Isu mengenai penggunaan lumba-lumba dalam konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran baru-baru ini mencuat dalam konferensi pers di Pentagon. Pertanyaan menggelitik muncul saat seorang reporter menanyakan kemungkinan Iran mengerahkan mamalia laut tersebut untuk misi bunuh diri.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan tidak bisa memberikan konfirmasi terkait unit lumba-lumba milik AS. Namun, ia secara tegas meragukan pihak Iran memiliki kapabilitas atau teknologi serupa untuk kepentingan militer mereka.
Jenderal Dan Caine, selaku Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, juga mengaku belum pernah mendengar laporan resmi terkait hal itu. Ia bahkan sempat melontarkan candaan dengan menyamakan laporan tersebut seperti cerita fiksi tentang hiu yang dilengkapi sinar laser.
Latar Belakang Ketegangan di Selat Hormuz
Isu ini bermula dari artikel yang dirilis oleh The Wall Street Journal mengenai kebuntuan strategi Iran dalam menghadapi blokade laut Amerika Serikat. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Teheran sedang mencari cara alternatif untuk menutupi celah pertahanan mereka di wilayah Selat Hormuz.
Dalam laporan tersebut, pejabat Iran dikabarkan tengah mempertimbangkan penggunaan berbagai senjata yang belum pernah digunakan sebelumnya. Opsi yang muncul mencakup pemanfaatan kapal selam khusus hingga penggunaan lumba-lumba yang dipersenjatai dengan ranjau laut.
Selain ancaman di permukaan, Korps Garda Revolusi Islam dilaporkan mengancam akan memutus kabel serat optik di dasar laut Selat Hormuz. Jika tindakan ini benar-benar dilakukan, gangguan besar terhadap lalu lintas internet global dipastikan akan terjadi secara luas.
Rekam Jejak Sejarah Lumba-Lumba Militer
Meski penggunaan hewan dalam peperangan terdengar seperti fiksi ilmiah, praktik ini sebenarnya memiliki sejarah yang cukup panjang. Pada Maret tahun 2000, BBC pernah melaporkan bahwa Iran secara resmi membeli lumba-lumba yang telah terlatih dari pihak Uni Soviet.
Hewan-hewan ini sebelumnya dididik oleh para ahli Rusia untuk melakukan misi penyerangan terhadap penyelam maupun kapal musuh. Namun, program tersebut sempat terhenti akibat kendala pendanaan yang dialami oleh fasilitas pelatihan mereka di Krimea.
Informasi detail mengenai pengiriman mamalia laut dari Rusia ke Iran :
- Asal Hewan: Fasilitas pelatihan Angkatan Laut Soviet di Sevastopol, Semenanjung Krimea.
- Alasan Penjualan: Pelatih tidak lagi mampu membiayai pakan, obat-obatan, dan suplemen yang mahal.
- Jumlah Hewan: Sebanyak 27 ekor hewan laut diberangkatkan menggunakan pesawat kargo.
- Jenis Spesies: Mencakup lumba-lumba, walrus, singa laut, anjing laut, dan satu ekor paus beluga putih.
Pelatih utama hewan-hewan tersebut, Boris Zhurid, menjelaskan bahwa keputusan menjual mereka murni didasari oleh faktor kemanusiaan. Ia mengaku tidak tega melihat hewan-hewan yang selama ini bersamanya harus menderita kelaparan karena kekurangan biaya operasional.
Zhurid mengungkapkan bahwa biaya perawatan medis hewan-hewan tersebut bisa mencapai ribuan dolar, sementara stok ikan dan nutrisi mereka telah habis. Kondisi krisis di Sevastopol saat itu memaksanya untuk memindahkan seluruh mamalia laut tersebut ke wilayah Teluk Persia.
Hingga saat ini, belum ada bukti konkret yang menunjukkan lumba-lumba tersebut benar-benar dioperasikan untuk misi tempur aktif oleh militer Iran. Diskusi mengenai mamalia laut ini tetap menjadi topik hangat yang memadukan antara sejarah militer masa lalu dan ketegangan geopolitik modern.