Menciptakan dunia visual dalam sebuah film layar lebar bukanlah pekerjaan sederhana yang bisa dilakukan oleh segelintir orang saja. Dalam produksi film horor terbaru berjudul Ghost in the Cell (2026), aspek visual ini menjadi tanggung jawab besar bagi departemen artistik.
Dennis Sutanto, sosok di balik desain produksi film tersebut, membagikan pengalamannya dalam mengelola tim yang sangat masif. Ia mengungkapkan bahwa Art Department dalam proyek ini diperkuat oleh sekitar 110 hingga 120 orang kru yang memiliki keahlian spesifik.
Saking banyaknya personel yang terlibat, tim ini bahkan memiliki markas khusus yang mereka sebut sebagai Perkampungan Set. Dennis menjelaskan rincian tugas setiap sub-departemen melalui program wawancara khusus bertajuk #COD (Cerita Orang Dalam).
Struktur Kepemimpinan dan Manajerial Art Department
Pada level tertinggi, sebuah departemen artistik biasanya dipimpin oleh seorang Production Designer yang mengawasi seluruh visi kreatif dan operasional. Di bawah posisi ini, terdapat peran penting lainnya seperti Art Director yang menjaga ritme kerja tim.
Dennis menyebutkan bahwa Art Department memiliki banyak sekali sub-divisi yang bekerja secara simultan untuk memenuhi kebutuhan visual film. Art Director sendiri memiliki tanggung jawab yang lebih condong ke arah manajerial serta mengatur lalu lintas kerja atau traffic antardivisi.
Selain dibantu oleh Art Director, Dennis dalam kesehariannya juga didampingi oleh Production Designer Assistant. Kehadiran asisten ini sangat krusial untuk memastikan setiap detail teknis di lapangan tetap berjalan sesuai dengan garis besar desain yang telah disepakati sebelumnya.
Peran Set Designer dan Tim Grafis dalam Visualisasi
Beralih ke sisi kreatif yang lebih teknis, terdapat tim Set Designer yang bertugas mengonversi ide menjadi bentuk visual. Mereka berperan penting dalam menerjemahkan hasil diskusi antara Production Designer dengan para kepala departemen lainnya ke dalam sebuah gambar kerja.
Dennis menjelaskan bahwa Set Designer adalah orang yang membantunya memvisualisasikan konsep-konsep abstrak. Melalui proses diskusi dan brainstorming yang intens, gambar-gambar tersebut kemudian menjadi panduan utama bagi tim konstruksi saat membangun lokasi.
Selain desain fisik bangunan, Art Department juga memiliki tim Graphic Designer serta Motion Graphic yang bekerja sejak tahap awal perumusan. Tugas mereka adalah menyiapkan segala bentuk materi visual yang akan muncul sebagai properti pendukung dalam cerita.
Beberapa contoh aset visual yang dikerjakan oleh tim grafis meliputi:
- Desain antarmuka atau tampilan layar pada perangkat ponsel pintar milik karakter.
- Grafis bergerak (motion graphics) yang muncul di layar laptop selama adegan berlangsung.
- Berbagai macam desain cetak yang dibutuhkan sebagai properti fisik di lokasi syuting.
Tim ini sudah mulai merancang kebutuhan tersebut sejak tahap pra-produksi agar semua detail visual tampak nyata saat kamera mulai merekam.
Manajemen Properti dan Kendaraan dalam Film
Elemen penunjang lain yang tidak kalah penting adalah departemen properti yang dipimpin oleh para Propman. Menariknya, karena syuting film Ghost in the Cell dilakukan di dua kota berbeda yakni Jakarta dan Bandung, pembagian tim pun disesuaikan dengan lokasi.
Dennis menjelaskan bahwa ia memiliki tim Propman khusus di masing-masing kota untuk mempermudah pencarian barang. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki karakteristik barang yang berbeda sesuai dengan kebutuhan cerita dalam film tersebut.
