Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman infeksi Hantavirus. Langkah ini diambil menyusul adanya laporan mengenai temuan klaster kasus pada kapal pesiar MV Hondius beberapa waktu lalu.
Pelaksana tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menekankan pentingnya memahami metode penyebaran virus ini. Menurutnya, pemahaman yang baik akan membantu masyarakat melakukan tindakan pencegahan yang lebih efektif dan akurat.
Secara umum, Kemenkes membagi jalur penularan Hantavirus ke dalam dua kategori utama berdasarkan sumbernya. Jalur tersebut mencakup penularan melalui hewan pembawa penyakit serta potensi penularan antarmanusia dalam situasi yang sangat spesifik.
Penularan Melalui Hewan Pembawa Penyakit
Penyebaran utama Hantavirus terjadi melalui hewan perantara, khususnya tikus dan celurut yang telah terinfeksi. Virus ini dapat berpindah ke manusia melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan hewan-hewan tersebut.
Penularan bisa terjadi saat seseorang terkena gigitan, atau bersentuhan dengan urine, feses, dan air liur hewan yang terinfeksi. Selain itu, menghirup debu yang telah terkontaminasi oleh sekresi hewan tersebut juga menjadi jalur masuk virus ke dalam tubuh.
Andi Saguni menjelaskan bahwa faktor risiko terbesar adalah adanya interaksi erat dengan tikus atau paparan terhadap kotorannya. Hal ini sering dialami oleh mereka yang bekerja di lingkungan dengan populasi tikus yang tinggi.
Beberapa kelompok profesi yang memiliki risiko tinggi terpapar Hantavirus meliputi:
- Petugas kebersihan dan pengendali hama yang sering bersinggungan dengan area kotor.
- Petani dan pekerja konstruksi yang beraktivitas di lahan terbuka atau bangunan lama.
- Pekerja saluran air atau selokan serta petugas laboratorium yang menangani hewan uji.
Risiko ini tidak hanya terbatas pada pekerjaan tertentu, tetapi juga pada aktivitas rekreasi di alam terbuka. Masyarakat yang gemar berkemah atau beraktivitas di habitat alami tikus diminta untuk tetap waspada selama berada di lokasi tersebut.
Potensi Penularan Antarmanusia
Banyak masyarakat yang khawatir mengenai penularan dari manusia ke manusia, namun Kemenkes menyatakan hal ini sangat jarang terjadi. Kasus penularan jenis ini biasanya hanya ditemukan pada kondisi yang sangat khusus dan terbatas.
Berdasarkan data medis, penularan antarmanusia sejauh ini hanya dilaporkan pada jenis virus Andes yang memicu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Jenis virus ini banyak ditemukan di wilayah Amerika Selatan melalui kontak fisik yang sangat intens.
Andi merujuk pada penelitian di Argentina yang menunjukkan bahwa transmisi pada kapal pesiar MV Hondius memang melibatkan virus tipe Andes. Penularan tersebut bisa terjadi karena adanya interaksi yang sangat dekat dan berlangsung dalam waktu lama antarpenumpang.
Perbandingan Karakteristik Hantavirus berdasarkan tipe dan wilayah:
| Aspek Perbandingan | Tipe HFRS (Asia & Eropa) | Tipe HPS (Amerika Selatan) |
|---|---|---|
| Jenis Virus Utama | Seoul Virus | Andes Virus |
| Penularan Antarmanusia | Belum Ada Bukti | Bisa Terjadi (Kontak Intens) |
| Keberadaan di Indonesia | Sudah Terdeteksi Sejak 1991 | Belum Ditemukan |
Tabel di atas merangkum perbedaan signifikan antara virus yang ada di Indonesia dengan yang memicu klaster di kapal pesiar. Penjelasan ini bertujuan agar masyarakat tidak panik secara berlebihan mengenai risiko penularan lokal.
Andi menegaskan bahwa varian Hantavirus yang ada di Indonesia adalah tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). Hingga saat ini, belum ditemukan bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa tipe HFRS dapat menular antarmanusia.
Sebagai penutup, Kemenkes menegaskan kembali bahwa jenis virus yang ditemukan di Indonesia sangat berbeda dengan yang ada di kapal MV Hondius. Fokus utama di tanah air tetap pada pengendalian populasi tikus dan menjaga kebersihan lingkungan rumah.