Menjelang datangnya musim libur sekolah tahun 2026, Kementerian Pariwisata memperkuat komitmennya untuk memajukan sektor pariwisata domestik. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah dengan mendorong masyarakat agar lebih memilih berwisata belanja di dalam negeri.
Kementerian Pariwisata menggandeng berbagai pihak strategis untuk menyukseskan agenda besar ini. Kolaborasi ini melibatkan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) serta Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI).
Selain itu, Kementerian Perdagangan dan Kementerian UMKM turut serta dalam sinergi lintas sektoral tersebut. Kerja sama ini ditandai dengan peluncuran kampanye bertajuk BINA Holiday & Back to School 2026.
Kampanye BINA, yang merupakan singkatan dari Belanja di Indonesia Aja, hadir sebagai sebuah gerakan diskon berskala nasional. Inisiatif ini menyatukan berbagai promo menarik dari sektor pariwisata, pusat perbelanjaan, transportasi, hingga produk UMKM.
Tujuan utamanya adalah memacu aktivitas belanja masyarakat serta meningkatkan minat wisata domestik sepanjang liburan sekolah. Program ini diharapkan dapat menghidupkan kembali gairah ekonomi di berbagai daerah.
Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi ini dalam acara perayaan HUT ke-10 HIPPINDO. Ia menyebutkan bahwa sinergi antar-lembaga merupakan kunci utama untuk mendorong pergerakan wisatawan.
Menurut Ni Luh, program belanja tahunan yang digagas oleh HIPPINDO selalu menjadi momentum yang dinantikan. Program tersebut tidak hanya menyasar pasar di Jakarta, tetapi juga menjangkau seluruh pelosok Indonesia.
Ia menekankan bahwa inisiatif seperti ini sangat efektif untuk meningkatkan mobilitas wisatawan nusantara. Tak hanya turis lokal, wisatawan mancanegara juga diharapkan tertarik untuk memanfaatkan promo belanja ini.
Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai stimulus pendukung untuk mempermudah aksesibilitas para pelancong. Salah satu fokus utamanya adalah penyediaan diskon besar-besaran di sektor transportasi publik.
Daftar stimulus transportasi yang disiapkan pemerintah selama periode liburan sekolah:
- Potongan harga tiket kereta api untuk mempermudah mobilisasi jalur darat.
- Diskon tarif angkutan laut yang dikelola oleh PT Pelni bagi wisatawan antar-pulau.
- Penawaran khusus dari ASDP untuk layanan penyeberangan di berbagai pelabuhan utama.
- Pemberian stimulus berupa diskon PPN sebesar 100 persen yang ditanggung pemerintah untuk mengatasi dampak kenaikan harga avtur.
Kebijakan keringanan pajak dan diskon tiket ini dipastikan akan terus berlanjut hingga masa libur sekolah usai. Ni Luh berharap konektivitas yang terjamin akan membuat wisatawan lebih nyaman berpindah dari satu destinasi ke destinasi lainnya.
Strategi Pengembangan Pola Wisata Belanja
Ni Luh Puspa juga menyoroti pentingnya merancang pola perjalanan wisata yang terstruktur, terutama bagi segmen wisata belanja. Ia menilai libur sekolah adalah momen strategis untuk mendongkrak tingkat konsumsi masyarakat secara nasional.
Sinergi dalam gerakan Belanja di Indonesia Aja (BINA) dianggap sudah berada di jalur yang tepat. Namun, Ni Luh memandang perlu adanya panduan khusus atau rute perjalanan belanja yang jelas bagi para turis.
Ia mencontohkan bagaimana wisatawan dari Malaysia dan Singapura di masa lalu menjadikan Bandung sebagai tujuan utama untuk berbelanja. Wisatawan asing tersebut biasanya sudah memiliki daftar lokasi belanja yang pasti dan terorganisir.
Menurutnya, kolaborasi yang lebih kuat harus diwujudkan dalam bentuk pembuatan pola perjalanan wisata belanja yang resmi. Hal ini akan mempermudah pemerintah dan pelaku usaha dalam melakukan promosi secara lebih terarah.
Dengan adanya pola perjalanan tersebut, promosi pariwisata tidak hanya akan terfokus pada destinasi alam atau budaya. "Atraksi" baru yang ditawarkan adalah pesta diskon di mal-mal serta pusat perbelanjaan terkemuka di tanah air.
Lebih lanjut, Wamenpar berharap kampanye besar ini mampu meningkatkan rata-rata pengeluaran (average of spending) para pelancong. Hal ini sangat krusial untuk memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi para pelaku usaha lokal.
Momentum liburan sekolah tahun 2026 ini juga dipandang sebagai peluang emas bagi produk-produk asli Indonesia untuk bersaing di level global. Promosi yang gencar diharapkan dapat mengubah pola pikir masyarakat mengenai produk dalam negeri.
Ni Luh berambisi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk negara tetangga. Sebaliknya, ia ingin warga Malaysia, Singapura, hingga Thailand datang ke Indonesia khusus untuk memburu merek-merek lokal unggulan kita.
Upaya untuk menggencarkan promosi merek lokal harus terus ditingkatkan agar menjadi daya tarik utama bagi wisatawan asing. Dengan kualitas yang bersaing, produk Indonesia diharapkan mampu menjadi primadona di pasar internasional.
Menutup pernyataannya, Ni Luh menekankan bahwa kesuksesan kampanye ini bergantung pada dukungan seluruh lapisan masyarakat. Mencintai dan membeli produk dalam negeri adalah langkah nyata untuk memperkuat kedaulatan ekonomi bangsa.