Kuba Dilaporkan Borong 300 Drone Rusia dan Iran, AS Waspadai Potensi Serangan di 2026

Kuba Dilaporkan Borong 300 Drone Rusia dan Iran, AS Waspadai Potensi Serangan di 2026
Foto: Ilustrasi Kuba Dilaporkan Borong 300 Drone Rusia dan Iran, AS Waspadai Potensi Serangan di 2026.
Ukuran teks

Kuba dikabarkan telah berhasil mendapatkan lebih dari 300 unit drone militer berdasarkan informasi intelijen rahasia yang dikutip oleh media Axios. Laporan yang dirilis pada Minggu (17/5/2026) tersebut mengungkap adanya rencana penggunaan pesawat nirawak ini untuk menyasar fasilitas militer Amerika Serikat.

Target potensial yang disebutkan mencakup pangkalan angkatan laut di Teluk Guantanamo, kapal-kapal militer AS, hingga wilayah Key West di Florida. Pemerintah di bawah kepemimpinan Donald Trump dilaporkan sangat mengkhawatirkan pesatnya perkembangan teknologi drone tersebut.

Ancaman Keamanan dan Peran Aktor Luar

Kecemasan Washington semakin meningkat menyusul laporan mengenai kehadiran penasihat militer Iran di Havana. Seorang pejabat senior Amerika Serikat menyatakan bahwa situasi ini menciptakan ancaman keamanan yang sangat serius bagi negaranya.

Kedekatan geografis Kuba dengan wilayah AS menjadi faktor utama yang memicu kewaspadaan tinggi. Pejabat yang enggan disebutkan namanya itu memperingatkan bahwa ancaman akan terus berkembang seiring keterlibatan berbagai aktor berbahaya.

Beberapa pihak yang diwaspadai terlibat dalam dinamika keamanan ini meliputi:

  • Pemerintah Iran dan Rusia sebagai penyedia teknologi.
  • Kelompok teroris yang berpotensi memanfaatkan celah keamanan.
  • Kartel narkoba internasional yang aktif di kawasan tersebut.
  • Penasihat militer asing yang memberikan pelatihan teknis.

Informasi dari pejabat AS kepada Axios juga menyebutkan bahwa Kuba secara aktif membeli drone serang dari Rusia dan Iran sejak tahun 2023. Saat ini, negara kepulauan tersebut dikabarkan tengah berupaya menambah armada tempur udara mereka dalam jumlah yang lebih besar.

Respons Keras Pemerintah Kuba

Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez Parrilla, memberikan respons tegas melalui platform media sosial X. Ia menuduh Amerika Serikat sengaja menciptakan narasi palsu untuk menyudutkan negaranya di mata internasional.

Menurut Rodriguez, tuduhan ini merupakan rekayasa untuk melegalkan perang ekonomi dan sanksi yang selama ini mencekik rakyat Kuba. Ia menegaskan bahwa Kuba sama sekali tidak memiliki niat untuk mengancam pihak mana pun apalagi memicu peperangan.

Meski memberikan pembelaan yang cukup panjang, Rodriguez diketahui tidak memberikan bantahan langsung terkait kepemilikan drone militer tersebut. Fokus pernyataannya lebih tertuju pada kritik terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dianggap agresif.

Tekanan Diplomatik yang Semakin Kuat

Laporan mengenai ancaman drone ini muncul berbarengan dengan meningkatnya tekanan diplomatik dari Gedung Putih. Saat ini, pemerintah Amerika Serikat dikabarkan tengah mempersiapkan langkah hukum untuk mendakwa Raul Castro, mantan Presiden Kuba.

Ketegangan ini semakin terlihat nyata setelah Direktur CIA, John Ratcliffe, melakukan kunjungan mendadak ke Havana pada Kamis (14/5/2026). Kunjungan ini dinilai banyak pihak sebagai sinyal serius dari Washington dalam merespons situasi di negara kepulauan tersebut.

Berikut adalah ringkasan perkembangan situasi antara AS dan Kuba:

Waktu Kejadian Peristiwa Penting
Tahun 2023 Kuba mulai membeli drone serang dari Rusia dan Iran.
14 Mei 2026 Direktur CIA melakukan kunjungan mendadak ke Kuba.
17 Mei 2026 Laporan intelijen mengenai 300 drone militer Kuba dipublikasikan.
Mei 2026 Muncul rencana pendakwaan terhadap Raul Castro oleh otoritas AS.

Data di atas menunjukkan eskalasi konflik yang terjadi dalam waktu singkat. Dinamika ini memperlihatkan bahwa hubungan kedua negara kembali memasuki masa sulit dengan risiko keamanan yang semakin kompleks di kawasan Karibia.

Artikel terkait

Rekomendasi