Mengejutkan, Mantan Karyawan Ubisoft Jepang Ungkap Penyebab Saham Turun Bukan DEI 2026

Mengejutkan, Mantan Karyawan Ubisoft Jepang Ungkap Penyebab Saham Turun Bukan DEI 2026
Foto: Mengejutkan, Mantan Karyawan Ubisoft Jepang Ungkap Penyebab Saham Turun Bukan DEI 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Belakangan ini, Ubisoft tengah menjadi pusat perhatian akibat berbagai masalah internal yang menimpa raksasa video game tersebut. Salah satu persoalan paling krusial yang mereka hadapi adalah anjloknya nilai saham perusahaan dalam beberapa tahun terakhir.

Banyak komunitas gamer berspekulasi bahwa penurunan performa saham ini disebabkan oleh fokus perusahaan yang berlebihan pada elemen DEI (Diversity, Equity, and Inclusion). Namun, seorang mantan karyawan Ubisoft asal Jepang justru memiliki pandangan yang berbeda mengenai krisis ini.

Sindrom Bisnis Besar sebagai Akar Masalah

Kensuke Shimoda, mantan desainer game di Ubisoft Osaka, mengungkapkan pendapatnya melalui media sosial terkait kondisi mantan perusahaannya. Shimoda sendiri memiliki rekam jejak bekerja di sana sejak April 2021 hingga November 2024.

Menurut Shimoda, penurunan saham Ubisoft bukan disebabkan oleh isu DEI seperti yang ramai dibicarakan publik. Ia menilai perusahaan tersebut sedang terjebak dalam apa yang ia sebut sebagai "Big Business Syndrome" atau sindrom bisnis besar.

Berikut adalah beberapa faktor yang menurut Shimoda menjadi penyebab utama masalah internal di Ubisoft:

  • Kurangnya pengaruh kelompok pendukung DEI terhadap operasional inti perusahaan secara keseluruhan.
  • Adanya jarak psikologis yang lebar antara kantor pusat di Prancis dengan studio cabang di negara lain.
  • Penurunan kualitas pada departemen kreatif dan strategi pemasaran dalam beberapa tahun terakhir.
  • Stagnasi pada posisi kepemimpinan yang sulit digantikan oleh talenta yang lebih kompeten.

Penjelasan tersebut memberikan perspektif baru bahwa masalah Ubisoft jauh lebih kompleks daripada sekadar urusan konten keberagaman. Shimoda menekankan bahwa upaya DEI di dalam perusahaan sebenarnya berjalan cukup baik dan tidak mengganggu proses bisnis.

Masalah di Level Kepemimpinan dan Kreatif

Shimoda menyoroti bahwa kegagalan produk Ubisoft akhir-akhir ini lebih disebabkan oleh minimnya judul game populer yang mampu mendobrak pasar. Hal ini merupakan dampak nyata dari penurunan performa di sisi kreatif dan manajerial.

Ia juga mencermati bahwa beberapa posisi kepemimpinan strategis justru diisi oleh individu yang kurang berpengalaman dalam sektor game online maupun mobile. Padahal, sektor tersebut saat ini menjadi tulang punggung industri game global.

Beberapa kendala struktural yang diidentifikasi oleh mantan karyawan tersebut meliputi:

Aspek Masalah Dampak pada Perusahaan
Struktur Kepemimpinan Rendahnya perputaran posisi membuat pemimpin yang kurang kompeten sulit diganti.
Budaya Kerja Ketidakharmonisan antara studio pusat di Prancis dengan studio kreatif non-Prancis.
Pengalaman Produk Minimnya keahlian pemimpin dalam menangani game free-to-play dan layanan live-service.

Tabel di atas merangkum bagaimana kendala manajemen internal memberikan dampak negatif yang sistematis pada keberlangsungan bisnis Ubisoft. Masalah ini dinilai lebih fatal dibandingkan perdebatan mengenai unsur DEI di dalam game.

Kondisi ini membuat karyawan yang lebih berpengalaman sulit untuk mengambil kendali atau melakukan perubahan arah kebijakan. Akibatnya, inovasi menjadi terhambat dan perusahaan kesulitan melahirkan produk hit yang baru.

Pandangan dari sisi internal ini memberikan gambaran bahwa tantangan Ubisoft lebih mengarah pada reformasi birokrasi dan kualitas kepemimpinan. Kini publik menanti bagaimana langkah strategis perusahaan untuk bangkit dari keterpurukan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi