Luis Enrique sukses membawa Paris Saint-Germain (PSG) mengukir sejarah dengan menjuarai Liga Champions selama dua musim berturut-turut. Keberhasilan ini membuat sang pelatih semakin ambisius untuk mengejar gelar ketiga pada musim mendatang.
Kemenangan dramatis PSG diraih setelah menumbangkan Arsenal melalui drama adu penalti di Puskas Arena, Budapest. Kedua tim sebelumnya bermain imbang 1-1 hingga babak tambahan waktu 120 menit berakhir pada Sabtu malam.
Jalannya Pertandingan Final yang Sengit
Arsenal sebenarnya sempat memimpin lebih dulu berkat gol cepat yang dicetak oleh Kai Havertz pada menit keenam. Namun, setelah unggul, tim asuhan Mikel Arteta tersebut memilih untuk bermain lebih bertahan dan menumpuk pemain di area belakang.
Strategi bertahan total ini sempat membuat barisan penyerang PSG frustrasi, terutama sepanjang babak pertama. Les Parisiens kesulitan menembus tembok kokoh Arsenal yang menghentikan upaya pressing agresif mereka.
Memasuki babak kedua, PSG meningkatkan intensitas serangan dan tempo permainan demi mengejar ketertinggalan. Tekanan tanpa henti tersebut akhirnya membuahkan hasil saat akselerasi Khvicha Kvaratskhelia memaksa pemain lawan melakukan pelanggaran di kotak terlarang.
Ousmane Dembele yang maju sebagai algojo penalti berhasil menjalankan tugasnya dengan tenang dan sempurna. Skor pun berubah menjadi imbang, yang bertahan hingga laga harus ditentukan lewat adu tos-tosan.
Berikut adalah ringkasan singkat jalannya pertandingan final Liga Champions 2025/26:
- Gol Pembuka: Kai Havertz membawa Arsenal unggul pada menit ke-6 melalui skema serangan cepat.
- Penyeimbang: Ousmane Dembele menyamakan kedudukan lewat titik putih di babak kedua setelah aksi individu Kvaratskhelia.
- Durasi Laga: Skor imbang 1-1 bertahan selama 90 menit waktu normal hingga 30 menit babak tambahan.
- Penentu Kemenangan: Kegagalan Gabriel Magalhaes sebagai eksekutor kelima Arsenal memastikan trofi jatuh ke tangan PSG.
Kemenangan PSG dipastikan setelah bola hasil tendangan Gabriel Magalhaes melambung tinggi di atas mistar gawang. Hasil ini memicu perayaan besar bagi seluruh elemen klub asal Prancis tersebut di atas lapangan.
Ambisi Besar Luis Enrique untuk Musim Depan
Luis Enrique menegaskan bahwa timnya sangat layak mendapatkan pencapaian luar biasa ini. Ia pun mengenang perjalanan berat PSG yang sempat mengawali musim dengan performa yang kurang meyakinkan.
Perjalanan PSG menuju tangga juara memang tidak mudah karena mereka harus melewati babak play-off 16 besar terlebih dahulu. Namun, mereka mampu bangkit dan menyingkirkan raksasa Eropa lainnya seperti Liverpool dan Bayern Munich.
Statistik perjalanan PSG menuju gelar juara Liga Champions musim ini:
| Fase Turnamen | Lawan / Catatan Penting |
|---|---|
| Awal Musim | Sempat mengalami masa sulit di fase grup. |
| Play-off 16 Besar | Lolos secara dramatis untuk masuk ke fase gugur. |
| Perempat & Semi Final | Menumbangkan tim unggulan Liverpool dan Bayern Munich. |
| Final | Menang adu penalti melawan Arsenal di Budapest. |
Tabel di atas merangkum betapa berlikunya perjuangan anak asuh Luis Enrique sebelum akhirnya berhasil mempertahankan mahkota juara. Kegigihan tim menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan di setiap babak.
Enrique merasa bangga dengan cara anak asuhnya bermain secara konsisten sepanjang kompetisi berlangsung. Menurutnya, karakter yang ditunjukkan para pemain menjadi alasan kuat mengapa mereka pantas berada di podium tertinggi.
“Kami sangat bahagia dan akan berusaha kembali berada di posisi ini tahun depan,” ujar Enrique dikutip dari laman resmi UEFA. Ia juga menutup pernyataannya dengan tantangan terbuka untuk meraih gelar juara lagi di musim depan.