Keterbatasan fisik bukanlah sebuah penghalang yang mutlak bagi seseorang untuk terus bertumbuh dan mewujudkan impian besarnya. Hal ini dibuktikan secara nyata oleh Rozi, seorang pria yang berhasil menembus batas keterbatasan tersebut.
Rozi merupakan penyandang disabilitas daksa yang baru saja mengukir prestasi gemilang dengan meraih gelar doktor dari Universitas Airlangga (Unair). Tidak main-main, ia berhasil menyelesaikan studi S3 dalam kurun waktu 3 tahun 11 bulan.
Pencapaian akademiknya pun sangat luar biasa karena ia lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, yakni 4.00. Kisah perjuangan hidupnya kini menjadi sumber inspirasi bagi para wisudawan lainnya di kampus tersebut.
Lahir di Pedalaman Jambi dengan Mimpi Besar
Rozi berasal dari sebuah desa terpencil di Jambi, tepatnya di Desa Markanding, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara yang lahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana.
Keluarganya menyambung hidup dengan mengandalkan penghasilan dari berjualan ikan secara eceran. Meski hidup dalam kesederhanaan, latar belakang inilah yang memicu semangat Rozi untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.
Rozi mengungkapkan bahwa ayahnya mungkin tidak mengerti secara mendalam mengenai jurnal internasional ataupun disertasi doktoral yang ia kerjakan. Namun, ia menekankan bahwa sang ayah adalah sosok yang mengajarkan nilai-nilai penting dalam kehidupan.
Nilai kehidupan yang diajarkan oleh sang ayah kepada Rozi antara lain:
- Pentingnya memiliki etos kerja keras dalam menghadapi tantangan hidup.
- Menanamkan ketulusan dalam setiap langkah yang diambil.
- Menjaga semangat pantang menyerah meski berada dalam kondisi sulit.
Baginya, pelajaran hidup dari orang tuanya itulah yang menjadi pondasi kuat dalam menjalani karier akademik yang penuh tantangan hingga ke jenjang tertinggi.
Menghadapi Ujian Fisik dengan Keteguhan Hati
Perjalanan hidup Rozi tidaklah mudah karena ia harus menerima kenyataan pahit bahwa kedua kakinya harus diamputasi. Kondisi ini menjadikannya seorang penyandang disabilitas daksa, sebuah status yang awalnya sangat berat untuk diterima.
Meski sempat merasa terpuruk, Rozi memilih untuk tidak terlarut dalam kesedihan dalam waktu yang lama. Ia perlahan bangkit dan menyadari bahwa setiap ujian dalam hidup memiliki tujuan yang lebih besar bagi dirinya.
Rozi berpendapat bahwa manusia tidak selalu diuji untuk dihancurkan, melainkan untuk menemukan kekuatan sejati di dalam diri. Keyakinan inilah yang membuatnya berani melangkah maju meski harus menghadapi keterbatasan fisik.
Dukungan dari keluarga besar juga menjadi faktor penentu keberhasilannya dalam menjalani studi hingga mencapai jenjang S3. Peran keluarga memberikan energi tambahan bagi Rozi setiap kali ia merasa jenuh atau lelah dengan rutinitas kuliahnya.
Ia menceritakan bahwa doa ibunya adalah kekuatan spiritual yang selalu menyertainya sepanjang waktu. Saat merasa lelah, ia selalu teringat bahwa ada doa yang tak pernah putus disebut oleh ibunya demi keberhasilan dirinya.
Dedikasi dalam Mengajar dan Riset Internasional
Selama menjalani studi doktoralnya, Rozi tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai dosen aktif di sebuah perguruan tinggi. Kesibukannya di dunia pendidikan dan riset ternyata tidak menghalangi fokusnya dalam menyelesaikan disertasi.
Kerja kerasnya di bidang akademik terbukti dengan produktivitasnya dalam menghasilkan karya ilmiah yang diakui dunia internasional. Ia sukses mempublikasikan dua artikel pada jurnal internasional bereputasi Scopus Q1 serta tiga artikel Scopus lainnya.
Selain menjadi penulis artikel ilmiah, Rozi juga dipercaya memegang peran strategis sebagai editor pada jurnal internasional bereputasi Scopus. Pengalaman profesional ini memperkaya wawasannya sebagai seorang akademisi dan peneliti yang kompeten.
Ia sangat bersyukur karena pendidikan telah memberikannya kesempatan untuk mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik. Rozi meyakini bahwa akses terhadap ilmu pengetahuan adalah hak dasar bagi setiap individu tanpa terkecuali.
Beberapa poin penting yang ditekankan Rozi mengenai hak pendidikan adalah:
- Pendidikan merupakan hak universal yang harus bisa diakses oleh semua orang.
- Kondisi fisik yang terbatas tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti belajar.
- Setiap individu berhak mendapatkan ruang untuk terus tumbuh dan berkembang.
Pandangan Rozi ini menegaskan bahwa semangat belajar seharusnya tidak dibatasi oleh kondisi fisik seseorang. Ia ingin membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga mampu bersaing di level tertinggi dunia akademik.
Tantangan Penerimaan Sosial bagi Disabilitas
Menurut pandangan Rozi, tantangan terbesar bagi seorang mahasiswa disabilitas bukan sekadar ketersediaan infrastruktur fisik di kampus. Ia menilai ada aspek psikologis dan sosial yang jauh lebih krusial untuk diperhatikan oleh lingkungan sekitar.
Ia berpendapat bahwa akses yang paling berharga bagi penyandang disabilitas bukanlah sekadar lift atau jalur landai (ramp). Hal yang jauh lebih mahal adalah rasa diterima dan diperlakukan sebagai manusia yang setara dalam masyarakat.
Penerimaan sosial yang inklusif dinilai akan memberikan rasa percaya diri lebih bagi kaum disabilitas untuk berkarya. Rozi berharap ke depannya masyarakat bisa lebih terbuka dalam memandang potensi yang dimiliki oleh para penyandang disabilitas.
Sebagai penutup, ia memberikan pesan penyemangat bagi rekan-rekan sesama penyandang disabilitas agar tidak pernah memadamkan impian mereka. Ia mendorong mereka untuk tetap gigih mengejar pendidikan tinggi dan tidak mudah menyerah pada keadaan.
Rozi percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih prestasi gemilang di bidangnya masing-masing. Baginya, yang paling dibutuhkan adalah ruang yang inklusif agar semua orang dapat mengeksplorasi potensi terbaik dalam diri mereka.