Di dalam Departemen Properti sendiri, masih terdapat pembagian tugas yang lebih mendetail agar operasional berjalan rapi. Dennis merinci beberapa peran spesifik tersebut yang biasanya tercantum dalam buku panduan kerja tim.
Berikut adalah pembagian peran di bawah departemen properti menurut penjelasan Dennis:
| Jabatan | Fungsi Utama |
|---|---|
| Prop Buyer | Bertugas melakukan pembelian barang-barang yang dibutuhkan sebagai properti. |
| Prop Hunter | Fokus mencari atau menyewa barang unik yang sulit ditemukan di pasar umum. |
| Prop Maker | Membuat atau memproduksi sendiri properti khusus yang tidak dijual di manapun. |
Tabel di atas menunjukkan betapa spesifiknya tugas dalam departemen artistik demi menjaga kualitas visual film. Bahkan untuk urusan kendaraan, ada Vehicle Department yang khusus mengurusi mobil-mobil yang muncul di layar.
Dennis mencontohkan penggunaan mobil tahanan dalam film Ghost in the Cell yang ternyata memiliki tantangan tersendiri. Meski hanya ada dua unit, tim ini harus bekerja keras mengurus perizinan mobilitas kendaraan tersebut di sepanjang jalur pulau Jawa.
Konstruksi Set dan Pembuatan Atmosfer Lingkungan
Bagi film yang membangun set lokasinya sendiri dari nol, Construction Department atau Set Builder menjadi tulang punggung utama. Untuk film garapan Joko Anwar ini, jumlah kru konstruksi yang dikerahkan mencapai 75 hingga 80 orang.
Tim konstruksi ini terdiri dari tenaga ahli di berbagai bidang, mulai dari tukang kayu (carpenter), tukang besi, hingga tukang las. Tidak hanya soal membangun, Dennis juga menekankan pentingnya departemen kebersihan dalam menjaga area kerja tetap kondusif.
Ada fakta menarik di balik layar mengenai set penjara atau lapas yang terlihat sangat kumuh di dalam film. Dennis mengungkapkan bahwa meski secara visual tampak kotor, kenyataannya area tersebut sangat bersih dan nyaman bagi para aktor.
Sebelum proses pengambilan gambar dimulai, seluruh sel penjara yang dibangun dibersihkan secara menyeluruh. Bahkan, perlengkapan seperti seprai dicuci bersih untuk menjamin kenyamanan para pemain selama proses produksi berlangsung.
Sentuhan Akhir oleh Set Dresser dan Tim Standby
Setelah struktur bangunan diselesaikan oleh tim konstruksi, giliran tim Set Dresser yang masuk untuk memberikan "nyawa" pada ruangan. Dennis menganalogikan hubungan kedua tim ini seperti arsitek dan desainer interior dalam dunia nyata.
Proses penataan atau dressing ini biasanya dilakukan sesaat sebelum hari syuting dimulai agar detailnya tetap terjaga. Set Dresser menambahkan berbagai elemen kecil yang membuat sebuah ruangan kosong tampak seperti tempat yang benar-benar ditinggali.
Terakhir, ada tim Standby Set yang bertugas menjaga konsistensi visual saat proses syuting sedang berjalan di depan kamera. Peran mereka sangat krusial, terutama ketika Production Designer tidak bisa selalu berada di satu lokasi secara bersamaan.
Karena Dennis sering kali harus berpindah antar-set atau mengurus persiapan di kota lain, Standby Set menjadi perpanjangan tangannya. Tim ini diisi oleh berbagai peran, mulai dari Art Director on Set hingga Runners Standby yang siap siaga melakukan penyesuaian artistik secara cepat.
Memahami betapa kompleksnya struktur kerja di Art Department memberikan gambaran bahwa sebuah visual yang indah adalah hasil kolaborasi ratusan orang. Dari semua posisi yang telah dijelaskan tadi, setiap bagian memiliki peran yang sama pentingnya dalam menyukseskan sebuah film.