Mengenal Rahasia Awetnya Koleksi Kasuari dan Kerapu Raksasa di Museum Zoologi Bogor

Mengenal Rahasia Awetnya Koleksi Kasuari dan Kerapu Raksasa di Museum Zoologi Bogor
Foto: Ilustrasi Mengenal Rahasia Awetnya Koleksi Kasuari dan Kerapu Raksasa di Museum Zoologi Bogor.
Ukuran teks

Museum Zoologi Bogor telah lama menjadi destinasi wisata edukasi favorit bagi masyarakat yang ingin mengenal kekayaan fauna. Di dalam gedung ini, pengunjung sering dibuat takjub oleh koleksi satwa seperti burung kasuari hingga ikan kerapu raksasa yang tampak masih sangat segar.

Koleksi-koleksi tersebut tetap terlihat hidup meski sebenarnya telah diawetkan selama puluhan hingga ratusan tahun lamanya. Banyak traveler mungkin bertanya-tanya mengenai teknik apa yang digunakan untuk menjaga spesimen tersebut agar tidak rusak dimakan usia.

Rahasia Perawatan Koleksi Berusia Ratusan Tahun

Museum Zoologicum Bogoriense yang didirikan sejak tahun 1894 ini ternyata menerapkan kombinasi unik antara prinsip ilmiah dan ketelitian tingkat tinggi. Hasan, seorang pemandu senior di museum tersebut, membagikan rahasia mengenai cara mereka menjaga kelestarian setiap koleksi yang dipamerkan.

Menurut Hasan, merawat spesimen hewan yang hampir punah memiliki kemiripan dengan cara seseorang merawat barang pribadi berbahan kulit. Perhatian yang diberikan harus sangat mendalam agar tekstur dan bentuk asli satwa tersebut tidak berubah atau hancur.

Untuk koleksi yang bukan merupakan replika, debu dianggap sebagai ancaman paling besar yang harus ditangani setiap hari secara rutin. Debu yang menumpuk bisa merusak detail halus pada tubuh hewan jika dibiarkan terlalu lama tanpa ada tindakan pembersihan.

Para petugas biasanya membersihkan debu secara perlahan, lalu memberikan semir khusus kulit agar spesimen tetap tampak berkilau. Langkah ini penting untuk menjaga kelembapan material organik yang sudah mati agar tidak pecah-pecah.

Hasan juga menjelaskan tantangan lain yang sering muncul, yaitu pertumbuhan jamur akibat tingkat kelembapan yang tinggi saat musim hujan. Jika muncul bintik jamur, tim konservasi akan membersihkannya menggunakan kuas secara hati-hati sebelum diolesi alkohol pada area terdampak.

Ikon utama museum ini, yakni kerangka paus raksasa, juga mendapatkan perlakuan istimewa dalam proses pembersihannya. Tim menggunakan alat penyedot debu untuk menjangkau sela-sela tulang, kemudian dilanjutkan dengan tahap pemolesan agar kerangka tetap terlihat bersih.

Menariknya, paus secara alami memiliki lapisan pelindung yang membantu mencegah debu masuk terlalu dalam ke pori-pori tulangnya. Hal ini cukup membantu mempermudah kerja para petugas dalam menjaga kebersihan salah satu aset paling berharga di museum tersebut.

Teknik Pengisian Tubuh Menggunakan Bahan Alami

Proses pengawetan mamalia dan burung di Museum Zoologi melibatkan prosedur operasi yang cukup kompleks untuk mencegah pembusukan. Langkah awal yang paling krusial adalah mengeluarkan seluruh bagian daging serta organ dalam dari tubuh hewan tersebut.

Bahan pengganti organik digunakan untuk mengisi rongga tubuh hewan agar bentuknya tetap proporsional:

  • Sabut kelapa yang telah dibersihkan sebagai pengisi utama tubuh.
  • Kapas berkualitas tinggi untuk memberikan volume pada bagian tertentu.
  • Resin khusus sebagai bahan replika mata agar terlihat berkilau alami.
  • Kelereng atau gundu yang sering digunakan sebagai pengganti mata pada hewan ukuran tertentu.

