Mengenal HFRS, Gejala dan Bahaya Infeksi Hantavirus yang Ada di Indonesia

Mengenal HFRS, Gejala dan Bahaya Infeksi Hantavirus yang Ada di Indonesia
Foto: Ilustrasi Mengenal HFRS, Gejala dan Bahaya Infeksi Hantavirus yang Ada di Indonesia.
Ukuran teks

Kabar mengenai wabah Hantavirus yang menyerang kapal pesiar MV Hondius di Samudera Atlantik baru-baru ini menyita perhatian publik. Banyak masyarakat yang mulai merasa khawatir terkait potensi penyebaran virus ini di lingkungan sekitar mereka.

Hantavirus merupakan sebutan bagi sekelompok virus yang penularannya berasal dari hewan pengerat atau tikus. Penting untuk diketahui bahwa jenis Hantavirus yang muncul di kapal pesiar tersebut berbeda dengan jenis yang lazim ditemukan di wilayah Indonesia.

Di tanah air, varian yang paling sering menginfeksi manusia adalah Seoul Virus atau SEOV. Jenis virus ini merupakan penyebab dari penyakit yang dikenal sebagai hemorrhagic fever renal syndrome atau HFRS.

Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, Andi Saguni, menjelaskan bahwa Hantavirus di Indonesia berjenis HFRS. Beliau menegaskan dalam konferensi pers pada Senin (11/5) bahwa tipe ini tidak sama dengan yang terjadi di MV Hondius.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tercatat ada 23 kasus positif Hantavirus di Indonesia dalam kurun waktu tahun 2024 hingga pekan ke-16 di tahun 2026. Angka ini menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap virus ini tetap diperlukan oleh masyarakat.

Memahami Apa Itu HFRS

Penyakit HFRS atau sindrom demam berdarah dengan gangguan ginjal dipicu oleh mayoritas jenis Hantavirus. Beberapa jenis virus yang menjadi penyebabnya antara lain virus Hantaan, Dobrava, Puumala, serta virus Seoul yang ada di Indonesia.

Hal ini berbeda dengan virus jenis Andes yang dapat memicu Hantavirus pulmonary syndrome atau HPS. Perbedaan mendasar antar keduanya terletak pada organ tubuh yang menjadi target utama serangan virus tersebut.

Melansir data dari CDC Amerika Serikat, tingkat keparahan infeksi HFRS sangat bergantung pada jenis virus yang masuk ke tubuh. Virus Hantaan dan Dobrava biasanya menyebabkan kondisi yang cukup berat bagi penderitanya.

Sebaliknya, infeksi yang disebabkan oleh virus Seoul dan Puumala umumnya cenderung memicu gejala yang lebih ringan. Hal ini menjadi catatan penting mengingat virus Seoul adalah jenis yang paling dominan di temukan di Indonesia.

Mengenali Gejala Infeksi HFRS

Fokus utama dari serangan HFRS adalah organ ginjal, sementara HPS lebih banyak menyerang sistem pernapasan manusia. Masa inkubasi atau munculnya gejala biasanya terjadi sekitar satu hingga dua minggu setelah seseorang terpapar virus.

Meski tergolong jarang, dalam beberapa kasus medis tertentu gejala penyakit ini baru muncul setelah delapan minggu. Mengenali tanda-tanda awal sangat krusial agar pasien bisa mendapatkan penanganan medis secara cepat dan tepat.

Beberapa gejala awal yang sering dilaporkan oleh penderita HFRS meliputi:
  • Munculnya demam tinggi secara tiba-tiba yang disertai sakit kepala hebat.
  • Rasa nyeri yang terasa di bagian punggung serta area perut.
  • Kondisi tubuh yang merasa mual hingga mengalami muntah-muntah.
  • Gangguan pada penglihatan yang menjadi kabur secara mendadak.
  • Adanya rona kemerahan pada area wajah dan mata serta munculnya ruam kulit.

Daftar di atas merupakan indikasi awal yang harus diwaspadai sebelum kondisi kesehatan menurun lebih jauh. Jika tidak segera ditangani, infeksi ini dapat berkembang menjadi kondisi klinis yang jauh lebih serius dan berbahaya.

Pada fase yang lebih lanjut, penderita berisiko mengalami tekanan darah rendah yang drastis hingga syok akut. Selain itu, potensi kebocoran pembuluh darah dan gagal ginjal akut menjadi ancaman utama pada pasien dengan gejala berat.

Namun, masyarakat tidak perlu terlalu panik karena virus Seoul di Indonesia memiliki tingkat fatalitas yang relatif rendah. Secara global, tingkat kematian akibat varian Seoul ini diperkirakan hanya berkisar antara 1 hingga 5 persen saja.

Proses Penularan HFRS

Penularan HFRS terjadi melalui kontak dengan sekresi hewan pengerat, baik itu melalui kotoran (feses), urine, maupun air liur. Khusus untuk varian Seoul di Indonesia, pembawa utama virus ini adalah tikus got cokelat yang sering hidup di sekitar pemukiman.

Interaksi manusia dengan limbah atau cairan tubuh tikus yang terinfeksi menjadi jembatan utama perpindahan virus tersebut. Ada beberapa skenario yang memungkinkan seseorang terpapar virus ini dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah beberapa cara utama penularan Hantavirus dari tikus ke manusia:
  • Menghirup partikel virus yang beterbangan di udara dalam bentuk aerosol.
  • Melakukan kontak langsung dengan feses, urine, atau air liur tikus yang mengandung virus.
  • Menyentuh bagian mata, hidung, atau mulut setelah memegang tikus yang terinfeksi.
  • Masuknya cairan tubuh tikus yang terinfeksi melalui kulit yang sedang terluka.
  • Memegang benda-benda yang telah terkontaminasi oleh sekresi hewan pengerat.
  • Mengonsumsi bahan makanan yang sudah tercemar oleh kotoran atau air liur tikus.

Risiko penularan juga mengintai para pemilik hewan peliharaan pengerat jika mereka terkena gigitan dari hewan yang terinfeksi. Oleh karena itu, menjaga kebersihan kandang dan lingkungan menjadi langkah preventif yang sangat penting untuk dilakukan.

Satu hal yang ditegaskan oleh para ahli adalah bahwa HFRS dipastikan tidak dapat menularkan penyakit dari manusia ke manusia. Hingga saat ini, belum ada bukti medis yang menunjukkan adanya transmisi antar-manusia pada kasus HFRS.

Seluruh kasus yang ditemukan sejauh ini murni merupakan hasil penularan langsung dari tikus ke manusia. Dengan menjaga kebersihan lingkungan dari sarang tikus, risiko penyebaran penyakit ini dapat ditekan secara signifikan.

Artikel terkait

Rekomendasi