Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas menyusul ancaman serius dari pihak Teheran. Iran menyatakan kesiapannya untuk menembus blokade angkatan laut AS jika negara paman sam tersebut melancarkan invasi jilid kedua.
Peringatan keras ini disampaikan langsung oleh Mohsen Rezaei, seorang penasihat senior untuk Pemimpin Revolusi Islam Iran. Ancaman tersebut muncul sebagai respons atas kemungkinan serangan lanjutan terhadap wilayah Republik Islam tersebut.
Konsekuensi Keluar dari Perjanjian Nuklir
Selain tindakan militer, Rezaei menegaskan bahwa Iran memiliki opsi diplomatik yang sangat radikal. Teheran mengancam akan menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir atau NPT jika agresi Amerika terus berlanjut.
Langkah keluar dari NPT dianggap sebagai peringatan terakhir bagi komunitas internasional. Rezaei mempertanyakan apakah Amerika Serikat siap menghadapi konsekuensi besar yang akan timbul jika Iran benar-benar meninggalkan perjanjian tersebut.
Beberapa poin krusial yang disampaikan oleh Mohsen Rezaei dalam peringatannya adalah sebagai berikut:
- Iran akan memberikan balasan yang sangat keras, menyakitkan, dan belum pernah terjadi sebelumnya jika AS memasuki wilayah Teluk Persia.
- Kekuatan militer Iran diklaim mampu mematahkan segala bentuk blokade angkatan laut yang diberlakukan terhadap kapal maupun pelabuhan mereka.
- Status keanggotaan Iran dalam NPT akan dipertaruhkan jika kedaulatan negara tersebut terus diganggu melalui aksi militer.
- Seluruh elemen pertahanan Iran saat ini dalam posisi siaga tinggi dengan istilah "jari berada di pelatuk" untuk menghadapi segala bentuk agresi.
Pernyataan ini menegaskan posisi tawar Iran yang tidak akan mundur dalam mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Rezaei juga mengingatkan Washington agar tidak melakukan tindakan gegabah yang ia istilahkan sebagai upaya "bunuh diri".
Status Program Nuklir Teheran
Dalam upacara peringatan para martir perang agresi AS-Israel pada hari Minggu tersebut, Rezaei kembali menekankan sifat program nuklir mereka. Ia menyatakan bahwa pengembangan energi nuklir Iran sepenuhnya bersifat damai dan transparan.
Sejauh ini, seluruh aktivitas nuklir Iran disebut tetap berada di bawah pengawasan ketat Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Hal ini dilakukan untuk membuktikan bahwa tidak ada ambisi militer di balik pengembangan teknologi tersebut.
Atas arahan Pemimpin Tertinggi, tim negosiasi Iran juga telah menyampaikan posisi mereka secara tegas dalam pembicaraan dengan pihak Amerika. Mereka bersumpah tidak akan pernah melepaskan hak nuklir yang dianggap sebagai hak dasar negara tersebut.
Mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ini menutup pernyatannya dengan menyoroti situasi sensitif di kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa Iran siap merespons segala bentuk ancaman dengan kekuatan penuh demi menjaga stabilitas nasional mereka.