Mengejutkan, Rudal Tomahawk Hantam SD di Iran: Militer AS Bantah Terlibat

Mengejutkan, Rudal Tomahawk Hantam SD di Iran: Militer AS Bantah Terlibat
Foto: Mengejutkan, Rudal Tomahawk Hantam SD di Iran: Militer AS Bantah Terlibat. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Pemerintah militer Amerika Serikat kembali menunjukkan sikap mengelak terkait tragedi serangan rudal yang menghancurkan Sekolah Dasar (SD) Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Iran. Insiden mematikan yang merenggut nyawa 175 orang tersebut hingga kini belum diakui secara resmi oleh pihak Pentagon sebagai tanggung jawab mereka.

Meskipun tekanan dari para anggota Parlemen terus mengalir deras, otoritas militer AS masih memberikan jawaban yang dinilai berbelit-belit. Padahal, dampak dari serangan tersebut telah memicu kemarahan publik internasional karena sebagian besar korbannya adalah warga sipil.

Kronologi Tragedi di Hari Pertama Agresi

Peristiwa berdarah di SD Shajareh Tayyebeh, yang merupakan sekolah khusus putri di wilayah selatan Iran, terjadi pada 28 Februari lalu. Serangan rudal ini dilancarkan tepat pada hari pertama kampanye pemboman besar-besaran yang dilakukan oleh koalisi AS dan Israel terhadap Iran.

Berdasarkan laporan resmi dari pejabat pemerintah Iran, jumlah korban tewas mencapai 175 orang. Mayoritas dari korban yang kehilangan nyawa dalam insiden tragis tersebut adalah anak-anak perempuan yang sedang berada di lingkungan sekolah.

Informasi penting terkait dampak serangan di SD Shajareh Tayyebeh mencakup rincian berikut ini:

  • Lokasi Kejadian: Sekolah Dasar (SD) Shajareh Tayyebeh di wilayah Minab, Iran selatan.
  • Waktu Insiden: Terjadi pada 28 Februari, bertepatan dengan dimulainya agresi udara.
  • Jumlah Korban: Total 175 orang dinyatakan tewas dalam serangan tunggal tersebut.
  • Profil Korban: Sebagian besar korban merupakan siswi perempuan sekolah dasar.
  • Jenis Senjata: Investigasi independen mengarah pada penggunaan rudal jelajah Tomahawk.

Data di atas menunjukkan skala kerusakan yang sangat besar bagi fasilitas pendidikan di wilayah Iran selatan. Serangan ini menjadi salah satu titik paling kontroversial dalam rangkaian konflik bersenjata yang sedang berlangsung.

Sikap Saling Lempar Tanggung Jawab

Pada tahap awal pasca-serangan, para pejabat Amerika Serikat memberikan pernyataan yang saling tumpang tindih dan membingungkan publik. Bahkan, Presiden Donald Trump sempat mengeluarkan klaim kontroversial dengan menuduh pihak Iran sendiri yang melakukan serangan tersebut.

Namun, spekulasi tersebut perlahan terpatahkan setelah sejumlah media Amerika dan analis militer melakukan investigasi mendalam. Hasil penelusuran menyimpulkan bahwa sekolah tersebut kemungkinan besar dihantam oleh rudal Tomahawk, senjata canggih buatan manufaktur AS.

Penyelidikan internal yang dilakukan militer AS menemukan adanya indikasi penggunaan data penargetan yang sudah tidak akurat atau kedaluwarsa. Kesalahan fatal ini membuat pasukan di lapangan mengira sekolah tersebut sebagai bagian dari pangkalan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.

Walaupun Pentagon telah meningkatkan status penyelidikan internal mereka, hingga kini mereka hanya menyatakan bahwa proses hukum masih berjalan. Tidak ada pernyataan resmi yang secara gamblang mengakui adanya kesalahan teknis atau operasional dalam pemboman itu.

Tekanan dari Anggota Parlemen

Ketegangan memuncak saat berlangsungnya sidang Komite Angkatan Bersenjata Parlemen pada hari Selasa lalu. Para wakil rakyat mendesak Laksamana Brad Cooper, selaku Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), untuk segera jujur kepada publik.

Laksamana Brad Cooper didorong untuk mengungkapkan temuan awal secara transparan dan berhenti menutupi kesalahan militer. Para anggota Parlemen menilai bahwa waktu 80 hari sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan penyelidikan internal terhadap satu target serangan.

Sudah sekitar 80 hari berlalu sejak kampanye pengeboman awal yang menghantam sekolah perempuan itu. Sudah sangat jelas apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Pernyataan tajam tersebut disampaikan oleh Adam Smith, seorang anggota Parlemen dari Partai Demokrat, yang merasa geram dengan lambatnya pengakuan resmi. Menurutnya, bukti-bukti di lapangan sudah cukup kuat untuk mengarahkan tanggung jawab kepada pihak militer Amerika Serikat.

Hingga saat ini, publik masih menanti apakah Washington akan bersedia meminta maaf atau memberikan kompensasi atas jatuhnya ratusan korban jiwa tersebut. Ketidakpastian ini terus menambah ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran di tengah situasi Timur Tengah yang memanas.

Artikel terkait

Rekomendasi