Mahasiswa ITS Rancang Sistem Aduan Kekerasan Seksual yang Mampu Deteksi Area Rawan

Mahasiswa ITS Rancang Sistem Aduan Kekerasan Seksual yang Mampu Deteksi Area Rawan
Foto: Ilustrasi Mahasiswa ITS Rancang Sistem Aduan Kekerasan Seksual yang Mampu Deteksi Area Rawan.
Ukuran teks

Angka kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi masih menunjukkan tren yang mengkhawatirkan hingga saat ini. Berdasarkan data dari Komnas Perempuan tahun 2024, tercatat ada sebanyak 4.178 kasus kekerasan yang terjadi di kampus.

Kondisi ini mendorong sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk menciptakan solusi inovatif bernama ITSafe. Platform ini dirancang khusus untuk melindungi mahasiswa dan meningkatkan keamanan di lingkungan kampus mereka.

Inovasi ini lahir dari buah pemikiran tim mahasiswa yang tergabung dalam kelompok 7 Kemah Kerja Geomatika ITS. Anggota tim tersebut terdiri dari Josephine Novellia A, Duta Satrio Wibowo, Muhammad Farid Farhan, Farrel Valentino Y, dan Ananda Adellia.

Dalam proses pengembangannya, mereka menjalin kerja sama dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) ITS. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan sistem yang dibangun selaras dengan prosedur penanganan kampus.

Mengenal ITSafe: Sistem Aduan Berbasis Pemetaan

ITSafe hadir sebagai ruang aman bagi mahasiswa dengan mengandalkan sistem pelaporan berbasis crowdsourcing. Platform ini memanfaatkan teknologi pemetaan spasial untuk mengidentifikasi titik-titik lokasi yang dinilai rawan tindakan asusila.

Laporan yang bisa masuk ke sistem ini mencakup berbagai bentuk pelecehan, mulai dari siulan nakal atau catcalling hingga tindakan yang lebih serius. Dengan sistem ini, area yang berisiko bagi mahasiswa dapat terpantau secara digital.

Ketua Satgas PPK ITS, Prida Novarita Trisanti ST MT, memberikan apresiasi tinggi terhadap kehadiran kanal aduan mandiri ini. Menurutnya, inovasi ini sangat membantu tim satgas dalam melakukan tindak lanjut atas setiap laporan yang masuk.

Pihak kampus kini memiliki referensi data yang akurat untuk melakukan evaluasi keamanan di berbagai sudut lingkungan ITS. Data tersebut menjadi landasan penting dalam menentukan langkah mitigasi risiko kekerasan seksual di masa depan.

Langkah strategis yang dilakukan kampus melalui bantuan data ITSafe antara lain:

  • Menambah jumlah titik pemasangan CCTV di lokasi yang dianggap rawan dan tersembunyi.
  • Memperbaiki sistem penerangan jalan dan lorong gedung yang selama ini dinilai masih minim cahaya.
  • Meningkatkan frekuensi patroli oleh satuan keamanan pada area dengan tingkat kerawanan tinggi.

Prida menegaskan bahwa informasi dari mahasiswa sangat krusial untuk memahami kekurangan fasilitas keamanan di lapangan. Melalui platform ini, aspirasi dan kekhawatiran mahasiswa bisa tersampaikan secara sistematis kepada pihak pengelola kampus.

Fitur Unggulan dan Kerahasiaan Identitas

Sebagai platform yang berfokus pada keamanan pengguna, ITSafe dilengkapi dengan berbagai fitur fungsional. Fitur-fitur tersebut dirancang agar mudah digunakan namun tetap memberikan data yang mendalam bagi analisis keamanan.

Berikut adalah beberapa fitur utama yang dapat ditemukan pengguna di dalam website ITSafe:

Fitur Utama Fungsi dan Manfaat bagi Pengguna
Formulir Pelaporan Sarana untuk menyampaikan aduan secara anonim tanpa data diri sensitif.
Peta Area Rawan Visualisasi digital lokasi yang sering dilaporkan terjadi tindakan asusila.
Analisis Heatmap Gambaran skor intensitas kerawanan di wilayah tertentu berdasarkan data laporan.
Status Kelayakan Informasi mengenai kondisi fasilitas fisik seperti lampu dan aksesibilitas area.

Tabel di atas merangkum bagaimana ITSafe bekerja dalam mengolah data dari mahasiswa menjadi informasi yang berguna bagi publik. Fokus utamanya adalah memberikan perlindungan melalui keterbukaan informasi mengenai area berisiko.

Prosedur Pelaporan yang Menjamin Privasi

Keamanan identitas pelapor menjadi prioritas utama dalam operasional ITSafe guna mendorong keberanian mahasiswa untuk bersuara. Sistem ini tidak meminta data diri lengkap, sehingga pelapor tidak perlu merasa khawatir akan privasi mereka.

Pelapor hanya diwajibkan mencantumkan alamat email, peran mereka di kampus, serta jenis kelamin. Selanjutnya, pengguna diminta menandai titik lokasi kejadian dan mendeskripsikan kondisi lingkungan tempat kekerasan seksual tersebut dialami.

Josephine Novellia menjelaskan bahwa tahap terakhir dalam pelaporan adalah pengisian kronologi singkat mengenai pengalaman di area tersebut. Data ini akan diproses untuk menjadi panduan bagi pengunjung lain saat melewati daerah tersebut.

Fitur peta digital pada situs ini memungkinkan pengguna memantau tingkat konsentrasi kerawanan secara real-time. Melalui visualisasi heatmap, area dengan laporan terbanyak akan terlihat memiliki warna atau skor yang lebih tinggi.

Duta Satrio Wibowo menambahkan bahwa visualisasi ini murni didasarkan pada persepsi dan laporan nyata dari para pengguna. Jika ditemukan laporan yang mendesak, data tersebut akan segera diteruskan kepada Satgas PPK ITS untuk investigasi lebih lanjut.

Artikel terkait

Rekomendasi