Kisah di Balik Megami Tensei: Kesal Lawan Goblin di DnD Jadi Inspirasi Sistem Negosiasi

Kisah di Balik Megami Tensei: Kesal Lawan Goblin di DnD Jadi Inspirasi Sistem Negosiasi
Foto: Ilustrasi Kisah di Balik Megami Tensei: Kesal Lawan Goblin di DnD Jadi Inspirasi Sistem Negosiasi.
Ukuran teks

Genre game JRPG buatan pengembang Jepang dikenal memiliki berbagai ciri khas unik yang tetap dipertahankan sejak dulu hingga masa kini.

Salah satu keunikan yang sangat membekas dalam sejarah video game adalah sistem negosiasi dalam seri Shin Megami Tensei atau Megami Tensei garapan Atlus.

Melalui fitur ini, pemain bisa berinteraksi langsung dengan monster untuk mendapatkan item, uang (Macca), hingga merekrut mereka menjadi kawan.

Namun, siapa sangka jika inspirasi awal fitur ikonik ini justru berakar dari rasa kesal seorang pengembang terhadap monster Goblin saat bermain Dungeons and Dragons (DnD).

Asal-usul Sistem Negosiasi Megami Tensei

Kisah menarik ini terungkap dalam sebuah wawancara eksklusif antara media Encount dengan Kazunari Suzuki, salah satu pengembang kunci di Atlus.

Dalam kesempatan tersebut, Suzuki membagikan banyak detail mengenai masa awal pengembangan judul Digital Devil Story: Megami Tensei.

Ia merupakan sosok penting di balik terciptanya sistem Fusion (penggabungan monster) serta fitur Negotiation (negosiasi) yang sangat melegenda.

Terkait sistem negosiasi, Suzuki menjelaskan bahwa ide tersebut lahir dari rasa frustrasi yang ia alami ketika sedang asyik bermain sesi DnD kala itu.

Rasa Kesal Terhadap Perlakuan pada Goblin

Secara spesifik, Suzuki menyoroti bagaimana para pemain DnD sering kali memperlakukan monster Goblin hanya sebagai target untuk dibunuh.

Ia merasa cara memperlakukan makhluk tersebut sangat tidak masuk akal dan cenderung kurang manusiawi dalam konteks permainan peran.

Menurut pandangannya, Goblin seharusnya memiliki akal sehat karena mereka mempunyai bahasa sendiri dan mampu membangun komunitas mereka sendiri.

Namun, ketika pemain bertemu Goblin di dalam Dungeon, tidak ada opsi lain yang tersedia selain mengangkat senjata dan menghabisi mereka.

Beberapa alasan mengapa Kazunari Suzuki merasa keberatan dengan mekanisme DnD saat itu meliputi:

  • Kurangnya opsi untuk berkomunikasi atau berinteraksi secara verbal dengan para monster.
  • Anggapan bahwa setiap pertemuan dengan monster harus berakhir dengan pertumpahan darah.
  • Adanya potensi kecerdasan pada monster yang diabaikan oleh aturan permainan standar.
  • Ketiadaan aturan yang memungkinkan negosiasi meskipun monster tersebut memiliki struktur sosial.

Poin-poin tersebut menjadi keresahan utama Suzuki yang akhirnya memicu perubahan besar dalam cara pemain berinteraksi dengan musuh di game buatannya.

Dari Kekecewaan Menjadi Inovasi Ikonik

Suzuki bahkan sempat bertanya kepada Dungeon Master apakah ia diperbolehkan berbicara dengan Goblin atau adakah aturan yang mendukung aksi tersebut.

Ia merasa sangat kecewa setelah mengetahui bahwa hal semacam itu memang tidak difasilitasi dalam mekanisme permainan Dungeons and Dragons.

Berangkat dari pengalaman pahit tersebut, ia memutuskan untuk menyuntikkan sistem negosiasi ke dalam proyek game Megami Tensei.

Langkah berani ini akhirnya menjadi identitas paling kuat bagi seri tersebut, bahkan terus diadaptasi ke dalam sub-seri populer seperti Persona.

Evolusi Melalui Sistem Fusion dan Inspirasi Manga

Meskipun konsep negosiasi terdengar menarik, Suzuki merasa elemen tersebut masih terasa kurang kuat jika berdiri sendiri dalam sebuah game.

Oleh karena itu, ia kemudian menciptakan sistem Fusion yang kini menjadi fitur wajib dalam setiap seri game garapan Atlus.

Berikut adalah perbandingan singkat mengenai dua sistem utama yang diciptakan oleh Suzuki dalam seri ini:

Tabel perbandingan sistem interaksi monster dalam seri Megami Tensei:

Fitur Utama Sumber Inspirasi Tujuan Utama Pemain
Negosiasi (Negotiation) Kekesalan pada mekanik DnD Mendapatkan item, uang, atau kawan
Penggabungan (Fusion) Manga Devilman karya Go Nagai Menciptakan monster yang lebih kuat

Data di atas menunjukkan bagaimana keresahan pribadi dan hobi membaca manga dapat berkolaborasi menciptakan mekanik game yang revolusioner.

Menariknya, sistem Fusion tersebut ternyata terinspirasi dari manga Devilman, di mana Suzuki mengaku sudah menjadi penggemar berat sejak sekolah.

Kini, kombinasi antara negosiasi dan penggabungan monster tetap eksis di berbagai judul JRPG modern milik Atlus lainnya.

Selain Shin Megami Tensei, pengaruh mekanik ini bisa dirasakan langsung oleh pemain dalam game Persona hingga proyek terbaru mereka, Metaphor ReFantazio.

Kisah ini membuktikan bahwa sebuah inovasi besar sering kali lahir dari keinginan sederhana untuk mengubah sesuatu yang dianggap membosankan.

Artikel terkait

Rekomendasi