Jakarta - Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini, menyoroti potensi kenaikan harga obat di Indonesia sebagai dampak dari melemahnya rupiah. Yahya menyatakan bahwa 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih harus diimpor.
Prihatin Kenaikan Harga:
Yahya mengungkapkan keprihatinannya terkait rencana kenaikan harga obat yang dapat memberatkan masyarakat. "Rencana kenaikan harga obat ini tidak terhindarkan karena pengaruh nilai tukar dolar yang terus menguat," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (6/6/2026). Ia menyoroti bahwa ketergantungan pada impor bahan baku menyebabkan harga obat sangat sensitif terhadap fluktuasi dolar.
Komisi IX DPR mendesak agar jika kenaikan harga obat memang tidak dapat dihindari, sebaiknya dilakukan secara perlahan. "Saya berharap kenaikan ini dilakukan bertahap agar tidak semakin membebani masyarakat, terlebih di tengah kondisi sulit saat ini dengan harga kebutuhan pokok yang terus meningkat," tambahnya.
Membangun Pabrik Bahan Baku Lokal:
Yahya juga mendorong agar Indonesia dapat membangun pabrik bahan baku obat sendiri. Hal ini bertujuan mengurangi ketergantungan impor. Ia meminta kerjasama antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, Kemenristekdikti, dan BRIN untuk mewujudkan hal tersebut.
"Pemerintah, melalui Kemenkes dan Kemenperin, sebaiknya mendorong BUMN dan swasta untuk membangun pabrik bahan baku dalam negeri," ujarnya. "Untuk mencapai hal ini, riset dan pengembangan yang kuat serta dukungan anggaran yang memadai sangat penting. Kerjasama lintas kementerian dan lembaga juga diperlukan," lanjut Yahya.
Sosialisasi dan Koordinasi:
Yahya menekankan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat sebelum naiknya harga obat diterapkan. Komisi IX DPR juga ingin mendapat penjelasan lebih lanjut terkait potensi kenaikan harga ini. "Sebelum penetapan kenaikan harga, sosialisasi harus dilakukan agar masyarakat tidak kaget," jelasnya.
Dia juga meminta agar BPOM berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait sebelum memutuskan kenaikan harga obat. "Hingga saat ini, Komisi IX belum mendapatkan laporan mengenai rencana kenaikan harga tersebut," tambah Yahya.
Sebelumnya, Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengomentari potensi kenaikan harga obat akibat melemahnya rupiah di kala bahan baku masih diimpor dalam jumlah besar. Taruna menekankan bahwa industri farmasi perlu melakukan penyesuaian harga untuk tetap bertahan. "Industri farmasi harus menyesuaikan harga agar dapat bertahan. Namun, pemerintah berharap kenaikan tidak terlalu tinggi," jelas Taruna pada wartawan di Kantor BPOM, dilansir detikHealth Selasa (2/6/2026).
Untuk mengatasi kenaikan harga, langkah-langkah seperti penyesuaian kemasan dan mencari pemasok bahan baku berharga lebih terjangkau dari negara lain sedang dipertimbangkan.
```