Sosok Shindy Lutfiana, pembawa acara atau Master of Ceremony (MC) Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Kalimantan Barat, tengah menjadi buah bibir. Pernyataannya kepada siswa SMAN 1 Pontianak dalam kompetisi tersebut viral dan memicu kritik tajam dari warganet di berbagai platform media sosial.
Sejumlah netizen menuding Shindy melakukan tindakan gaslighting terhadap peserta lomba. Merespons gelombang kritik tersebut, Shindy diketahui telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas insiden yang terjadi.
Sorotan Netizen dan Tudingan Manipulasi
Komentar pedas bermunculan di media sosial X, salah satunya menyebut sang pembawa acara sebagai sosok yang manipulatif. "Duta Artikulasi dan Gaslighting," tulis salah satu akun yang dikutip pada Rabu (13/5/2026).
Warganet lain juga menyayangkan sikap juri dan pembawa acara yang dinilai anti-kritik serta menyalahkan peserta dengan alasan artikulasi yang tidak jelas. Di sisi lain, keberanian siswa peserta lomba dalam membela haknya justru mendapatkan banyak apresiasi dan rasa hormat dari publik.
Memahami Apa Itu Gaslighting
Istilah gaslighting belakangan ini memang sangat populer di dunia maya, namun sering kali disalahartikan. Banyak orang menggunakannya untuk sekadar menggambarkan perilaku berbohong, mempermalukan, atau membuat orang lain merasa bersalah secara umum.
Merujuk pada penjelasan dari Cleveland Clinic, gaslighting sebenarnya adalah bentuk pelecehan emosional yang sangat spesifik. Tindakan manipulasi mental ini bertujuan untuk merusak kemampuan seseorang dalam memercayai orang lain maupun diri mereka sendiri.
Psikolog Chivonna Childs menjelaskan bahwa gaslighting merupakan taktik untuk membuat seseorang merasa perasaannya tidak valid. Manipulasi ini bahkan bisa membuat korban merasa apa yang mereka alami sebenarnya tidak pernah terjadi.
Dampak jangka panjang dari perilaku ini sangat berbahaya bagi kesehatan mental korbannya. Secara bertahap, korban akan mulai meragukan harga diri, kepercayaan diri, hingga kemampuan berpikir objektif mereka sendiri.
Berikut adalah beberapa pola perilaku yang umum ditemukan dalam tindakan gaslighting:
- Sering melontarkan tuduhan dan menyalahkan orang lain atas suatu keadaan.
- Membantah argumen secara sepihak atau mengalihkan fokus pembicaraan saat dikonfrontasi.
- Menyangkal kesalahan yang telah diperbuat meskipun faktanya sudah jelas.
- Menolak versi kejadian yang disampaikan oleh orang lain.
- Sengaja membuat orang lain merasa bersalah, malu, atau merasa rendah diri.
- Meremehkan serta mengabaikan perasaan yang dirasakan oleh lawan bicara.
- Terus-menerus berbohong dan mempertanyakan penilaian atau kewarasan orang lain.
Daftar di atas menunjukkan bahwa gaslighting bukan sekadar perdebatan biasa, melainkan pola komunikasi yang destruktif. Mengenali tanda-tanda ini penting agar seseorang tidak terjebak dalam hubungan atau situasi yang memanipulasi emosinya.
Tindakan manipulasi semacam ini dapat terjadi di mana saja, mulai dari lingkungan keluarga, pertemanan, hingga ruang publik seperti kompetisi. Masyarakat diharapkan lebih bijak dalam memahami istilah ini agar dapat mengidentifikasi pelecehan emosional dengan tepat.