KemenPPPA dan Tanoto Foundation Rilis Buku 'Misi untuk Raka', Perkuat Literasi Anak

KemenPPPA dan Tanoto Foundation Rilis Buku 'Misi untuk Raka', Perkuat Literasi Anak
Foto: Ilustrasi KemenPPPA dan Tanoto Foundation Rilis Buku 'Misi untuk Raka', Perkuat Literasi Anak.
Ukuran teks

Kemajuan teknologi digital saat ini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan keluarga, termasuk bagi anak-anak usia dini. Namun, kemudahan akses terhadap perangkat elektronik ini membawa tantangan serius bagi tumbuh kembang anak jika tidak disertai pendampingan yang tepat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan bagi para orang tua. Tercatat sebanyak 39,71 persen anak usia dini menghabiskan waktu di dunia digital lebih dari dua jam setiap harinya.

Angka tersebut jauh melampaui batas aman yang ditetapkan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Organisasi profesi medis ini menyarankan agar anak usia 2-6 tahun hanya menggunakan gawai maksimal satu jam per hari dengan pengawasan ketat.

Kondisi ini menegaskan bahwa pola asuh di era digital tidak bisa hanya mengandalkan pembatasan durasi penggunaan perangkat. Anak-anak memerlukan alternatif kegiatan yang menarik untuk mendukung perkembangan fisik dan mental mereka secara menyeluruh.

Peluncuran Buku Cerita Misi untuk Raka

Melihat kebutuhan mendesak tersebut, Tanoto Foundation bersama KemenPPPA dan Kemendikdasmen resmi meluncurkan buku cerita anak berjudul "Misi untuk Raka". Buku bergambar ini dirancang khusus untuk anak usia 3 hingga 8 tahun sebagai sarana edukasi yang rekreatif.

Tujuan utama dari buku ini adalah mengajak anak melakukan aktivitas seru tanpa harus bergantung pada layar gawai. Selain itu, buku ini berfungsi sebagai jembatan bagi orang tua untuk menjalin komunikasi yang lebih berkualitas dengan buah hati di rumah.

Menteri PPPA, Arifah Fauzi, memberikan penekanan khusus pada peran vital keluarga dalam mengawal tumbuh kembang anak di tengah gempuran teknologi. Ia menilai pengawasan yang jelas sangat diperlukan agar hak dan kebutuhan dasar anak tetap terpenuhi.

Arifah memperingatkan bahwa penggunaan gawai yang berlebihan dapat menghambat kebutuhan anak untuk bergerak aktif dan berinteraksi sosial. Hal ini berisiko mengganggu proses belajar yang seharusnya sesuai dengan tahap usia mereka.

Melalui buku ini, orang tua dan anak diajak untuk membangun dialog serta menemukan kembali kegembiraan dalam kegiatan fisik. Interaksi langsung secara fisik dianggap jauh lebih menyehatkan bagi pertumbuhan anak Indonesia.

Arifah juga menambahkan bahwa kolaborasi antarpihak sangat krusial untuk memastikan pertumbuhan anak yang optimal. Kerja sama antara pemerintah dan lembaga seperti Tanoto Foundation menjadi langkah nyata dalam mewujudkan visi tersebut.

Respons Dunia Pendidikan dan Penguatan Karakter

Staf Khusus Mendikdasmen, Rita Pranawati, turut menyoroti bagaimana dunia pendidikan harus sigap merespons perubahan zaman. Tantangan seperti kecanduan gawai dan rendahnya literasi digital harus dihadapi dengan strategi penguatan karakter.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya fokus pada nilai akademik semata, tetapi juga fondasi perilaku. Buku ini dinilai sejalan dengan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang diinisiasi oleh kementeriannya.

Menurut Rita, kehadiran buku "Misi untuk Raka" memberikan pilihan positif bagi anak-anak untuk mengisi waktu mereka. Cerita yang disajikan membantu menginternalisasi nilai-nilai karakter dengan cara yang menyenangkan dan bermanfaat.

Senada dengan hal tersebut, Eddy Henry selaku Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation menekankan pentingnya ruang bagi anak untuk berkarya. Meskipun teknologi sudah menjadi keseharian, kebutuhan dasar anak untuk bermain secara nyata tetap tidak tergantikan.

Eddy menyatakan bahwa fokus utama mereka bukan sekadar melarang penggunaan perangkat digital secara total. Mereka ingin memperkenalkan pendekatan yang lebih positif melalui berbagai pilihan aktivitas bermakna yang bisa dilakukan anak di rumah.

Daftar seri buku cerita anak SIGAP yang telah diterbitkan oleh Tanoto Foundation bersama pemerintah:

  • Rubrik Unik Korona: Buku seri pertama yang diluncurkan pada tahun 2021 lalu.
  • Saat Noni Datang: Kelanjutan seri edukasi anak yang dipublikasikan pada tahun 2022.
  • Bisa atau Tidak, Ya?: Seri ketiga yang hadir untuk menemani anak-anak pada tahun 2024.
  • Misi untuk Raka: Buku terbaru tahun 2026 yang fokus pada keseimbangan aktivitas digital.

Penerbitan rangkaian buku ini merupakan wujud nyata komitmen dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Fokus utamanya adalah memperbaiki pola pengasuhan serta meningkatkan tingkat literasi anak di Indonesia.

Panduan Pengasuhan Sehat #SeruTanpaLayar

Buku "Misi untuk Raka" secara spesifik memperkenalkan empat pilar aktivitas utama yang dikemas dalam kampanye #SeruTanpaLayar. Keempat aktivitas tersebut meliputi ajakan untuk bergerak aktif, melakukan perbuatan baik, gemar membaca, serta berkreasi.

Selain cerita yang menarik, orang tua juga akan mendapatkan panduan praktis mengenai metode 3S untuk menjaga keseimbangan. Penjelasan mengenai metode pengasuhan digital tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Ringkasan prinsip 3S dalam mendampingi penggunaan gawai pada anak di rumah:

Prinsip Penjelasan Singkat
Screen Time Mengatur durasi waktu penggunaan layar sesuai dengan rekomendasi usia anak.
Screen Break Memberikan jeda istirahat secara berkala untuk menjaga kesehatan mata dan fisik.
Screen Zone Menetapkan area bebas gawai di rumah untuk mendorong interaksi keluarga.

Penerapan prinsip 3S tersebut diharapkan dapat membantu orang tua menciptakan lingkungan rumah yang sehat bagi pertumbuhan anak. Dengan pembagian zona dan waktu yang jelas, ketergantungan pada perangkat digital dapat dikurangi secara bertahap.

Bagi keluarga yang ingin mengakses materi edukasi ini, buku "Misi untuk Raka" tersedia dalam bentuk fisik. Selain itu, masyarakat juga dapat mengunduh versi digitalnya secara cuma-cuma melalui situs resmi Tanoto Foundation.

Artikel terkait

Rekomendasi