Meskipun organ dalam diganti, Hasan menegaskan bahwa bagian luar seperti paruh, sayap, hingga bulu asli tetap dipertahankan. Hal ini bertujuan agar pengunjung dapat melihat tekstur asli satwa tersebut tanpa ada perubahan warna atau bentuk yang signifikan.

Kombinasi antara pengisi internal dan bagian luar yang asli inilah yang membuat spesimen terlihat seolah-olah masih bernapas. Sentuhan artistik sangat diperlukan dalam tahap ini agar posisi tubuh hewan terlihat natural seperti saat mereka masih hidup di alam liar.

Prosedur Khusus untuk Koleksi Serangga

Berbeda dengan mamalia besar, spesimen serangga seperti kupu-kupu dan kumbang membutuhkan teknik yang lebih simpel namun menuntut ketelitian tangan. Organ dalam serangga tidak perlu dikeluarkan melalui pembedahan besar seperti yang dilakukan pada hewan bertulang belakang.

Tim ahli biasanya menyuntikkan alkohol dengan kadar 70 persen langsung ke dalam bagian perut atau abdomen serangga tersebut. Setelah disuntik, spesimen harus didiamkan selama satu hari satu malam penuh hingga cairan meresap sempurna dan mengering.

Tantangan tersulit dalam proses ini adalah menjaga agar warna sayap tidak pudar akibat sentuhan langsung dari tangan manusia. Hasan menjelaskan bahwa mereka wajib menggunakan pinset untuk memegang bagian tepi sayap yang teksturnya lebih kasar agar tidak rusak.

Dalam proses penataan, tim menggunakan papan perentang dan menjepit sayap serangga menggunakan kertas papir atau kertas wajik. Hal ini dilakukan agar sayap terbuka dengan sempurna sebelum ditusuk menggunakan jarum khusus yang didesain agar tahan karat.

Hasan menekankan bahwa penggunaan jarum khusus serangga sangat penting karena jarum jahit biasa akan berkarat seiring berjalannya waktu. Dengan jarum khusus ini, koleksi serangga bisa bertahan selama puluhan tahun tanpa mengalami kerusakan pada titik tumpuannya.

Lantai museum yang memiliki luas mencapai 1.500 meter persegi ini memang menyimpan sejarah panjang perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Museum ini awalnya dibangun oleh ilmuwan Jerman-Belanda bernama Dr. J.C. Koningsberger pada pengujung abad ke-19.

Pada masa awal berdirinya, tempat ini sebenarnya hanya berfungsi sebagai laboratorium untuk meneliti berbagai hama tanaman. Namun, seiring waktu, tempat ini berkembang pesat hingga menjadi salah satu museum zoologi dengan koleksi terlengkap di kawasan Asia Tenggara.

Panduan Berkunjung ke Museum Zoologi Bogor

Bagi Anda yang berencana mengunjungi museum ini untuk melihat hasil taksidermi yang memukau, pastikan memperhatikan jadwal kunjungannya. Museum ini terletak di dalam kawasan strategis Kebun Raya Bogor yang mudah diakses oleh wisatawan dari berbagai daerah.

Berikut adalah rincian mengenai jam operasional dan biaya masuk yang berlaku saat ini:

Kategori Kunjungan Hari Operasional Jam Buka Harga Tiket
Hari Kerja Senin - Jumat 08.00 - 16.00 WIB Rp 15.000
Akhir Pekan/Libur Sabtu, Minggu & Nasional 07.00 - 16.00 WIB Rp 25.000

Informasi di atas merupakan standar biaya masuk per orang bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin mengeksplorasi museum. Penting untuk diingat bahwa setiap pengunjung harus tetap mematuhi peraturan yang berlaku di dalam ruang pameran.

Sebagai catatan tambahan, pihak pengelola memberikan kebijakan khusus bagi pengunjung anak-anak yang memiliki tinggi badan di bawah 90 cm. Anak dengan kriteria tersebut tidak akan dikenakan biaya tiket masuk alias gratis saat berkunjung bersama keluarga.

Artikel terkait

Rekomendasi