Krisis Iklim Ancam Kesehatan, Sejauh Mana Kesiapan Layanan Primer Indonesia di 2026?

Krisis Iklim Ancam Kesehatan, Sejauh Mana Kesiapan Layanan Primer Indonesia di 2026?
Foto: Krisis Iklim Ancam Kesehatan, Sejauh Mana Kesiapan Layanan Primer Indonesia di 2026?. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Perubahan iklim kini bukan lagi sekadar isu lingkungan, namun mulai berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Risiko kesehatan seperti malnutrisi, diare, malaria, dan stres akibat tekanan panas semakin meningkat. Menurut World Health Organization (WHO), perubahan iklim diperkirakan akan menyebabkan sekitar 250.000 kematian tambahan setiap tahun antara 2030 dan 2050. Indonesia, sebagai negara berkembang, dinilai sangat rentan terhadap ancaman ini.

Pada ajang KONEKSI KIE Jakarta Summit 2026, isu ini dibahas dalam sesi "Perubahan Iklim dan Dampaknya terhadap Kesehatan," menyoroti riset kolaboratif antara Universitas Udayana dan Australian National University. I Nyoman Sutarsa, peneliti utama dari ANU, mengatakan bahwa sebagian besar layanan kesehatan di Indonesia telah menyadari ancaman perubahan iklim ini. Meski begitu, upaya adaptasi yang ada sejauh ini masih terbatas pada langkah preventif.

Sutarsa menambahkan, keterbatasan ini dipengaruhi oleh belum adanya panduan operasional yang jelas di tingkat dinas kesehatan dan puskesmas dalam menghadapi dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Mengingat puskesmas adalah layanan kesehatan yang paling dekat dan mudah diakses masyarakat, penguatan kapasitas tenaga kesehatan di tingkat dasar sangat penting untuk kesiapsiagaan nasional.

Di sisi lain, peneliti Anak Agung Sagung Sawitri berpendapat bahwa pemerintah tidak perlu membangun program baru dari awal untuk menanggulangi ancaman ini. Sebaliknya, ada peluang untuk mengoptimalkan pendekatan "climate lens" dalam sistem kesehatan yang saat ini ada. Pendekatan ini mengintegrasikan data lingkungan dan data penyakit sehingga layanan kesehatan dapat lebih cepat mengidentifikasi pola risiko yang muncul akibat perubahan lingkungan.

Menurut Sawitri, Standar Operasional Prosedur (SOP) di layanan kesehatan primer juga perlu disesuaikan untuk lebih sensitif terhadap kelompok masyarakat yang paling terdampak perubahan iklim, seperti masyarakat pesisir, lansia, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya. Adaptasi ini penting agar layanan kesehatan bisa lebih responsif terhadap kondisi cuaca ekstrem dan meningkatnya risiko penyakit.

Artikel terkait

Rekomendasi