Kanselir Jerman, Friedrich Merz, secara tegas mendesak pemerintah Iran untuk segera kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat (AS). Ia memperingatkan bahwa ketegangan yang berlarut-larut akan memicu dampak buruk yang luas bagi stabilitas kawasan maupun dunia internasional.
Dalam pertemuan bersama Presiden Swiss, Guy Parmelin, di Berlin pada Selasa (19/5/2026), Merz menyatakan bahwa Teheran harus berhenti mengulur waktu. Ia menekankan pentingnya solusi diplomatik agar kawasan strategis seperti Selat Hormuz tidak lagi tersandera oleh konflik.
Dampak Ekonomi dan Kebebasan Navigasi
Merz menyoroti bahwa pemblokiran di Selat Hormuz menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global saat ini. Kondisi ini sangat merugikan negara-negara dengan orientasi ekspor tinggi, termasuk Jerman dan Swiss yang bergantung pada jalur perdagangan laut.
Pemerintah Jerman tengah berkoordinasi intensif dengan para mitra internasional guna memulihkan kebebasan navigasi di jalur vital tersebut. Langkah ini dianggap mendesak demi menjamin kelancaran arus barang yang sempat terganggu akibat eskalasi militer di Timur Tengah.
Komitmen militer yang dipersiapkan Jerman mencakup poin-poin berikut:
- Kesiapan untuk mengirimkan kemampuan militer guna memulihkan jalur pelayaran di perairan internasional.
- Penyediaan dukungan operasional setelah seluruh prasyarat yang diperlukan terpenuhi.
- Pengerahan aset angkatan laut untuk memastikan keamanan kapal-kapal dagang yang melintas.
Pernyataan Merz ini muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan militer besar-besaran terhadap Iran. Meski menunda serangan, Trump tetap memerintahkan jajaran militer untuk bersiaga jika kesepakatan yang diinginkan tidak segera tercapai.
Langkah Strategis di Laut Mediterania
Sebagai langkah antisipasi, Jerman dikabarkan telah mulai menggerakkan aset angkatan lautnya ke wilayah Mediterania. Salah satu kapal penyapu ranjau bernama Fulda telah bertolak dari pangkalan laut Kiel-Wik sejak awal Mei 2026.
Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk memangkas waktu pengerahan jika operasi pembersihan Selat Hormuz dimulai. Jerman ingin memastikan tim mereka siap bergabung dalam misi internasional kapan pun dibutuhkan.
Ringkasan perkembangan situasi di Selat Hormuz:
| Aspek Penting | Detail Informasi |
|---|---|
| Status Militer AS | Siaga menyerang jika jalur diplomasi gagal mencapai kesepakatan. |
| Aksi Jerman | Mengirim kapal penyapu ranjau Fulda ke wilayah Mediterania. |
| Inisiatif Eropa | Prancis dan Inggris memimpin pembentukan koalisi keamanan laut. |
| Syarat Operasi | Pengerahan penuh bergantung pada berakhirnya permusuhan Iran-AS-Israel. |
Meskipun persiapan militer terus dimatangkan, keberhasilan operasi ini tetap sangat bergantung pada situasi geopolitik di lapangan. Keamanan Selat Hormuz menjadi prioritas utama bagi koalisi negara-negara Eropa guna menjaga stabilitas pasokan energi dan ekonomi dunia.
Hingga saat ini, Inggris dan Prancis tetap berada di barisan depan dalam menggalang kekuatan negara-negara yang peduli pada keamanan navigasi. Koalisi ini diharapkan mampu menjamin keamanan jalur pelayaran setelah masa konflik berakhir.