Kesaksian Mengejutkan: Tentara Israel Gunakan Peti Mati Siksa Tahanan Palestina 2026

Kesaksian Mengejutkan: Tentara Israel Gunakan Peti Mati Siksa Tahanan Palestina 2026
Foto: Kesaksian Mengejutkan: Tentara Israel Gunakan Peti Mati Siksa Tahanan Palestina 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kisah memilukan datang dari Iman Nabhan, seorang warga Palestina yang mengaku menjadi korban kekejaman tentara Israel. Ia memberikan kesaksian mengenai metode penyiksaan ekstrem yang dialaminya selama berada di tahanan.

Nabhan menceritakan kepada media bahwa dirinya dikurung di dalam sebuah kotak sempit yang menyerupai peti mati. Tindakan tidak manusiawi ini dilakukan setelah ia menolak permintaan pihak militer untuk menjadi informan mereka.

Penyiksaan di Dalam Kotak Besi

Menurut pengakuan Nabhan, ia ditempatkan di sebuah wadah besi yang di dalamnya terdapat kotak kayu. Selama berada di sana, kondisi tangan dan kakinya dalam keadaan terikat kuat.

Nabhan mengungkapkan bahwa dirinya merasa diperlakukan seperti orang mati agar pihak Israel bisa mengorek informasi. Selama 15 hari ia terjebak di dalam sana dan merasa jiwanya hidup di dalam tubuh yang seolah sudah tak bernyawa.

Kondisi di dalam "peti mati" tersebut sangat memprihatinkan karena ia hanya diberi makan melalui sebuah lubang kecil. Petugas hanya memberikannya waktu satu menit untuk keluar setiap kali ia perlu pergi ke toilet.

Tawaran Kerja Sama yang Ditolak

Sebelum penyiksaan tersebut dimulai, pihak keamanan Israel sempat mencoba menyuap Nabhan agar mau bekerja sama. Mereka menawarkan sejumlah imbalan berupa uang tunai hingga fasilitas perjalanan ke luar negeri.

Bahkan, pihak militer juga menjanjikan pengobatan medis bagi ibunya sebagai imbalan informasi. Namun, Nabhan dengan tegas menolak semua tawaran tersebut hingga akhirnya ia dijebloskan ke dalam kotak penyiksaan.

Rincian metode intimidasi dan penyiksaan yang dialami tahanan meliputi:

  • Pengurungan dalam kotak kayu sempit selama dua pekan penuh.
  • Pembatasan akses sanitasi yang sangat ketat hanya satu menit sekali jalan.
  • Pemberian makanan melalui lubang kecil tanpa kontak fisik.
  • Penawaran suap berupa uang dan fasilitas medis untuk menekan psikologis.

Kasus yang dialami Nabhan ini menambah daftar panjang laporan mengenai pelanggaran hak asasi manusia di fasilitas penahanan Israel. Laporan serupa juga muncul dari berbagai aktivis kemanusiaan internasional yang pernah ditahan di sana.

Tren Peningkatan Kasus Pelecehan

Belakangan ini, tuduhan terhadap perlakuan buruk personel militer Israel terhadap warga Palestina dan aktivis pro-Palestina terus meningkat. Berbagai pihak mulai menyuarakan kekhawatiran atas kondisi di pusat-pusat penahanan tersebut.

Baru-baru ini, sejumlah anggota Armada Global Sumud dari Australia juga melaporkan pengalaman mengerikan saat mereka ditahan. Mereka mengaku mengalami pelecehan seksual, pemukulan, hingga berbagai bentuk penghinaan sebelum akhirnya dideportasi.

Laporan mengenai kondisi tahanan Palestina secara umum dapat diringkas dalam data berikut ini.

Data Singkat Kondisi Tahanan Palestina:

Kategori Tahanan Status / Kondisi
Anak-anak Sekitar 360 anak masih berada di penjara Israel.
Perempuan Setidaknya 84 perempuan merayakan hari raya di tahanan.
Relawan Internasional Sering mengalami deportasi dan kekerasan fisik.

Data tersebut menunjukkan bahwa krisis kemanusiaan di balik terali besi Israel masih terus berlanjut. Banyak pihak internasional kini mendesak adanya penyelidikan independen terkait praktik penyiksaan yang dilaporkan oleh para mantan tahanan.

Artikel terkait

Rekomendasi