Kisah Pria Pemilik 17 Gelar Akademik, Tak Berhenti Kuliah Sejak 1999 Hingga 2026

Kisah Pria Pemilik 17 Gelar Akademik, Tak Berhenti Kuliah Sejak 1999 Hingga 2026
Foto: Ilustrasi Kisah Pria Pemilik 17 Gelar Akademik, Tak Berhenti Kuliah Sejak 1999 Hingga 2026.
Ukuran teks

Welin Kusuma merupakan sosok pria yang memiliki kegigihan luar biasa dalam menempuh jalur akademik. Sejak tahun 1999 hingga saat ini, pria berusia 40 tahunan tersebut tidak pernah absen menjadi seorang mahasiswa.

Hingga saat ini, ia tercatat telah mengantongi total 14 gelar sarjana (S1) dan 3 gelar magister (S2). Tidak hanya itu, ia juga berhasil mengoleksi puluhan gelar sertifikasi profesi yang memperkaya keahliannya di berbagai bidang.

Welin menegaskan bahwa statusnya selalu terdaftar sebagai mahasiswa di setiap tahun akademik tanpa ada jeda. Ia mengungkapkan rasa antusiasnya untuk terus mengeksplorasi berbagai jenis disiplin ilmu yang berbeda-beda melalui pendidikan formal.

Biasanya, Welin langsung mendaftarkan diri ke program studi baru segera setelah ia menyelesaikan studi sebelumnya. Baginya, belajar adalah cara untuk terus berkembang dan tidak membiarkan waktunya terbuang tanpa mendapatkan pengetahuan baru.

Namun, Welin mengakui bahwa proses pendaftaran saat ini memiliki tantangan tersendiri karena adanya sistem integrasi data. Sistem PDDikti yang memverifikasi NIK terkadang membuatnya harus menunggu hingga proses yudisium benar-benar selesai sebelum bisa mendaftar lagi.

Meski demikian, kendala administratif tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk terus menambah gelar. "Begitu status yudisium sudah keluar, saya akan langsung mendaftar ke jenjang atau jurusan berikutnya," ungkap Welin.

Saat ini, kesibukan Welin adalah menjalani kuliah S1 Teknologi Pendidikan di Universitas Terbuka (UT). Selain menempuh pendidikan akademik, ia juga sedang mengambil sertifikasi profesi di tengah-tengah jadwal pekerjaannya yang padat.

Selama puluhan tahun mengecap bangku kuliah, ia telah mencoba berbagai universitas, baik negeri maupun swasta. Welin memulai perjalanan panjangnya di Surabaya, tepatnya di Universitas Surabaya yang merupakan institusi pendidikan swasta.

Setelah lulus dari universitas swasta, ia mulai merambah ke universitas negeri ternama di Indonesia. Beberapa kampus besar yang pernah menjadi tempatnya menimba ilmu antara lain adalah Universitas Airlangga (Unair) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Inspirasi dari Perjuangan Orang Tua

Motivasi besar Welin untuk belajar ternyata berasal dari latar belakang dan pengalaman hidup kedua orang tuanya. Dahulu, orang tuanya memiliki keinginan kuat untuk kuliah namun terhalang oleh keterbatasan biaya yang ada pada saat itu.

Sebagai gantinya, orang tua Welin mengambil berbagai macam kursus singkat untuk tetap mendapatkan keterampilan. Dari situlah Welin melihat bahwa semangat belajar tetap bisa membara meskipun fasilitas yang dimiliki sangat terbatas.

Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa memiliki pengetahuan di berbagai bidang sangat berguna bagi kehidupan praktis. Welin percaya bahwa dengan menguasai banyak ilmu, seseorang dapat menyelesaikan berbagai permasalahan kompleks dengan lebih efektif.

Tantangan Menyelesaikan Skripsi dan Tesis Secara Bersamaan

Perjalanan akademiknya bukan tanpa hambatan, karena Welin pernah berada di situasi yang sangat menguras tenaga dan pikiran. Ia pernah menjalani proses pengerjaan skripsi S1 dan tesis S2 secara bersamaan di waktu yang sama.

Situasi tersebut semakin menantang karena Welin harus membagi fokusnya antara pendidikan dan tanggung jawab profesional di tempat kerja. Kondisi ini sempat membuatnya mengalami kendala hingga nyaris terancam putus sekolah atau drop out.

