Minum kopi kini bukan sekadar gaya hidup untuk mengusir rasa kantuk, melainkan juga sarana mendapatkan asupan antioksidan melimpah yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Mengonsumsi kopi secara rutin diketahui mampu meningkatkan fokus serta fungsi kognitif, sekaligus membantu melawan peradangan dan meminimalkan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe dua hingga kanker.
Manfaat luar biasa dari komoditas ini tidak hanya dirasakan oleh penikmatnya, tetapi juga memberi dampak positif bagi kelestarian aliran Sungai Pusur di Kabupaten Boyolali. Melalui budidaya kopi arabika di Dukuh Gumuk, Desa Mriyan, masyarakat setempat menerapkan metode agroforestri guna menjaga wilayah hulu sungai yang melintasi Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo.
Sistem Agroforestri dan Konservasi Alam
Agroforestri sendiri merupakan metode pengelolaan lahan yang memadukan penanaman pohon kayu dengan tanaman pertanian atau peternakan dalam satu kawasan yang terpadu. Implementasi sistem ini di Boyolali bertujuan untuk menggenjot produktivitas lahan sekaligus melindungi ekosistem sekitar, terutama dalam mencegah erosi tanah dan menjaga kesuburannya.
Joko Susanto selaku Ketua Padepokan Konservasi Ekologi Masyarakat (Pakem) menjelaskan bahwa tanaman kopi sangat mudah dikelola karena ketinggian pohonnya bisa diatur melalui pemangkasan rutin. Hal ini memastikan keberadaan tanaman kopi tidak akan mengganggu komoditas lain yang sudah lebih dulu ditanam oleh petani, seperti tembakau atau bunga mawar.
Keunikan kopi dari Dukuh Gumuk terletak pada metode tumpang sari yang melibatkan pohon alpukat, mawar, dan tembakau di area yang sama secara berdampingan. Interaksi antar tanaman ini menghasilkan profil rasa yang unik, di mana kopi yang dipanen memiliki sentuhan aroma wangi mawar serta aroma tembakau yang khas.
Produk yang kemudian dikenal dengan nama "Kopi Gumuk" ini merupakan bagian dari program kopi konservasi dengan karakter rasa yang cenderung asam serta ringan di lidah. Karakteristik tersebut membuat kopi ini sangat bersahabat bagi orang yang tidak terbiasa dengan rasa pahit kopi yang kuat, bahkan tetap nikmat meski diteguk tanpa pemanis.
Komitmen Keberlanjutan dari Hulu ke Hilir
Inisiatif budidaya kopi dengan konsep agroforestri ini telah dimulai sejak tahun 2017 melalui dukungan dari pihak Aqua sebagai langkah nyata konservasi air. Program ini dirancang untuk memastikan ketersediaan air tetap berkelanjutan, menjaga kemurnian sumber daya air, serta melestarikan keanekaragaman hayati yang ada di ekosistem tersebut.
Jeffri Ricardo yang menjabat sebagai Senior Manager Public Affairs and Sustainability Aqua menyatakan komitmen perusahaan untuk mengembalikan air ke alam dalam jumlah yang lebih besar. Perusahaan menjalankan pendekatan intervensi yang terintegrasi secara menyeluruh mulai dari wilayah hulu hingga ke wilayah hilir aliran sungai.
Upaya pelestarian di area hulu Sungai Pusur ternyata tidak terbatas pada tanaman kopi saja, melainkan mencakup beragam aktivitas lingkungan yang sangat luas. Beberapa di antaranya meliputi pembudidayaan anggrek, pemanfaatan tanaman herbal, pembentukan pusat belajar konservasi, hingga menjalin kemitraan strategis dengan pihak Taman Nasional Gunung Merapi.
Kegiatan konservasi juga menyentuh bagian tengah dan hilir sungai melalui praktik pertanian regeneratif, pembuatan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati), serta pemantauan kualitas air. Pihak pengelola secara konsisten menjaga rumah sumber air dan mengoperasikan laboratorium biotilik untuk memastikan ekosistem sungai tetap sehat dan berfungsi maksimal bagi masyarakat.
Seluruh proses transformasi lingkungan ini melibatkan kolaborasi erat dengan berbagai pemangku kepentingan yang tergabung dalam Pusur Institut guna mencapai hasil yang optimal. Pelaksanaan program didasarkan pada identifikasi masalah melalui kajian ilmiah yang mendalam bersama akademisi untuk menentukan titik-titik area resapan air yang paling efektif untuk diintervensi.