Keajaiban Kota Harar: Tradisi Menyuapi Hiena yang Mengejutkan Dunia 2026

Keajaiban Kota Harar: Tradisi Menyuapi Hiena yang Mengejutkan Dunia 2026
Foto: Keajaiban Kota Harar: Tradisi Menyuapi Hiena yang Mengejutkan Dunia 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Selama ini hyena sering dianggap sebagai pemangsa yang licik dan menyeramkan oleh banyak orang. Namun, sebuah riset terbaru di Etiopia mengungkap fakta mengejutkan mengenai peran penting satwa ini bagi ekosistem perkotaan.

Di Kota Mekelle, hyena justru menjadi sosok "petugas kebersihan" yang sangat diandalkan oleh masyarakat setempat. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan mereka memberikan dampak positif bagi lingkungan dan kesehatan warga di ibu kota wilayah Tigray tersebut.

Kontribusi Hyena dalam Pengelolaan Sampah

Gidey Yirga, seorang pakar ekologi satwa liar, memimpin studi yang memantau aktivitas satwa pemakan bangkai di kota tersebut. Hasil riset menunjukkan bahwa satwa liar ini mampu mengolah hampir 5.000 metrik ton limbah organik setiap tahunnya.

Hyena tutul tercatat melakukan 90 persen dari seluruh pekerjaan pembersihan limbah organik di wilayah Mekelle. Kontribusi alami ini memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi pemerintah kota dalam mengelola kebersihan lingkungan.

Berikut adalah beberapa manfaat utama keberadaan hyena bagi kota berdasarkan hasil penelitian tersebut:

  • Menghemat anggaran pengelolaan sampah hingga 100.000 dollar AS atau setara Rp 1,7 miliar per tahun.
  • Menurunkan tingkat emisi karbon yang biasanya dihasilkan dari proses pembusukan limbah organik di tempat pembuangan.
  • Mencegah risiko penyebaran penyakit berbahaya dan mematikan seperti antraks di area pemukiman.
  • Menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan melalui konsumsi sisa-sisa makanan dan bangkai.

Gidey Yirga menjelaskan kepada CNN bahwa hubungan ini menciptakan simbiosis mutualisme antara hewan dan manusia. Penduduk mendapatkan layanan pembersihan gratis, sementara satwa tersebut memperoleh sumber makanan dari limbah warga.

Sebanyak 72 persen penduduk setempat memandang keberadaan hyena sebagai hal yang sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Meskipun begitu, hubungan ini sempat mengalami ketegangan selama periode Perang Tigray pada 2020-2022 akibat berkurangnya limbah makanan.

Harmoni Manusia dan Hyena di Kota Harar

Fenomena hubungan unik ini juga terlihat jelas di Kota Harar, sebuah situs bersejarah yang diakui oleh UNESCO. Di kota kuno tersebut, manusia dan kawanan hyena telah hidup berdampingan secara damai selama lebih dari lima abad.

Struktur tembok kota yang dibangun sejak abad ke-16 bahkan memiliki lubang-lubang kecil khusus untuk akses satwa ini. Lubang tersebut sengaja dibuat agar hyena bisa masuk di malam hari untuk memakan sisa daging dari para tukang jagal.

Tradisi ini memunculkan profesi unik yang dikenal sebagai "manusia hyena" di tengah masyarakat Harar. Para praktisi tradisi ini memiliki kebiasaan memberi makan kawanan hyena liar secara langsung dengan tangan kosong.

Detail mengenai hubungan unik antara warga dan hyena di Harar dapat dilihat pada tabel berikut:

Aspek Hubungan Penjelasan Detail
Durasi Interaksi Telah berlangsung secara harmonis selama minimal 500 tahun.
Fasilitas Kota Terdapat lubang khusus di tembok abad ke-16 untuk jalur masuk hyena.
Praktik Pemberian Makan Memberi daging secara langsung menggunakan tangan atau mulut.
Tujuan Awal Dilakukan sejak tahun 1950-an untuk melindungi hewan ternak warga.

Tabel di atas merangkum bagaimana warga lokal mengubah potensi konflik dengan satwa liar menjadi sebuah bentuk kerja sama yang unik. Hal ini membuktikan bahwa persepsi terhadap predator dapat berubah melalui interaksi yang konsisten.

Abbas Yusuf merupakan salah satu penerus tradisi ini yang sudah sangat akrab dengan kawanan predator tersebut. Ia bahkan memberikan nama-nama panggilan khusus kepada setiap hyena yang datang menemuinya setiap malam.

Abbas menyatakan bahwa ia selalu menyiapkan daging dan memastikan para "tamu" tersebut pulang dalam keadaan tenang. Praktik ini ia pelajari dari ayahnya, Yusuf Mume Salleh, sebagai cara efektif untuk menjaga keamanan ternak mereka.

Antropolog Marcus Baynes-Rock menilai bahwa kedekatan ini tumbuh karena adanya kemampuan untuk memahami perilaku satu sama lain. Setiap hyena dianggap memiliki kepribadian berbeda yang harus dipahami oleh manusia yang berinteraksi dengan mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi