Garda Revolusi Iran (IRGC) melontarkan peringatan keras bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi meluas secara global. Ancaman ini ditujukan kepada Amerika Serikat dan Israel jika kedua negara tersebut tetap melanjutkan agresi militer mereka.
Pernyataan resmi IRGC menyebutkan bahwa serangan balasan yang dahsyat akan menghancurkan lawan jika Iran kembali menjadi target. Skala perang regional kali ini dijanjikan bakal merembet jauh ke luar kawasan Timur Tengah.
Ketegangan Meningkat Setelah Ultimatum Trump
Situasi memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuka kemungkinan untuk menyerang Iran kembali dalam waktu dekat. Trump menegaskan serangan akan dilakukan jika kesepakatan damai tidak segera tercapai dalam hitungan hari.
Menanggapi hal tersebut, IRGC mengklaim bahwa mereka belum mengeluarkan seluruh kekuatan militernya yang sebenarnya. Padahal, pihak lawan disebut telah menggunakan sumber daya dari dua angkatan bersenjata termahal di dunia untuk menekan Iran.
Konflik yang telah berlangsung selama hampir 40 hari ini tercatat telah menewaskan sejumlah petinggi penting Iran. Salah satu kehilangan terbesar bagi Teheran adalah gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam rangkaian serangan tersebut.
Rencana jadwal potensi serangan baru yang sempat disinggung oleh Donald Trump:
- Menunggu hasil perundingan dalam jangka waktu dua hingga tiga hari ke depan.
- Kemungkinan serangan susulan akan dilakukan pada hari Jumat, Sabtu, atau Minggu.
- Batas waktu terakhir diprediksi jatuh pada awal pekan depan jika kesepakatan tetap buntu.
Meskipun memberikan tenggat waktu, Trump sempat menunda serangan atas permintaan dari para pemimpin negara-negara Teluk Arab. Ia mengaku mendapatkan permohonan untuk menahan diri di saat-saat terakhir sebelum aksi militer dilancarkan.
Warga Sipil Iran Mulai Pelatihan Militer
Kondisi di dalam negeri Iran kini penuh dengan persiapan perang, di mana warga sipil mulai belajar menggunakan senjata api. Pihak berwenang gencar mengadakan pelatihan dasar militer untuk menghadapi ancaman invasi dari pihak Amerika Serikat.
Di Lapangan Haft-e Tir, Teheran, prajurit IRGC terlihat memberikan instruksi mengenai penggunaan senapan serbu AK-47. Warga diajarkan cara merakit, membongkar, hingga mengenali berbagai jenis amunisi menggunakan alat peraga sederhana.
Pos-pos pelatihan militer kini tersebar luas di berbagai sudut kota Teheran untuk melayani masyarakat umum. Langkah ini merupakan strategi pemerintah dalam memperkuat pertahanan rakyat jika pertempuran besar benar-benar pecah kembali.
Beberapa poin penting terkait mobilisasi warga sipil di Iran saat ini:
- Partisipasi masyarakat dalam pelatihan senjata bersifat sukarela dan tanpa paksaan.
- Pelatihan diikuti oleh berbagai kalangan, baik laki-laki maupun perempuan dari beragam latar belakang sosial.
- Program ini telah berjalan selama lebih dari dua minggu sebagai respons atas situasi keamanan yang genting.
Nasser Sadeghi, seorang prajurit IRGC, menyatakan bahwa antusiasme masyarakat untuk membela negara sangat luar biasa. Sesi latihan ini dianggap krusial untuk membekali warga dengan kemampuan dasar pertahanan diri di tengah bayang-bayang konflik yang belum mereda.