Industri film Indonesia saat ini masih didominasi oleh genre horor yang terus mencetak angka kunjungan tinggi di bioskop. Sebaliknya, film dengan genre aksi atau laga tampak lebih jarang muncul sebagai penguasa Box Office tanah air.
Kondisi ini menarik perhatian dua aktor ternama Indonesia yang sudah merambah dunia film internasional, Joe Taslim dan Yayan Ruhian. Menjelang peluncuran proyek terbaru mereka berjudul The Furious (2026), keduanya mengutarakan pandangan mendalam mengenai peta persaingan genre film di dalam negeri.
Meskipun mengakui bahwa genre aksi saat ini belum sepopuler horor, baik Joe maupun Yayan tetap merasa optimistis. Mereka memandang pergeseran selera penonton sebagai bagian dari siklus industri yang wajar dan akan terus berputar seiring berjalannya waktu.
Tantangan Produksi Film Aksi di Indonesia
Sebagai sosok yang lama berkecimpung di dunia film laga, Yayan Ruhian menyadari adanya ketimpangan popularitas antara genre aksi dan horor. Ia sering merenungkan mengapa film aksi belum mendapatkan perhatian sebesar film-film bertema supranatural di pasar lokal.
Yayan menegaskan bahwa proses di balik layar pembuatan film aksi sangatlah kompleks dibandingkan genre lainnya. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan teknis yang tinggi serta persiapan fisik yang luar biasa dari para pemerannya.
Poin-poin hambatan utama dalam pembuatan film aksi meliputi:
- Waktu produksi yang jauh lebih lama untuk merancang koreografi pertarungan yang aman dan memukau.
- Kebutuhan biaya atau anggaran yang sangat besar guna mendukung efek visual dan peralatan teknis khusus.
- Tingkat kerumitan teknis yang melibatkan banyak kru ahli di bidang keselamatan dan aksi.
Kebutuhan sumber daya yang besar ini membuat produksi film aksi menjadi investasi yang cukup berisiko bagi para produser. Namun, Yayan tetap memilih untuk bersikap positif dalam menyikapi kondisi pasar perfilman Indonesia saat ini.
Ia yakin bahwa dunia akan terus berputar dan selera penonton suatu saat akan berpihak kembali pada film aksi. Yayan berharap film laga karya sineas lokal akan segera mendapatkan posisi yang sejajar dengan genre populer lainnya di masa depan.
Siklus Alami Industri dan Fenomena Menonton Bersama
Joe Taslim atau yang akrab disapa Jota memiliki pandangan serupa mengenai dominasi genre horor dan drama di bioskop Indonesia. Baginya, tren yang sedang berlangsung saat ini adalah fenomena yang menyehatkan bagi pertumbuhan ekosistem industri film.
Menurut Joe, kondisi Indonesia saat ini mirip dengan fase awal perkembangan industri film di negara-negara besar lainnya. Ia mencontohkan Korea Selatan yang juga melewati proses serupa sebelum akhirnya memiliki keberagaman genre yang kuat seperti sekarang.
Pengalaman ini ia dapatkan setelah berdiskusi langsung dengan produser senior saat dirinya terlibat dalam sebuah proyek film di Korea Selatan. Sang produser menjelaskan bahwa horor adalah pintu masuk termudah untuk menarik minat masyarakat luas datang ke bioskop.
Joe menjelaskan bahwa horor menawarkan sesuatu yang disebut sebagai communal experience atau pengalaman bersama yang sangat kuat. Penonton merasa mendapatkan kepuasan tersendiri ketika bisa merasakan ketakutan dan ketegangan secara kolektif di dalam satu ruangan.
Beberapa alasan mengapa genre horor tetap menjadi primadona antara lain:
- Mampu memberikan pengalaman yang intens seperti sedang menaiki wahana permainan ekstrem bersama teman.
- Menciptakan ikatan emosional antar penonton yang saling berbagi rasa takut dan teriakan di dalam bioskop.
- Memiliki struktur cerita yang lebih mudah dicerna atau "digested" oleh berbagai lapisan masyarakat.
Bagi Joe, setiap negara yang industri filmnya sedang mekar pasti akan menjadikan horor sebagai fondasi awal. Oleh karena itu, ia tidak merasa khawatir terhadap posisi genre aksi yang saat ini seolah sedang berada di bawah bayang-bayang film setan.
Optimisme Terhadap Masa Depan Genre Variatif
Joe Taslim sangat yakin bahwa akan tiba masanya penonton Indonesia mulai merasa jenuh dengan pola cerita yang seragam. Ketika titik stagnasi itu tercapai, penonton secara alami akan mencari alternatif hiburan dari genre-genre lain yang lebih segar.
Pada momen transisi itulah, genre seperti aksi, animasi, hingga fiksi ilmiah (sci-fi) akan mendapatkan ruang untuk bersinar. Joe melihat kualitas penonton Indonesia terus meningkat, yang ditandai dengan diterimanya karya-karya dengan format baru.
Sebagai bukti nyata, Joe menyinggung keberhasilan film animasi berjudul Jumbo pada tahun 2025 yang sukses di pasar Box Office. Pencapaian tersebut membuktikan bahwa masyarakat mulai terbuka terhadap genre yang satu dekade lalu mungkin dianggap tidak punya peluang besar.
Ia menekankan bahwa keberhasilan film animasi tersebut adalah sinyal positif bagi seluruh pembuat film di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pasar lokal sebenarnya sangat dinamis dan siap menerima inovasi jika eksekusinya dilakukan dengan baik.
Oleh karena itu, Joe mengajak rekan-rekan sesama pelaku film aksi untuk tidak berhenti berkarya dan terus menjaga kualitas. Ia merasa bahwa tugas utama seorang sineas bukanlah sekadar mengejar tren, melainkan fokus memberikan yang terbaik dalam setiap proyek.
Joe merasa beruntung karena saat ini aktor laga Indonesia masih memiliki panggung di kancah internasional untuk terus mengasah kemampuan. Ia menutup pernyataannya dengan keyakinan penuh bahwa momentum untuk genre aksi di tanah air pasti akan segera tiba.
| Kategori | Genre Horor | Genre Aksi (Laga) |
|---|---|---|
| Daya Tarik Utama | Pengalaman bersama (Communal Experience) | Teknis koreografi dan visual yang kompleks |
| Proses Produksi | Relatif lebih cepat dibanding aksi | Memakan waktu lama dan biaya besar |
| Status Pasar | Sedang berada di puncak popularitas | Menunggu momentum siklus perubahan tren |
Tabel di atas merangkum perbandingan kondisi antara kedua genre tersebut berdasarkan sudut pandang Joe Taslim dan Yayan Ruhian. Secara keseluruhan, keterbukaan selera pasar menjadi kunci utama bagi keberagaman industri film nasional di masa mendatang.