Situasi di sekitar Selat Hormuz dilaporkan mengalami ketenangan relatif pada Minggu pagi setelah sempat terjadi peningkatan pertempuran sporadis selama beberapa hari terakhir. Kondisi ini berlangsung saat Amerika Serikat tengah menanti jawaban resmi dari pemerintah Iran terkait proposal terbaru guna menghentikan konflik bersenjata yang telah berjalan lebih dari dua bulan sekaligus membuka pintu bagi perundingan damai.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, sebelumnya menyatakan pada hari Jumat bahwa pihak Washington memprediksi tanggapan tersebut akan diterima hanya dalam hitungan jam saja. Namun, hingga sehari setelah pernyataan itu dilontarkan, belum terlihat adanya pergerakan berarti dari pihak Teheran mengenai usulan yang dirancang untuk mengakhiri perang secara formal sebelum berlanjut pada pembahasan isu-isu sensitif lainnya, termasuk program nuklir Iran.
Dalam upaya diplomasi paralel, Rubio telah melakukan pertemuan strategis dengan Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, di wilayah Miami pada hari Sabtu pekan lalu. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengonfirmasi bahwa keduanya membahas kerja sama berkelanjutan demi mencegah ancaman serta memperkuat stabilitas dan keamanan di seluruh kawasan Timur Tengah, meskipun pernyataan resmi tersebut tidak menyebutkan nama Iran secara spesifik.
Di sisi lain, terdapat indikasi pelonggaran ketegangan setelah kapal tanker gas alam cair milik Qatar, Al-Kharaitiyat, terpantau mulai melintasi Selat Hormuz pada hari Minggu dengan tujuan akhir ke Pakistan. Berdasarkan data pengiriman dari LSEG, sumber internal menyebutkan bahwa transit perdana kapal LNG Qatar sejak pecahnya konflik ini telah mendapatkan persetujuan dari Iran sebagai langkah membangun kepercayaan terhadap Qatar dan Pakistan yang berperan sebagai mediator perang.
Akan tetapi, peringatan keras tetap disampaikan oleh juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, yang menyebutkan melalui laporan kantor berita Tasnim bahwa negara-negara yang patuh pada sanksi AS akan menghadapi rintangan saat melintasi jalur laut tersebut. Akraminia menegaskan bahwa setiap pihak yang mengikuti kebijakan sanksi Amerika Serikat terhadap Iran dipastikan bakal mengalami kesulitan besar ketika mencoba berlayar melalui wilayah perairan Selat Hormuz.
Tekanan internasional untuk mengakhiri perselisihan ini semakin menguat seiring dengan rencana kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke China pada pekan depan. Konflik yang berkepanjangan ini dinilai telah menjerumuskan pasar energi global ke dalam situasi kekacauan yang parah serta menjadi ancaman nyata yang semakin mengkhawatirkan bagi pertumbuhan ekonomi dunia secara keseluruhan.
Selain ketegangan diplomatik tersebut, pihak Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengeluarkan ancaman balik terkait kemungkinan serangan terhadap fasilitas militer milik Amerika Serikat jika kapal-kapal mereka diganggu. Ancaman ini muncul di tengah kegagalan inisiatif "Project Freedom" milik Trump yang hanya mampu bertahan selama 48 jam dalam upayanya membebaskan sekitar 1.600 kapal yang terjebak di jalur strategis Selat Hormuz.