Mengenal Cheongwang, Senjata Laser Korea Selatan Terbaru yang Banyak Ditakuti Dunia 2026

Mengenal Cheongwang, Senjata Laser Korea Selatan Terbaru yang Banyak Ditakuti Dunia 2026
Foto: Mengenal Cheongwang, Senjata Laser Korea Selatan Terbaru yang Banyak Ditakuti Dunia 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Korea Selatan mencatatkan pencapaian besar dalam teknologi pertahanan dengan berhasil mengembangkan komponen inti senjata laser Cheongwang secara mandiri. Keberhasilan ini memungkinkan Seoul memproduksi massal alat penghalau drone berbiaya rendah tanpa lagi bergantung pada pasokan komponen dari luar negeri.

Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) mengungkapkan bahwa Badan Pengembangan Pertahanan bersama Hanwha Systems telah menuntaskan pengembangan osilator laser buatan lokal pada akhir Mei lalu. Sebelumnya, sistem ini masih mengandalkan teknologi asal Jerman untuk melumpuhkan target di udara.

Keunggulan Utama Senjata Laser Cheongwang

Pengembangan teknologi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika peperangan modern yang kini banyak melibatkan drone murah namun mematikan. Belajar dari konflik di Ukraina dan Iran, Korea Selatan menyadari pentingnya memiliki sistem pertahanan yang efisien secara biaya dan teknologi.

Berikut adalah ringkasan fakta penting mengenai sistem persenjataan Cheongwang terbaru:

Fitur Utama Keterangan Teknis
Biaya Operasional Sekitar 2.000 won (± Rp23.000) per tembakan.
Sumber Energi Berbasis listrik (tanpa amunisi fisik).
Output Laser Kelas 20 kilowatt (fokus pada drone kecil).
Waktu Pelumpuhan 1 hingga 2 detik untuk drone tipe FPV.

Melalui data di atas, terlihat bahwa Cheongwang menjadi solusi ekonomis namun sangat efektif untuk melindungi aset negara dari ancaman serangan udara nirawak. Penggunaan tenaga listrik memungkinkan senjata ini beroperasi tanpa batas waktu selama pasokan daya tetap terjaga.

Dirancang Khusus Menghadapi Ancaman Drone

Sistem Cheongwang memang dirancang untuk membendung kawanan drone, khususnya yang datang dari wilayah Korea Utara. Senjata ini bekerja dengan memancarkan sinar laser serat optik berdaya tinggi yang langsung membakar target hingga hancur di udara.

Sejak pertama kali diperkenalkan pada Desember 2024, sekitar lima unit telah disiagakan di lokasi strategis seperti gedung Kementerian Pertahanan. Pemerintah berencana menambah 10 unit lagi untuk melindungi fasilitas vital lainnya, termasuk area Majelis Nasional.

Peningkatan Performa Melalui Teknologi Lokal

Keputusan memproduksi osilator laser di dalam negeri bukan hanya soal kemandirian, tetapi juga peningkatan kualitas tempur yang signifikan. Kini, Korea Selatan bergabung dengan jajaran negara elit seperti Amerika Serikat, Israel, China, dan Jerman yang mampu memproduksi teknologi ini secara mandiri.

Peningkatan performa yang dirasakan setelah menggunakan teknologi lokal adalah:

  • Output sinar laser meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan saat masih menggunakan komponen impor.
  • Kecepatan melumpuhkan drone sayap tetap kini hanya butuh beberapa detik, jauh lebih cepat dari sebelumnya yang mencapai 10 detik.
  • Keakuratan tembakan terhadap drone kecil (FPV) menjadi jauh lebih responsif dan efisien.
  • Kemandirian rantai pasok karena ekspor osilator laser di pasar global sangat diawasi ketat.

Dengan efektivitas waktu yang meningkat drastis, risiko kerusakan akibat serangan drone dapat diminimalisir secepat mungkin sebelum mencapai sasaran. Hal ini membuktikan bahwa teknologi dalam negeri Korea Selatan telah melampaui standar peralatan yang mereka impor sebelumnya.

Ambisi Pengembangan di Masa Depan

Saat ini, kekuatan laser 20 kilowatt pada Cheongwang memang baru difokuskan untuk melumpuhkan drone kecil yang lincah. Namun, pemerintah Korea Selatan tidak berhenti di situ dan sudah menyiapkan rencana pengembangan untuk ancaman yang lebih besar.

Melalui program pengembangan Blok-II, Seoul berambisi meningkatkan kekuatan laser hingga skala megawatt. Peningkatan ini diperlukan agar sistem tersebut mampu menjatuhkan rudal jelajah, rudal balistik, hingga jet tempur yang memerlukan daya hancur jauh lebih tinggi di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi