TEHERAN, KOMPAS.com - Seorang sumber militer dari Iran menyatakan kepada media Rusia bahwa Teheran memiliki persenjataan mutakhir yang belum diuji maupun digunakan. Pernyataan ini dibuat untuk menunjukkan kesiapan Iran menghadapi potensi serangan dari Amerika Serikat (AS).
“Kami telah mengembangkan senjata modern di dalam negeri yang belum digunakan di medan tempur dan belum diuji cobakan,” ungkap pejabat itu kepada kantor berita RIA Novosti, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, Kamis (21/5/2026).
Baca juga: Iran Perluas Blokade Selat Hormuz, Kini Ambil Wilayah UEA
Selain itu, ia menegaskan bahwa Teheran siap sepenuhnya jika terjadi eskalasi dengan Washington. “Dalam hal peralatan dan kemampuan pertahanan, kami tidak kekurangan apa pun yang dapat menghalangi kami untuk mempertahankan negara kami,” tambahnya. “Kali ini, kami tidak berniat untuk bertindak dengan menahan diri,” lanjutnya lagi.
Baca juga: Iran Latih Warga Pakai Senjata, Jaga-jaga Perang Kembali Pecah
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan dalam pidato kenegaraan State of the Union pada Selasa (24/2/2026), mengenai pertemuan sebelumnya terkait rencana perang melawan Iran bersama tim keamanan nasionalnya pada Senin (18/5/2026) malam.
Dua pejabat AS menyebut kepada Axios bahwa pertemuan tersebut membahas berbagai opsi militer dan berlangsung beberapa jam setelah Trump memberitahu keputusan untuk menangguhkan serangan ke Iran yang direncanakan pada Selasa (19/5/2026). Fokus utama adalah langkah selanjutnya dalam konflik dengan Iran, status upaya-upaya diplomatik, dan berbagai rencana militer AS untuk menyerang Iran.
Baca juga: AS-Israel Beda Sikap soal Iran: Trump Mau Negosiasi, Netanyahu Ingin Lanjut Perang
Trump terus bersikeras bahwa Iran hanya punya waktu singkat untuk mencapai kesepakatan diplomatik. Akan tetapi, belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih mengenai hal ini.
Pengarahan mengenai rencana militer tersebut memperlihatkan bahwa Trump serius mempertimbangkan kelanjutan perang. Pejabat-pejabat yang ambil bagian dalam pertemuan tersebut termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, utusan Gedung Putih Steve Witkoff, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Lalu hadir juga Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Direktur CIA John Ratcliffe, serta sejumlah pejabat senior lainnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan informasi yang jernih, akurat, dan berimbang. Dukung jurnalisme yang berkualitas dan nikmati kemudahan membaca tanpa iklan melalui layanan Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang.
```