KOI: Anggaran Efisien Tak Boleh Halangi Prestasi di Asian Games

KOI: Anggaran Efisien Tak Boleh Halangi Prestasi di Asian Games
Foto: Ilustrasi KOI: Anggaran Efisien Tak Boleh Halangi Prestasi di Asian Games.
Ukuran teks

Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI), Raja Sapta Oktohari, memberikan penegasan bahwa kebijakan efisiensi anggaran pemerintah tidak semestinya menghambat pencapaian target kontingen Indonesia pada Asian Games 2026. Hal ini disampaikan menyusul kebijakan penghematan anggaran di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang turut memberikan dampak signifikan terhadap alokasi dana untuk Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Sebagai gambaran nyata dari kebijakan tersebut, Kemenpora harus menghadapi pemangkasan anggaran yang sangat besar untuk tahun 2025, yakni mencapai Rp1,46 triliun atau sekitar 62,9 persen dari total pagu awal sebesar Rp2,33 triliun. Meskipun besaran pengurangan untuk anggaran tahun 2026 belum dapat dipastikan nilainya, kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap persiapan ajang olahraga multievent terbesar di Asia tersebut mulai muncul ke permukaan.

Kategori Anggaran Kemenpora 2025 Nilai/Persentase
Pagu Anggaran Awal Rp2,33 triliun
Besar Pemangkasan Rp1,46 triliun
Persentase Pemotongan 62,9 persen

Dalam Rapat Anggota KOI 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Sabtu (9/5), Raja Sapta Oktohari menekankan bahwa tugas utama bagi setiap atlet, pelatih, serta pengurus cabang olahraga adalah fokus sepenuhnya pada program latihan dan kompetisi. Ia menegaskan bahwa segala bentuk tantangan finansial tidak boleh menyurutkan semangat juang untuk mengibarkan bendera Merah Putih dan memperdengarkan lagu Indonesia Raya di kancah internasional.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Raja Okto tersebut menyatakan kesiapannya untuk terus berjuang bersama seluruh elemen olahraga agar para atlet unggulan seperti Rizki Juniansyah dapat tampil secara maksimal di Nagoya, Jepang. Beliau berkomitmen bahwa kondisi ekonomi atau keterbatasan dana tidak akan menjadi alasan untuk menurunkan standar performa atlet-atlet nasional yang akan bertarung demi mengharumkan nama bangsa.

Raja Sapta Oktohari juga memberikan imbauan serius kepada seluruh atlet agar tetap berkonsentrasi penuh pada rutinitas latihan harian mereka guna memastikan hasil yang diraih nantinya sesuai dengan harapan masyarakat. Walaupun Asian Games 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 19 September hingga 4 Oktober sudah semakin dekat, KOI sendiri hingga saat ini memang belum menetapkan secara resmi berapa target medali yang dibebankan kepada kontingen Indonesia.

Okto meyakini bahwa semangat pantang menyerah tetap tertanam kuat di dalam 72 cabang olahraga yang menjadi anggota aktif Komite Olimpiade Indonesia, tanpa mempedulikan situasi sulit yang sedang dihadapi. Beliau juga menggantungkan harapan besar agar para pemangku kepentingan, baik dari unsur pemerintah maupun pihak swasta lainnya, dapat bersinergi dan memberikan dukungan fasilitas serta moril yang maksimal.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum NOC Indonesia ini juga menjadikan prestasi gemilang Rizki Juniansyah sebagai contoh konkret keberhasilan dari sebuah proses pembinaan atlet yang dilakukan secara berkelanjutan dan konsisten. Perlu diingat bahwa Rizki merupakan peraih medali emas pada ajang bergengsi Olimpiade Paris 2024 serta SEA Games 2025, yang mana pencapaian tersebut bukanlah hasil dari kerja keras yang singkat.

Menurut pandangan Raja Okto, keberhasilan seorang atlet kelas dunia tidak akan pernah bisa diraih melalui jalur instan melainkan harus melalui berbagai fase pembinaan yang dikawal dengan sangat ketat dan profesional. Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan kembali bahwa proses panjang di dunia olahraga merupakan harga mati yang harus terus diperjuangkan demi menjaga martabat olahraga Indonesia di mata dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi