Iran Siagakan Warga Sipil Berlatih Senjata, Antisipasi Perang 2026 Pecah Lagi

Iran Siagakan Warga Sipil Berlatih Senjata, Antisipasi Perang 2026 Pecah Lagi
Foto: Iran Siagakan Warga Sipil Berlatih Senjata, Antisipasi Perang 2026 Pecah Lagi. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Pemerintah Iran semakin gencar mempertontonkan kekuatan militernya di hadapan publik sebagai respons atas ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ketegangan meningkat setelah Trump menyatakan potensi pecahnya perang jika jalur negosiasi menemui jalan buntu.

Di sudut-sudut kota Teheran, anggota Garda Revolusi Iran kini rutin memberikan pelatihan cara mengoperasikan senapan serbu jenis Kalashnikov kepada warga sipil. Pemandangan militeristik ini juga terlihat dalam berbagai acara publik, mulai dari parade kendaraan bersenjata mesin era Soviet hingga pemajangan rudal balistik di tengah prosesi pernikahan massal.

Masyarakat Diminta Siap Menghadapi Konflik

Seorang warga Teheran bernama Ali Mofidi mengungkapkan bahwa kesiapan warga sipil merupakan kebutuhan mendesak di tengah situasi yang tidak menentu. Menurut pria berusia 47 tahun tersebut, seluruh lapisan masyarakat harus mendapatkan pelatihan dasar militer.

Ia menekankan pentingnya kemampuan bela diri agar rakyat tidak gagap jika sewaktu-waktu konflik fisik benar-benar terjadi. Mofidi menegaskan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk mengetahui cara menggunakan senjata demi keamanan negara.

Seruan untuk memperkuat pertahanan nasional juga masif dilakukan melalui saluran televisi pemerintah dan kampanye pesan singkat. Pemerintah mendorong warga untuk bergabung dengan kelompok janfada, sebutan bagi para sukarelawan yang rela mengorbankan nyawa mereka demi tanah air.

Upaya mobilisasi masa yang dilakukan pemerintah Iran meliputi beberapa poin berikut:

  • Penyelenggaraan pelatihan penggunaan senjata api jenis senapan serbu di tempat umum.
  • Kampanye melalui media massa dan SMS untuk merekrut sukarelawan bela negara.
  • Pengerahan kelompok garis keras untuk mengajak remaja putra berusia mulai dari 12 tahun ikut menjaga pos pemeriksaan militer.
  • Pameran alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Langkah melibatkan anak-anak di bawah umur dalam aktivitas penjagaan militer memicu reaksi keras dari dunia internasional. Amnesty International mengecam tindakan tersebut dan melabelinya sebagai bentuk kejahatan perang.

Pelatihan Senjata Bagi Laki-laki dan Perempuan

Dalam sesi pelatihan yang digelar di Lapangan Hafte Tir, peserta pria dan wanita dipisahkan ke dalam kelompok yang berbeda untuk mempelajari teknik dasar. Instruktur dari pasukan Basij, Hadi Khoosheh, memimpin demonstrasi penggunaan senapan serbu lipat bergaya Kalashnikov kepada para warga.

Peserta yang berhasil menyelesaikan pelatihan singkat ini akan mendapatkan kartu identitas khusus bertanda "Janfada". Kartu tersebut menjadi bukti resmi bahwa mereka telah memiliki kemampuan dasar untuk membantu pertahanan negara dalam situasi darurat.

Berikut adalah rincian mengenai pelaksanaan pelatihan senjata bagi warga sipil di Teheran:

Kategori Keterangan Pelaksanaan
Lokasi Pelatihan Area publik seperti Lapangan Hafte Tir, Teheran.
Instruktur Anggota pasukan sukarelawan Basij (bawah Garda Revolusi).
Jenis Senjata Senapan serbu lipat bergaya Kalashnikov (AK).
Output Pelatihan Pemberian kartu identitas sukarelawan "Janfada".

Meski pelatihan ini bertujuan memperkuat pertahanan, teknis pelaksanaannya dinilai masih sangat sederhana dan memiliki risiko keamanan. Beberapa peserta dilaporkan kesulitan saat memasang magasin dan secara tidak sengaja mengarahkan moncong senjata ke arah orang lain di lokasi.

Kendati demikian, semangat warga seperti Mofidi tetap tinggi untuk membela kedaulatan negaranya. Ia menyatakan dengan tegas bahwa Iran tidak akan tinggal diam atau menyerah apabila Amerika Serikat memutuskan untuk melancarkan serangan militer.

Artikel terkait

Rekomendasi