Ia bahkan pernah menerima surat peringatan secara resmi akibat keterlambatan dalam menyelesaikan studinya. Namun, berkat komitmen yang sangat kuat terhadap pilihannya, ia bertekad untuk menyelesaikan beban studi tersebut satu per satu.

Welin mencatat ada satu program yang ia selesaikan dalam 19 semester dan program lainnya dalam 10 semester. Ia mengatur strateginya dengan menetapkan target kelulusan setiap semester agar beban tugasnya semakin berkurang secara bertahap.

Ia juga mengenang betapa sulitnya masa-masa awal kuliah pada akhir tahun 90-an ketika teknologi belum semaju sekarang. Pada tahun 1999, internet masih menjadi barang langka yang belum bisa diakses secara bebas oleh masyarakat umum.

Segala tugas akademik dan penelitian dikerjakannya secara manual karena akses informasi yang sangat terbatas. Meskipun sudah ada komputer untuk mengetik dan mencetak dokumen, proses pencarian referensi tidak semudah di era digital saat ini.

Rencana Masa Depan dan Target Pendidikan Selanjutnya

Dari sekian banyak program studi yang ia ikuti, Welin pernah mencatatkan prestasi gemilang dengan IPK mencapai 3,9. Capaian tersebut ia peroleh saat menempuh pendidikan S1 Ekonomi Manajemen di Institut Kesehatan dan Bisnis Surabaya (IKBIS).

Terkait rencana ke depan, pria yang baru saja menikah pada Februari 2026 ini memiliki keinginan untuk melanjutkan ke jenjang S3. Namun, saat ini ia masih mempertimbangkan matang-matang karena sudah memiliki tanggung jawab baru dalam berkeluarga.

Welin mencari opsi perkuliahan yang fleksibel agar tetap bisa menyeimbangkan waktu antara keluarga, pekerjaan, dan pendidikan. Ia sangat tertarik dengan sistem pembelajaran hybrid yang menggabungkan pertemuan tatap muka dan kelas online.

Berikut adalah rangkuman perjalanan pendidikan dan pencapaian Welin Kusuma:

  • Memulai pendidikan tinggi pertama kali pada tahun 1999 dan aktif hingga tahun 2026.
  • Memiliki total 14 gelar sarjana (S1) dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda.
  • Memiliki total 3 gelar magister (S2) dan puluhan sertifikasi profesi internasional maupun nasional.
  • Pernah menempuh pendidikan di Universitas Surabaya, Universitas Airlangga (Unair), dan ITS.
  • Meraih IPK tertinggi sebesar 3,9 pada program studi Ekonomi Manajemen.
  • Sedang menempuh kuliah S1 Teknologi Pendidikan di Universitas Terbuka (UT).

Daftar pencapaian di atas menunjukkan konsistensi Welin dalam mengejar pengetahuan tanpa mengenal batas usia. Meskipun sudah memiliki belasan gelar, semangat belajarnya tetap tidak pudar dan terus mencari peluang untuk berkembang.

Informasi mengenai institusi pendidikan yang pernah diikuti oleh Welin Kusuma:

Kategori Kampus Nama Institusi Program/Pencapaian
Universitas Swasta Universitas Surabaya Tempat memulai kuliah pertama kali
Universitas Negeri Unair & ITS Menempuh berbagai gelar sarjana dan magister
Institusi Spesialis IKBIS (dulu STIE Urip Sumoharjo) Mencapai IPK tertinggi sebesar 3,9
Pendidikan Terbuka Universitas Terbuka (UT) Studi aktif S1 Teknologi Pendidikan saat ini

Tabel tersebut menggambarkan keragaman institusi pendidikan yang dipilih Welin untuk memperluas cakrawala pengetahuannya. Setiap universitas memberikan kontribusi besar bagi koleksi gelar dan pengalaman akademiknya yang sangat luas.

Kisah Welin Kusuma menjadi bukti bahwa belajar adalah proses seumur hidup yang bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Dengan adaptasi teknologi pendidikan saat ini, ia optimis dapat terus menempuh pendidikan tinggi tanpa mengabaikan kehidupan pribadinya.

Artikel terkait

Rekomendasi