Pemerintah Iran menegaskan bahwa hingga saat ini mereka belum memberikan komitmen resmi apa pun untuk menghentikan program nuklir nasionalnya. Pernyataan ini sekaligus memberikan hak penuh bagi Teheran untuk terus melanjutkan pengembangan teknologi nuklir mereka ke depannya.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, membantah klaim media Barat yang menyebut adanya kesepakatan penyerahan material nuklir dalam draf resolusi terbaru. Menurut media yang berafiliasi dengan IRGC tersebut, laporan yang beredar di luar tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
Fokus Perundingan Masih Terbatas pada Gencatan Senjata
Proses negosiasi terkait isu nuklir dikabarkan telah ditangguhkan secara resmi hingga situasi peperangan benar-benar berakhir. Saat ini, pembicaraan hanya difokuskan pada upaya penghentian konflik bersenjata tanpa menyentuh detail teknis program nuklir.
Draf kesepakatan yang ada saat ini murni membahas langkah-langkah untuk mengakhiri peperangan yang sedang berlangsung. Iran menegaskan bahwa tidak ada klausul yang mewajibkan mereka mengubah kebijakan nuklirnya dalam dokumen tersebut.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengungkapkan adanya peluang normalisasi jalur perdagangan di kawasan strategis. Jika nota kesepahaman disetujui, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz akan dipulihkan secara bertahap.
Proses pemulihan lalu lintas kapal ini ditargetkan kembali ke level sebelum perang dalam kurun waktu 30 hari. Namun, pihak IRGC menekankan bahwa status Selat Hormuz tidak akan sepenuhnya kembali seperti semula meskipun jumlah kapal bertambah.
Poin-Poin Utama dalam Potensi Kesepakatan :
- Pembukaan Blokade Laut: Amerika Serikat diwajibkan mencabut total blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran dalam waktu satu bulan.
- Pencairan Dana: Sebagian aset Iran yang selama ini dibekukan harus segera dilepaskan pada fase awal implementasi kesepakatan.
- Gencatan Senjata Menyeluruh: Kesepakatan ini direncanakan mencakup penghentian peperangan di semua lini, termasuk konflik yang terjadi di wilayah Lebanon.
Langkah-langkah di atas menjadi syarat krusial bagi Teheran untuk menyepakati draf yang sedang dirundingkan saat ini. Pemulihan ekonomi melalui akses pelabuhan dan pencairan dana menjadi prioritas utama bagi pemerintah Iran.
Upaya Diplomasi Regional
Ketegangan di Timur Tengah juga memicu keterlibatan aktif dari para pemimpin negara Arab lainnya. Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan telah melakukan komunikasi intensif dengan Donald Trump untuk membahas stabilitas kawasan.
Donald Trump sendiri mengeklaim bahwa negosiasi dengan Iran tengah berlangsung dan menunjukkan perkembangan menuju pembukaan kembali Selat Hormuz. Meskipun demikian, Iran tetap pada pendiriannya untuk tidak mencampuradukkan urusan nuklir dengan kesepakatan damai saat ini.
| Aspek Kesepakatan | Target Waktu / Ketentuan |
|---|---|
| Normalisasi Selat Hormuz | 30 Hari setelah kesepakatan tercapai |
| Blokade Pelabuhan AS | Wajib dicabut sepenuhnya dalam 30 hari |
| Program Nuklir Iran | Belum ada komitmen untuk penghentian |
| Cakupan Wilayah Damai | Seluruh lini termasuk wilayah Lebanon |
Tabel di atas merangkum beberapa poin krusial yang menjadi bahan pertimbangan dalam nota kesepahaman potensial antara pihak-pihak yang bertikai. Fokus utama tetap pada pemulihan stabilitas ekonomi dan keamanan di jalur perdagangan internasional.
Meskipun Amerika Serikat mengeklaim tujuan dari operasi "Epic Fury" telah tercapai, posisi Iran yang tetap teguh soal program nuklirnya menjadi tantangan tersendiri. Masa depan diplomasi ini akan sangat bergantung pada implementasi fase pertama kesepakatan tersebut.