Iran Tuntut Hak Rakyat, Tegaskan Tak Lagi Percaya Janji AS Terbaru 2026

Iran Tuntut Hak Rakyat, Tegaskan Tak Lagi Percaya Janji AS Terbaru 2026
Foto: Iran Tuntut Hak Rakyat, Tegaskan Tak Lagi Percaya Janji AS Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan pernyataan tegas mengenai hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa Teheran tidak akan menyepakati perjanjian apa pun jika hak-hak rakyat Iran tidak terjamin sepenuhnya.

Dalam sidang parlemen virtual yang berlangsung pada Minggu (31/5/2026), Ghalibaf menegaskan bahwa pihaknya tidak lagi memercayai janji-janji manis dari pihak lawan. Baginya, Iran hanya akan menerima hasil kerja sama yang nyata dan terukur sebelum melangkah lebih jauh.

"Kami tidak menaruh kepercayaan pada kata-kata maupun janji musuh," tegas Ghalibaf tak lama setelah ia kembali terpilih sebagai ketua parlemen. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Iran tetap pada pendiriannya dalam menghadapi tekanan diplomatik global.

Ghalibaf juga menambahkan bahwa satu-satunya standar yang digunakan Iran saat ini adalah pencapaian konkret di lapangan. Teheran baru akan memenuhi komitmen mereka jika imbalan yang dijanjikan telah terealisasi dengan jelas.

Ketegangan Akibat Proposal Baru Washington

Ketegangan antara kedua negara kembali memuncak setelah muncul laporan bahwa Washington mengirimkan proposal perdamaian dengan syarat yang lebih ketat. Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump dikabarkan telah menyusun kerangka kerja baru untuk menekan Iran.

Meski rincian persyaratan tersebut belum dibuka ke publik, media Amerika melaporkan bahwa poin-poin di dalamnya jauh lebih berat dari sebelumnya. Langkah ini dipandang sebagai upaya Trump untuk mengoreksi kebijakan-kebijakan pemerintahan masa lalu yang dianggap lemah.

Donald Trump sendiri telah menetapkan beberapa poin krusial yang menjadi prioritas utamanya dalam kesepakatan mendatang. Fokus utama AS tetap pada penghentian total pengembangan senjata nuklir Iran serta stabilitas jalur perdagangan internasional.

Daftar poin utama yang diinginkan oleh Amerika Serikat dalam kesepakatan baru:

  • Mencegah Iran mengembangkan atau memiliki senjata nuklir secara permanen.
  • Menjamin pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai jalur logistik global yang aman.
  • Memperketat pengawasan terhadap pemanfaatan material nuklir milik Iran.
  • Memastikan penghancuran stok uranium yang telah diperkaya oleh Teheran.

Trump mengklaim dalam sebuah wawancara bahwa pihak Iran sebenarnya sudah menyetujui poin mengenai pelarangan senjata nuklir. Namun, proses negosiasi diperkirakan akan berlangsung alot dan memakan waktu lebih lama karena banyaknya perubahan syarat.

Tuntutan Balasan dari Pihak Teheran

Di sisi lain, Teheran merespons skeptis terhadap pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh Trump. Pihak Iran merasa ada ketidaksesuaian visi mengenai prioritas utama yang harus diselesaikan terlebih dahulu dalam meja perundingan.

Iran menuntut adanya tindakan nyata dari AS sebagai syarat awal untuk memulai pembicaraan yang lebih mendalam. Salah satu tuntutan utamanya adalah pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan oleh pihak asing.

Berikut adalah rincian tuntutan dan posisi tawar yang diajukan Iran saat ini:

Kategori Tuntutan Detail Persyaratan
Aset Keuangan Pelepasan aset beku senilai 12 miliar dollar AS (sekitar Rp213 triliun).
Isu Nuklir Menolak klaim AS terkait penghancuran seluruh uranium yang diperkaya.
Stabilitas Regional Melibatkan Lebanon dalam setiap upaya penyelesaian konflik dan perang.

Data di atas menunjukkan bahwa Iran menginginkan jaminan ekonomi terlebih dahulu sebelum membahas teknis program nuklir mereka. Mereka juga menganggap beberapa pernyataan Trump mengenai penghancuran material nuklir sebagai klaim yang tidak memiliki dasar kuat.

Selain masalah internal, Teheran bersikeras bahwa perdamaian di kawasan tidak bisa dicapai tanpa menyertakan Lebanon dalam diskusi. Hal ini tetap menjadi syarat mutlak meskipun situasi di medan tempur masih terus bergejolak hingga saat ini.

Ketegangan diplomatik ini memperlihatkan jurang perbedaan yang masih lebar antara kepentingan nasional Iran dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Publik kini menunggu apakah kedua negara mampu menemukan titik temu atau justru semakin terjebak dalam kebuntuan panjang.

Artikel terkait

Rekomendasi