Ibu kota Greenland, Nuuk, baru saja diramaikan oleh aksi unjuk rasa ratusan warga setempat di depan kantor konsulat Amerika Serikat yang baru. Massa berkumpul pada Jumat (22/5/2026) guna menyatakan keberatan terhadap ambisi Presiden Donald Trump dalam memperluas pengaruhnya di pulau tersebut.
Demonstrasi ini berlangsung tepat saat utusan khusus Presiden AS, Jeff Landry, mengakhiri kunjungan pertamanya ke wilayah otonom yang berada di bawah kedaulatan Denmark tersebut. Kehadiran Landry dan pembukaan konsulat baru merupakan bagian dari upaya diplomatik AS setelah sebelumnya sempat memicu ketegangan akibat klaim Trump.
Ratusan demonstran melakukan long march melintasi pusat kota Nuuk sambil menyuarakan yel-yel yang menegaskan bahwa tanah Greenland adalah milik penduduk aslinya. Setibanya di depan gedung konsulat, mereka melakukan aksi simbolis dengan berdiri membelakangi bangunan tersebut sebagai bentuk penolakan.
Aqqalukkuluk Fontain, koordinator aksi yang berusia 37 tahun, menegaskan kepada BBC bahwa pemerintah setempat sudah memberikan jawaban yang sangat jelas kepada Donald Trump. Ia menyatakan bahwa Greenland bukanlah wilayah yang bisa diperjualbelikan kepada pihak mana pun.
Pernyataan tegas penggerak aksi massa terhadap upaya AS :
- Menekankan kedaulatan penuh Greenland atas wilayahnya sendiri.
- Menyampaikan pesan kepada masyarakat global bahwa prinsip demokrasi menghargai kata "tidak".
- Menolak segala bentuk intervensi politik maupun ekonomi dari pihak luar yang bersifat memaksa.
Fontain menambahkan bahwa aspirasi ini tidak hanya ditujukan untuk Gedung Putih, melainkan juga untuk seluruh rakyat Amerika dan komunitas internasional. Menurutnya, penolakan warga harus dihormati sebagai keputusan final dalam sebuah sistem dunia yang demokratis.
Keresahan senada juga diungkapkan oleh Inge Bisgaard, salah satu peserta unjuk rasa, yang memandang kunjungan Landry sebagai tindakan yang tidak menghargai warga lokal. Ia menyebutkan bahwa ketakutan publik berakar dari sikap agresif Amerika Serikat yang terus berusaha mengintervensi urusan mereka.
Bisgaard mengenang kembali gejolak yang dimulai pada Januari lalu saat Trump menyatakan ambisinya untuk menguasai Greenland. Hal ini membuat masyarakat merasa tidak tenang karena isu tersebut terus diungkit meskipun sudah pernah mendapat penolakan keras.
Demonstran lainnya, Parnuna Olsen, turut mempertanyakan urgensi keberadaan kantor konsulat Amerika Serikat di tanah mereka. Kedatangan Jeff Landry sendiri dianggap kontroversial karena dinilai dilakukan tanpa adanya undangan resmi dari otoritas setempat.
Saat ini, pembicaraan di tingkat atas masih terus berlangsung untuk mendinginkan krisis diplomatik yang dipicu oleh keinginan Trump mengendalikan wilayah itu. Meski demikian, pihak AS tampak tetap melanjutkan agenda mereka dengan peresmian fasilitas baru di sana.
Detail mengenai fasilitas konsulat Amerika Serikat di Nuuk :
| Kategori Informasi | Detail Keterangan |
|---|---|
| Luas Bangunan | Sekitar 3.000 meter persegi |
| Lokasi | Pusat kota Nuuk yang sangat strategis |
| Julukan Lokal | Menara Trump (Trump Tower) |
| Pejabat Peresmian | Duta Besar AS untuk Denmark, Kenneth Howery |
Gedung yang menempati lokasi prestisius ini justru mendapat cibiran dari warga sekitar dengan julukan "Menara Trump". Penduduk setempat menganggap peningkatan fasilitas diplomatik ini sebagai langkah yang tidak diinginkan di tengah hubungan yang sedang sensitif.
Dalam acara peresmian, Duta Besar Kenneth Howery menyingkap sebuah plakat sebagai tanda dimulainya operasional konsulat tersebut. Ia menyampaikan harapannya agar kantor baru ini dapat menjadi jembatan untuk membangun kemitraan yang lebih mendalam dengan Greenland di masa depan.
Namun, harapan diplomatik tersebut kontras dengan realitas di lapangan, di mana warga masih dihantui oleh unggahan provokatif Trump di media sosial. Ilustrasi Trump yang menancapkan bendera AS di atas tanah Greenland menjadi simbol yang terus memicu kemarahan publik setempat.