Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) baru-baru ini mengeluarkan pernyataan tegas terkait pengawasan jalur komunikasi global di Selat Hormuz. Mereka berencana memberlakukan sistem izin bagi kabel serat optik bawah laut yang melintasi wilayah perairan tersebut.
Langkah ini memungkinkan Teheran untuk memungut biaya operasional dari konsorsium internasional yang mengelola kabel-kabel tersebut. Selain itu, Iran berambisi menawarkan jasa pemeliharaan sekaligus mewajibkan raksasa teknologi dunia untuk patuh pada regulasi lokal mereka.
Perusahaan besar seperti Google, Meta, Microsoft, dan Amazon diprediksi akan terkena dampak langsung dari kebijakan baru ini. Hal ini memicu diskusi mengenai stabilitas infrastruktur digital di salah satu jalur maritim paling strategis di dunia.
Daftar Kabel Penting yang Melintasi Selat Hormuz
Berikut adalah beberapa jalur kabel utama yang beroperasi di kawasan Selat Hormuz:
- Kabel AAE-1 (Asia, Afrika, Eropa): Infrastruktur besar yang menghubungkan banyak titik penting mulai dari Hong Kong hingga daratan Eropa seperti Italia dan Perancis.
- Kabel FALCON: Jalur yang menghubungkan negara-negara di kawasan Teluk, termasuk Iran, dengan wilayah India.
- Kabel Gulf Bridge: Jaringan transmisi data yang menghubungkan kawasan Teluk menuju Afrika bagian timur hingga ke Mesir.
Data yang mengalir melalui infrastruktur bawah laut ini mencakup segala bentuk komunikasi digital modern. Alan Mauldin, Direktur Riset di TeleGeography, menjelaskan bahwa semua jenis trafik mulai dari media sosial, email, hingga transaksi keuangan sensitif melintasi jalur ini.
Dampak Gangguan dan Alternatif Konektivitas
Meskipun ancaman ini terdengar serius, dampak terhadap gangguan data global diperkirakan masih bisa diminimalisir. Hal ini dikarenakan data yang mengalir antara Asia dan Eropa melalui jalur utama AAE-1 tidak sepenuhnya melewati cabang di wilayah Teluk.
Sebagian besar negara di kawasan Teluk juga telah memiliki opsi konektivitas cadangan yang cukup beragam. Namun, Mauldin memperingatkan bahwa jaringan darat mungkin tidak akan sanggup menampung beban trafik jika seluruh kabel bawah laut di Teluk terputus secara bersamaan.
Qatar menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap kebijakan ini karena posisinya sebagai tuan rumah terminal Teluk untuk AAE-1. Gangguan sekecil apa pun di jalur tersebut akan memberikan pengaruh signifikan terhadap stabilitas jaringan di negara itu.
Risiko Keamanan di Perairan Dangkal
Kondisi geografis Selat Hormuz yang relatif dangkal menjadikannya lokasi yang rawan terhadap tindakan sabotase atau gangguan teknis. Mantan perwira angkatan laut Perancis, Eric Lavault, menyebutkan bahwa wilayah ini sangat ideal untuk operasi gangguan, baik menggunakan sistem berawak maupun drone.
Lavault juga menyoroti tantangan yang dihadapi oleh pasukan internasional, termasuk Amerika Serikat, dalam mengamankan area tersebut. Dengan garis pantai yang sangat panjang, Iran dinilai memiliki posisi strategis untuk meluncurkan berbagai operasi militer atau teknis di sepanjang selat.
Potensi militer Iran yang masih sangat kuat di kawasan tersebut menjadi faktor utama yang sulit dibendung oleh pihak asing. Kondisi ini membuat kendali atas infrastruktur bawah laut menjadi isu kedaulatan sekaligus alat tawar politik yang kuat bagi Teheran.