Krisis AS-Iran Memanas, Konflik Hampir 100 Hari Tanpa Solusi Terlihat

Krisis AS-Iran Memanas, Konflik Hampir 100 Hari Tanpa Solusi Terlihat
Foto: Krisis AS-Iran Memanas, Konflik Hampir 100 Hari Tanpa Solusi Terlihat. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat mendekati hari ke-100 konflik, dengan kedua pihak masih berselisih terkait kemungkinan gencatan senjata. Presiden Donald Trump mengesampingkan proposal damai dari Iran, menyebutnya sebagai "sampah," sementara ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut. Teheran menegaskan bahwa mereka bersama Oman memiliki kedaulatan atas Selat Hormuz.

Situasi ini semakin memanas setelah terjadi pertempuran antara Hizbullah dan Israel di Lebanon selatan. Iran tetap bersikeras bahwa gencatan senjata di wilayah tersebut harus dicapai sebelum perjanjian dengan AS dapat dibuat. Penasihat militer untuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menekankan bahwa keputusan ada di tangan Trump dan mendesak pembebasan aset senilai US$24 miliar.

Presiden Trump selama ini kerap menyatakan bahwa Iran mendekati titik kritis. Pada hari Jumat, ia mengungkapkan kepada wartawan bahwa AS telah mencapai kesuksesan besar dalam menghadapi Iran dan menegaskan bahwa mereka tidak berada dalam posisi memiliki senjata nuklir.

Berita Lainnya yang Relevan:

  • Nego Damai AS-Iran terhenti setelah Hizbullah menolak gencatan senjata. Ini menambah risiko keamanan nuklir yang lebih mengkhawatirkan dibandingkan krisis ekonomi menurut Menteri Luar Negeri AS.
  • Israel dan Lebanon menyatakan kesiapan untuk berdamai jika Hizbullah menghentikan serangan mereka.

Di sisi lain, ada dampak ekonomi yang signifikan dari konflik ini. Ekspor aluminium Indonesia ke AS berpotensi meningkat, sementara penurunan harga emas disebabkan oleh ketidakpastian dalam negosiasi AS-Iran. Indeks Wall Street mengalami penurunan akibat lonjakan harga minyak yang dipicu oleh ketegangan tersebut.

Sementara itu, di belahan dunia lain, Vladimir Putin menolak upaya Eropa untuk menjadi mediator dalam konflik Rusia-Ukraina. Sedangkan AS telah menjatuhkan sanksi terhadap Presiden Kuba. Perdagangan saham di pasar Asia diperkirakan akan mengalami penurunan.

Artikel terkait

Rekomendasi