kisah-kisah mengenai tokoh perempuan dapat menjadi materi edukasi yang menarik bagi para peserta tur sejarah.
Hubungan Internasional dan Jejak Budaya Betawi
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Maroko juga terekam dalam penamaan infrastruktur jalan di kawasan tersebut. Nama Jalan Casablanca yang diresmikan pada akhir dekade 90-an merupakan simbol dari hubungan sister city antara Jakarta dengan kota terbesar di Maroko.
Rizal mengingatkan bahwa Indonesia termasuk negara pertama yang memberikan dukungan moral bagi kemerdekaan Maroko dari penjajahan Prancis. Dukungan tersebut merupakan kelanjutan dari semangat solidaritas yang lahir pasca perhelatan bersejarah Konferensi Asia Afrika di Bandung.
Informasi sejarah mengenai perkembangan fisik wilayah Kuningan:
| Era | Status Wilayah | Karakteristik Utama |
|---|---|---|
| Hindia Belanda | Ommelanden (Luar Kota) | Kawasan persawahan, sepi, dan banyak ditumbuhi semak. |
| Sebelum 1970-an | Kawasan Peternakan | Pemasok susu sapi bagi warga Belanda, dikelola masyarakat Betawi. |
| 1970-an | Masa Pembangunan | Mulai dibangun gedung pemerintah, pusat film, dan fasilitas publik. |
| 1990-an - Sekarang | Pusat Bisnis Modern | Penuh gedung pencakar langit, pusat belanja, dan kantor kedutaan. |
Sebelum menjadi pusat bisnis modern, Kuningan adalah wilayah agraris di mana masyarakat Betawi mengelola peternakan sapi secara tradisional. Susu segar yang dihasilkan dari peternakan di Kuningan dulunya dipasok untuk memenuhi kebutuhan warga Belanda yang tinggal di pusat kota Batavia.
Transformasi dari Kawasan Sepi Menjadi Ruang Publik
Pada era 1970-an, Kuningan masih dianggap sebagai wilayah yang sangat terpencil dan bahkan sering disebut sebagai tempat yang sangat sunyi. Misbach Yusa Biran pernah mengisahkan bagaimana sepinya lokasi Sinematek saat pertama kali dibangun karena letaknya yang jauh dari keramaian.
Namun, pembangunan fasilitas olahraga seperti Gelanggang Remaja dan pusat aktivitas seperti Pasar Festival perlahan mengubah citra kawasan ini. Tempat-tempat tersebut kemudian menjadi magnet baru bagi anak muda Jakarta untuk bersosialisasi dan melakukan berbagai kegiatan kreatif.
Pasar Festival sempat mencapai puncak popularitasnya sebagai tempat berkumpul favorit saat kawasan Blok M mulai mengalami penurunan tren di awal tahun 2000-an. Rizal menilai kehadiran fasilitas publik yang terintegrasi ini sangat penting untuk menciptakan titik-titik keramaian baru yang tersebar di Jakarta.
Menurut Rizal, pemerintah perlu melihat potensi sejarah ini agar Kuningan tidak hanya dipandang sebagai mesin ekonomi yang kaku. Dengan mengangkat identitas budaya dan sejarahnya, kawasan ini dapat bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi mendatang.