Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah gencar mempromosikan praktik baik untuk menciptakan budaya sekolah yang aman dan nyaman. Salah satu inovasi menarik datang dari wilayah Tuban, Jawa Timur, yang memperkenalkan metode unik dalam menangani emosi siswa.
Dalam acara Sosialisasi dan Deklarasi Komitmen Penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Jakarta, UPT SDN Sokosari Tuban memamerkan alat bernama roda emosi. Inovasi ini dirancang khusus untuk membantu murid mengenali sekaligus mengelola perasaan mereka secara lebih sehat.
Mengenal Mekanisme Roda Emosi
Roda emosi merupakan sebuah alat berbentuk lingkaran yang berisi berbagai jenis perasaan manusia. Alat ini dilengkapi dengan jarum penunjuk layaknya jam untuk membantu siswa mengidentifikasi suasana hati mereka saat itu.
Endang Saptarina, perwakilan dari SDN Sokosari Tuban, menjelaskan bahwa setiap anak dibebaskan untuk merasakan emosi apa pun. Namun, poin utamanya adalah bagaimana para siswa tersebut mampu meregulasi emosi tersebut agar tidak berdampak negatif.
Langkah-langkah yang dilakukan sekolah dalam menggunakan roda emosi antara lain:
- Siswa diminta mengidentifikasi perasaan mereka, misalnya saat merasa sedih atau marah karena tidak dipinjami alat tulis oleh teman.
- Guru memberikan ruang bagi siswa untuk memutar roda sesuai dengan kondisi hati yang sedang dialami.
- Setelah emosi teridentifikasi, pendidik akan mengajarkan teknik menenangkan diri, salah satunya melalui latihan pernapasan.
- Proses ini kini telah menjadi pembiasaan rutin bagi seluruh siswa di lingkungan sekolah tersebut.
Penerapan metode ini bertujuan melatih kebijaksanaan anak dalam bertindak. Dengan mengenali rasa marah atau sedih, siswa diharapkan tidak langsung meluapkannya secara meledak-ledak kepada orang di sekitar mereka.
Dampak Positif bagi Siswa yang Mengalami Masalah Tantrum
Endang membagikan kisah sukses mengenai seorang siswa yang sebelumnya sering mengalami tantrum di sekolah. Setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata kemarahan anak tersebut bersumber dari masalah yang terjadi di lingkungan rumahnya.
Siswa tersebut kerap melampiaskan kekesalannya kepada teman sekelas hingga sempat merasa terisolasi dari pergaulan. Namun, melalui pendekatan roda emosi dan pendampingan yang intensif, perilaku anak tersebut perlahan mulai berubah menjadi lebih tenang.
Manfaat yang dirasakan oleh siswa dan lingkungan sekolah meliputi:
- Anak yang bersangkutan menjadi lebih kalem dan mampu menerima keadaan dengan lapang dada.
- Siswa tersebut kini memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola emosi pribadinya.
- Teman-teman di kelas diberikan pemahaman agar tidak salah sangka terhadap perilaku temannya yang sedang bermasalah.
- Terciptanya rasa saling memahami antar siswa sehingga lingkungan belajar kembali harmonis.
Metode ini terbukti efektif dalam memulihkan hubungan antar murid di sekolah. Edukasi tidak hanya diberikan kepada siswa yang bermasalah, tetapi juga kepada rekan-rekannya agar mereka bisa saling mendukung dan berempati.
Melalui inovasi sederhana seperti roda emosi, SDN Sokosari Tuban membuktikan bahwa kesehatan mental dan kecerdasan emosional sangat krusial dalam membentuk karakter. Praktik ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia demi mewujudkan ekosistem pendidikan yang lebih humanis.